Seminar ASAI, Teologi Kesehatan Pesantren; Rasionalitas Respon Pesantren terhadap Pandemi Covid-19

Asosisasi Studi Agama Indonesia pada tanggal 09 Desember 2020 telah mengadakan Seminar seri 1, dengan mengusung tema Teologi Kesehatan Pesantren; Rasionalitas Respon Pesantren terhadap Pandemi Covid-19. Berbagai pandangan mengenai covid-19, seperti mengatakan bahwa covid ini adalah sebuah musibah yang bisa menimpa siapa saja. Sehingga siapa pun yang mendapatkan musibah berarti harus sabar dalam menghadapi ujian tersebut dan Bersama-sama mencari sebuah solusi dalam menghadapi musibah tersebut. Adapun hal lainnya masih menganggap bahwa covid-19 ini sebuah konspirasi dari para golongan elit sana.

Lalu bagaimana mengenai rasionalitas respon pesantren terhadap pandemi covid-19, Dr. Ahmad Salehuddin sebagai narasumber memaparkan, bermula dari pesantren memiliki cara tersendiri yakni dengan perlindungan spiritual. Hal yang dimaksudkan dengan perlindungan spiritual yakni amalan-amalan yang dimiliki, seperti memperbanyak shalawat, bacaan alfatihah, memperbanyak istigfar dan lain sebagainya.

Para peserta dalam acara ini sangatlah mengapresiasi acara ini, diharapkan adanya keberlanjutan menganai kajian studi agama dalam hal lainnya. Sehingga harapan besarnya bahwa kajian studi agama dalam menjadi sebuah kajian lebih menarik dan banyak dipelajari khalayak umum. Pada akhir acara ditutup dengan pemaparan bahwa kebijakan apapun pemerintah harus mempertimbangkan rasionalitas komunitas tersebut.

Teologi Kesehatan Pesantren: Rasionalitas Respon Pesantren terhadap Pandemi COVID-19

Seminar seri 1

Pesantren memiliki cara-cara otentik untuk menghadapi pandemi Covid-19 yang berbeda dengan cara-cara yang diambil oleh komunitas kesehatan. Covid-19 merupakan makhluk Tuhan yang bekerja hanya atas perintah Tuhan. Oleh Karena itu, pesantren menerapkan cara-cara lahiriah dan batiniah sekaligus dalam menghadapi Covid-19. Cara-cara lahiriah dilakukan dengan menjalankan protokol kesehatan secara adaptif dan kontekstual, sementara cara batiniah dilakukan dengan praktik-praktik ritual melalui doa, sholat, dzikir dan membaca sholawat. Pandangan teologis yang berorientasi teosentris dan antroposentris ini memperlihatkan salah satu sisi moderasi pesantren.
Bagaimana selanjutnya? Dr. Ahmad Salehudin akan berbagi Hasil Penelitian “Teologi Kesehatan Pesantren: Rasionalitas Respon Pesantren terhadap Pandemi COVID-19” dalam Seminar#1 ASAI,
Hari: Rabu, 9 Desember 2020
Pukul: 19:00-21:00 WIB
ID: 832 0882 8435
Pasword: 401895
Ikutan yuk!

Isi Link Formulir Pendaftarannya ya:
https://forms.gle/oFcio3B6ZpdsdrGS9

Simposium Nasional ke-8 Studi Agama: Eksis dalam Kajian di Tengah Pandemi

Yogyakarta, Asosiasi Studi Agama Indonesia (ASAI) menggelar Simposium Nasional ke-8 Studi Agama dengan “Beragama di Tengah Pandemi”. Acara diselenggarakan secara virtual/online selama dua hari yakni pada tanggal 11-12 November 2020 setiap pukul 19:00-21:00 WIB. Selain menjadi agenda rutin tahunan, Simposium Asosisasi Studi Agama Indonesia juga mengikat kembali akademisi, peneliti dan pekerja sosial yang mempunyai fokus terhadap studi agama. Dalam sambutannya ketua ASAI Ahmad Muttaqin, M.Ag., M.A., Ph. D. menyampaikan “Walaupun di tengah pandemi, semoga kita masih bisa tetap eksis dalam kajian studi agama.” ASAI pun diharapkan menjadi wadah akademik di wilayah studi agama. Continue reading “Simposium Nasional ke-8 Studi Agama: Eksis dalam Kajian di Tengah Pandemi” →

Mengartikulasikan Kembali Riset SAA: Catatan Raker ASAI 2019-2024

Oleh: Muryana

Raker Pengurus ASAI tetap dilaksanakan meskipun masih dalam suasana pandemi Covid-19. Raker dilaksanakan secara online, dibagi dlam beberapa seri pleno, devisi, dan pleno lagi mulai tanggal 5 sampai dengan 25 Agustus 2020. Ada beberapa rumusan tentang Studi Agama-Agama dilahirkan dari acara ini. Riset merupakan salah satu agenda yang terus-menerus dibicarakan dalam setiap diskusi.

Pandemi COVID-19 yang tak kunjung usai merupakan tantangan masyarakat dunia saat ini. Ada banyak dampak yang ditimbulkan. Salah satunya adalah agenda RAKER Pengurus ASAI 2019-2024 yang telah disepakati dan disiapkan untuk tanggal 23-24 Maret 2020, harus diundur dalam waktu yang tak ditentukan. Akhirnya pengurus harian mengusulkan untuk diselenggarakan RAKER secara online, menggunakan platform yang biasa digunakan untuk rapat daring. Usulan itu pun disepakati untuk dilaksanakan oleh seluruh pengurus periode 2019-2024.

Continue reading “Mengartikulasikan Kembali Riset SAA: Catatan Raker ASAI 2019-2024” →

Online Workshop On Judaism: Penguatan Studi Agama-Agama Saat Pandemi

pelatihan

“Online Workshop on Judaism”, judul kegiatan bersama yang diselenggarakan oleh empat lembaga pada tanggal 6-9 Juli 2020. Workshop ini membincangkan Agama Yahudi dengan pembicara dari insider, Ulama Yahudi di Jerusalem dan peneliti, outsider Agama Yahudi di Indonesia. Sebuah workshop yang membangun harapan besar, bahwa setiap peserta yang terlibat berpartisipasi aktif dan mengembangkannya dalam kegiatan akademik.

Kerjasama berhasil dilakukan dengan komitmen bersama dan peran masing-masing lembaga. CRCS menginisiasi kegiatan workshop bersama ini dengan mengundang Rabbi David Rosen, the International Director of Interreligious Affairs, American Jewish Committee. ICRS sebagai panitia penyelenggara dalam kegiatan ini, mulai dari publikasi poster, menghubungi peserta, melakukan survei sebelum dan sesudah acara, menjadi tuan rumah (meeting host) hingga memberikan hak yang dijanjikan kepada peserta, yaitu sertifikat. Sementara itu, ASAI sebagai asosiasi studi agama mendorong para anggotanya di seluruh Indonesia untuk berpartisipasi aktif dalam acara dan mengembangkannya dalam studi agama selanjutnya. Dari ketiga lembaga ini pula, secara bergantian moderator berasal. Ada Dr. Zainal Abidin Bagir pada hari pertama, Dr. Mohammad Iqbal Ahnaf pada hari kedua, dan Dr. Leonard Chrysostomos E. pada hari ketiga serta Dr. Ahmad Salehudin pada hari terakhir. Acara ini juga didukung oleh Asia Pasific Institute.

