Dari Wèwèkas Sunda hingga Blue Justice: Empat Perspektif Membaca Krisis Ekologi dalam Simposium Nasional Studi Agama XIV


Bandung – 19 Agustus 2026, UIN Sunan Gunung Djati, Gedung Rektorat. Persoalan lingkungan tidak berhenti pada rusaknya hutan, tercemarnya laut, menyusutnya keanekaragaman hayati, atau perubahan iklim. Di balik kerusakan yang tampak secara fisik itu terdapat persoalan yang lebih mendasar: cara manusia memandang alam, bagaimana agama membentuk tanggung jawab terhadap kehidupan, siapa yang memperoleh manfaat dari pembangunan, dan siapa yang justru menanggung ongkos ekologisnya.

Persoalan-persoalan tersebut mengemuka dalam rangkaian Simposium Nasional Studi Agama XIV dan Konferensi Internasional yang diselenggarakan Asosiasi Studi Agama Indonesia (ASAI) bersama Program Studi Studi Agama-Agama UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 19–21 Agustus 2026. Mengusung tema “Religious Studies and Ecological Issues in the Nusantara Manuscript: Past Influence and Future Challenge”, forum ini mempertemukan perspektif Studi Agama-Agama dengan persoalan ekologi, manuskrip Nusantara, kearifan lokal, dan tantangan pembangunan kontemporer.

Di antara pembicaraan yang berkembang, empat pemikir menawarkan pintu masuk yang berbeda. Prof. Dr. H. Wawan Hernawan, M.Ag. mengajak melihat kembali kosmologi dan pesan ekologis dalam manuskrip Sunda lama. Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto, LPh. membedah problem ekologis melalui perdebatan filsafat lingkungan kontemporer. Dr. Budhy Munawar-Rachman membawa diskusi ke wilayah ekoteologi antaragama dan spiritualitas bumi. Sementara itu, Dr. Steve G. C. Gaspersz, M.Si., M.A. membawa persoalan tersebut ke konteks yang sangat konkret: pembangunan kepulauan Maluku, keadilan ekologis, dan kehidupan masyarakat laut-pulau. Keempatnya tercatat sebagai narasumber dalam agenda Simposium Nasional Studi Agama XIV.

Diskusi ini dipandu oleh Dr. Raden Roro Sri Rejeki Waluya Jati, MA. Latarbelakang keilmuan dari para narasumber menyajikan paradigma baru dalam memandang isu ekologi. Hal tersebut juga disambut dengan antusias oleh para partisipan seminar dengan tanggapan dan pertanyaan interaktif.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *