Bandung – 19 Agustus 2026, UIN Sunan Gunung Djati, Gedung Rektorat. Prof. Dr. H. Wawan Hernawan, M.Ag. membuka ruang pembacaan terhadap hubungan agama dan ekologi melalui khazanah manuskrip Sunda lama. Ia memaparkan topik seputar “Wèwèkas, Kosmologi, dan Ekologi Sakral: Kajian Eko-Teologi atas Manuskrip Sunda Lama.” Dalam presentasinya, Prof. Wawan menempatkan krisis ekologis bukan hanya sebagai persoalan teknis, melainkan juga persoalan spiritual, moral, dan kultural.
Ia membaca sejumlah naskah, antara lain Sewaka Darma, Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian, Amanat Galunggung, serta Wèwèkas dan Ipat-ipat yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Djati. Dari sajian korpus tersebut, alam tidak tampil semata-mata sebagai sumber daya yang tersedia untuk dikuasai manusia. Hutan, air, gunung, kabuyutan, dan ruang kehidupan ditempatkan dalam tatanan kosmologis yang memiliki nilai moral sekaligus kesakralan.
Kerangka yang ditawarkan adalah mempertemukan Tuhan, kosmos, manusia, dan etika. Manusia dipahami sebagai penjaga yang memiliki tanggung jawab mempertahankan keseimbangan kehidupan. Dalam pembacaan ini, konsep seperti Tri Tangtu, Dasa Kreta, kabuyutan, parahyangan, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap tatanan kehidupan dapat dibaca kembali sebagai sumber etika ekologis.
Pada bagian sintesis materi, pesan manuskrip tersebut dipertemukan dengan konsep-konsep ekologis dalam tradisi agama lain: khalifah dan mīzān dalam Islam, stewardship dan creation care dalam kekristenan, serta dharma, ṛta, dan ahimsa dalam tradisi Hindu-Buddha. Titik temunya adalah pandangan bahwa pemeliharaan bumi tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab spiritual manusia. Salah satu konsep dalam materi Prof. Wawan bahkan menjelaskan bahwa, merawat alam bukan semata kewajiban ekologis, tetapi bagian dari pengabdian kepada Sang Pencipta.
Pembacaan seperti ini bukan wilayah baru dalam perjalanan akademik beliau. Ia merupakan Guru Besar Ilmu Sejarah Peradaban Islam di Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan dalam forum ini juga hadir sebagai bagian dari Dewan Penasihat ASAI. Penelitiannya selama beberapa tahun memperlihatkan perhatian kuat terhadap sejarah Islam, manuskrip, kearifan Sunda, dan proses perjumpaan Islam dengan budaya lokal.
Pada 2021, bersama Irma Riyani, Ph.D dan Dr. Busro, M.Ag, ia menerbitkan penelitian tentang pesan moderasi beragama dalam Naskah Wawacan Babad Walangsungsang di HTS Teologiese Studies/Theological Studies. Pada 2024, Prof. Wawan kembali memasuki wilayah manuskrip melalui artikel “Exploring Wèwèkas and Ipat-Ipat attributed to Sunan Gunung Djati: Insights from the Sajarah Peteng Manuscript” di Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya. Kajian itu menggunakan kerja filologis berupa inventarisasi, deskripsi, transliterasi, dan pembacaan teks untuk menggali pesan-pesan Wèwèkas dan Ipat-ipat.
Karena itu, ketika beliau menjelaskan hal tentang Wèwèkas ke dalam percakapan ekoteologi, hal tersebut bukan sekadar usaha mencari “pesan hijau” dari masa lalu. Ia mengusulkan agar warisan intelektual lokal kembali ditempatkan sebagai sumber pengetahuan dalam menghadapi persoalan kontemporer.