Continue reading “Online Workshop On Judaism: Penguatan Studi Agama-Agama Saat Pandemi” →

Webinar Nasional; Peran Agama Dalam Meningkatkan Spiritualitas Masyrakat Di Masa Pandemi Covid-19 Menuju New Normal

webinar

Beberapa bulan terakhir dunia diguncang dengan adanya wabah covid-19, dengan penyebaran melalui virus-virus yang hingga saat ini belum ditemukannya obat atau vaksin dalam menyembuhkan wabah tersebut. Maka dalam hal sejalan dengan sedangnya pencarian vaksin guna menghilangkan wabah tersebut maka diterapkannya   oleh pemerintah yakni new normal.

New normal adalah kehidupan berjalan seperti biasanya namun ada hal-hal yang perlu diperhatikan seperti menjaga kebersiihan dan menaati protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah. Disamping mengenai kesehatan pun, spiritualitas masyarakat pun tetap harus berjalan. Bagaimana peningkatan spiritualitas dan agama berperan?  dalam hal ini Prodi Studi Agama-Agama UIN Sumatra Utara mengadakan webinar nasional yang bekerjasama dengan Asosiasi Studi Agama Indonesia (ASAI) dan HMJ Studi Agama-Agama UIN Sumatra Utara yang berjudul “Peran Agama Dalam Meningkatkan Spiritualitas Masyrakat Di Masa Pandemi Covid-19 Menuju New Normal.”

Kegiatan yang dilaksanankan Selasa, 23 Juni 2020 pada pukul 14:00-16:00, dengan beberapa narasumber yakni Dra. Husna Sari Siregar (Kaprodi SAA UIN Sumatra Utara), Prof Katimin (Dekan FUSI UIN Sumatra Utara), Prof Syahrin Harapa (Guru Besar Studi Agama UIN Sumatra Utara), Ahmad Muttaqin, M.Ag., M.A., PhD (Ketua ASAI dan Kaprodi S2 Studi Agama-Agama UIN Sunan Kalijaga), Pdt. Dr. Boimin Sirait (Dosen Agama Kristen Unimed) dan di moderator oleh Dr. H Indra Harapap (Sekprodi SAA UIN Sumatra Utara).

Bagi yang berkenang mengikuti acara bisa melakukan pendaftaran di dan narahubung 081268314152 / 081260164428 .

New Masjid Pasca Pandemik Covid-19

Alma’a Cinthya Hadi

alma

Beragam himbauan dan kebijakan diberlakukan pemerintah untuk merespon pandemik Corona Virus Disease atau yang biasa disebut COVID-19, mulai dari anjuran untuk melakukan social distancing (yang kemudian diubah menjadi physical distancing), work from home (kerja dari rumah), hingga pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Bagi mereka yang terpaksa beraktivitas di luar rumah diharuskan menggunakan masker, cuci tangan dengan sabun, dan rutin membersihkan badan jika sudah pulang ke rumah. Covid-19 telah memaksa orang untuk memulai kehidupan baru yang relatif berbeda dengan biasanya.

Masjid merupakan salah satu tempat yang secara langsung terdampak kebijakan PSBB. Masjid yang secara reguler menjadi tempat berkumpul untuk melaksanakan ibadah rentan menjadi tempat penularan Covid-19. Sifat kerentanan terhadap penularan Covid-19 di kerumunan ini yang kemudian memunculkan himbauan atau pelarangan untuk sementara waktu tidak melakukan salat jumat dan menggantinya dengan salat duhur, serta melaksanakan salat tarawih dan salat Iedul Fitri di rumah, sebagaimana dikeluarkan oleh Kementerian Agama, Muhammadiyah dan NU . Namun demikian, tidak serta merta himbauan yang dikeluarkan oleh Kemenag  RI dan dua ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut dipatuhi oleh semua umat Islam Indonesia, terutama yang berkaitan salat Jumat.

Masjid di Masa Pandemi

Mungkin sebagian besar umat Islam tidak pernah membayangkan jika pada satu waktu mereka tidak boleh berkumpul (beribadah) di masjid. Namun kenyataan itu harus dihadapi saat ini. Musababnya adalah  virus kecil bermahkota yang popular dengan sebutan Corona. Continue reading “New Masjid Pasca Pandemik Covid-19” →

Menyerukan Kembali Semangat Memayu Hayuning Bawono di Tengah Pandemi

Muhamad Fauzi Zakaria

fauzi

Memayu Hayuning Bawono adalah filosofi adiluhung masyarakat Jawa yang berarti “Mempercantik dunia yang cantik”. Istilah tersebut telah bersemayam dalam diri masyarakat Jawa sebagai puncak spiritual untuk tetap merawat harmoni antar manusia dengan manusia dan manusia dengan alam semesta.

Dalam arti lebih luas, Memayu Hayuning Bawono berarti sebuah jalan hidup (way of life) yang harus ditapaki oleh manusia untuk memperkuat kesalehan individu, hubungan sosial, dan sebagai wujud ungkapan syukur atas karunia yang diberikan Tuhan lewat penciptaan alam semesta dan seluruh kekayaan yang dikandungnya. Tiga dimensi antara individu, masyarakat, dan alam memiliki ketersinggungan yang saling mempengaruhi satu sama lain.

Manusia hidup di dunia tidak sendiri, ia bersanding dengan manusia lain yang memiliki hak setara untuk hidup dan mencari penghidupan di bumi. Upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan untuk hidup melibatkan tak hanya interaksi sosial antar manusia saja. Ia juga melibatkan alam semesta sebagai sumber penghidupan. Tak jarang aktivitas mempertahankan kehidupan manusia menemui berbagai rintangan mulai dari konflik antar sesama manusia hingga terjadinya bencana alam yang membuat manusia urung memenuhi kebutuhannya secara tuntas.

Continue reading “Menyerukan Kembali Semangat Memayu Hayuning Bawono di Tengah Pandemi” →

Islam dalam Keadilan Aristoteles

M. Khusnun Niam

M. Khusnun Niam

Aristoteles merupakan filosof yang lahir pada tahun 384 SM di daerah Macedonia, tepatnya di daerah Stagira. Pada umurnya yang ke 15, ia ditinggalkan ayahnya, kemudian diasuh oleh adik ayahnya yakni Proxenus. Setelah umurnya lebih dari 17 tahun, ia pergi ke Athena untuk mengikuti Akademi Plato. Disana ia menjadi murid Plato selama 20 tahun dan kemudian di angkat menjadi guru di Akademi Plato setelah meninggalnya Plato. Kemudian ia keluar dari Akademi Plato dan melakukan pengembaraannya selama 12 tahun. Dalam pengembaraan ini, Arsitoteles berhasil mendirikan beberapa Akademi. Selain itu, banyak karya yang ia hasilkan sebelum ia meninggal pada tahun 322 SM di Yunani, yakni di wilayah Kalkis.

Karya Aristoteles yang monumental ada 2 topik, yakni terkait politik dan etika. Namun, dalam tulisan ini, hanya akan menyinggung sekilas pemikiran etika yang dikembangkan oleh Aristoteles yang berbau keadilan dan tentunya pandangannya terhadap keadilan serta bagaimana konsep keadilan yang ditawarkan olehnya. Terkait dengan konsep keadilan yang dikembangkan oleh Aristoteles, Islam juga memiliki karakter yang serat dengan keadilan. Sehingga, perlu di dalami terkait Islam dalam keadialan Aristoteles.

Islam merupakan sebuah agama yang di dalamnya mengandung normativitas dan historisitas. Sebagai sebuah ajaran, artinya Islam sebagai agama berisikan keyakinan seseorang. Dalam hal ini, bisa dipahami bahwa Islam sebagai ajaran berkaitan erat dengan perihal peribadatan kepada sang Pencipta. Berbeda dengan hal tersebut, Islam sebagai sebuah Ilmu menekankan adanya suatu hal yang dapat dikaji dan tentunya untuk berbagai kepentingan. Sehingga, dalam memahami Islam tidak bisa terlepas dari 2 pendekatan ini, yakni normativitas dan historisitas yang difungsikan sebagai sudut pandang terhadap keislaman. Continue reading “Islam dalam Keadilan Aristoteles” →

Wabah COVID-19 dan Masa Depan Agama-Agama

Ahmad Salehudin

ahmad salehudin

COVID-19 secara dramatis telah berhasil memaksa semua agama untuk berubah. Masjidil Haram di Mekkah dan masjid Nabawi di Madinah yang merupakan dua masjid paling umat suci umat Islam di tutup. Pengarakan Ogoh-ogoh atau patung raksasa sehari sebelum Hari Raya Nyepi dan Festival Omed-Omedan (prosesi berciuman massal sesama remaja) sehari setelahnya ditiadakan (www.liputan6.com/regional/read/4210627), sedangkan upacara Melasti (penyucian diri) tetap dilaksanakan dengan mengikuti protocol COVID-19 (www.bbc.com/indonesia/indonesia-52001349). Misa Paskah yang biasanya dihadiri ribuan orang yang berjubel di lapangan Basilika Santo Petrus untuk kali pertama tanpa dihadiri umat. Paus Fransiskus memimpin misa Paskah secara virtual (https://www.kompas.com/global/read/2020/04/12). Hal yang sama juga dilakukan Umat Buddha dalam merayakan Hari Raya Waisak 2020 pada Kamis, 7 Mei 2020. Ibadah Puja Bakti Waisak dilakukan secara live streaming sehingga umat Buddha dapat mengikuti dari rumahnya masing-masing (https://tirto.id/merayakan-waisak-di-tengah-pandemi-covid-19-fni3).

Pada awal-awal mewabahnya, beberapa kelompok-kelompok keagamaan yang mendasarkan kepada keyakinannya berani menantang COVID-19. Sedikitnya ada dua hal yang menopangnya. Pertama, keyakinan mereka bahwa kuasa Tuhan tidak akan kalah dengan “kuasa” COVID-19. Keyakinan seperti ini dapat dilihat dari banyaknya himbauan yang berseliweran di WA group untuk tetap memenuhi tempat ibadah. Kedua, adanya keyakinan bahwa tidak boleh takut kepada selain Tuhan, karena hidup mati sudah ditentukanNya. Keyakinan seperti ini cenderung membuat mereka abai terhadap upaya-upaya preventif menghindari COVID-19. Ketiga, adanya worldviews kelompok keagamaan bahwa hidup di dunia hanya sementara, dan di akhirat selamanya. Sikap ini menjadikan COVID-19 bukan sebagai ancaman, tetapi sekedar “kemungkinan” untuk mengakhiri kehidupan di dunia yang memang sementara.

Sikap keberagamaan yang demikian cenderung tidak saja membahayakan diri sendiri dan kelompoknya, tetapi juga orang lain. Aktivitas keagamaan yang diselenggarakan menjadi salah satu episentrum penyebaran COVID-19. Lebih dari separuh dari jumlah kasus COVID-19 di Korea Selatan dikaitkan dengan Gereja Shincheonji Yesus (www.wartaekonomi.co.id/read276618). Ijtima Jemaah Tabligh di India, Malaysia, dan Gowa Indonesia menjadi episentrum penyebaran COVID-19 di India, Malaysia dan Indonesia (www.bbc.com/indonesia/dunia-52146929). Selain itu, Persidangan Sinode Tahunan Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) pada 26-29 Februari di Kota Bogor dan seminar keagamaan Gereja Bethel Indonesia (GBI) di Kabupaten Bandung Barat pada 3-5 Maret 2020 menjadi titik awal persebaran COVID-19 di Indonesia (https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-4953478). Tentu saja kita tidak boleh menutup mata bahwa episentrum COVID-19 bukan hanya hanya aktivitas keagamaan, tetapi juga aktivitas lainnya yang memungkinkan terjadinya kontak fisik. Continue reading “Wabah COVID-19 dan Masa Depan Agama-Agama” →