Simposium Nasional Studi Agama ke-14 dan Konferensi Internasional ASAI Mendorong Penguatan Dialog Akademik Agama, Ekologi, dan Khazanah Manuskrip Nusantara


 

Bandung –Simposium Nasional Studi Agama XIV dan International Conference ASAI resmi dibuka pada Rabu, 19 Agustus 2026 oleh Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pembukaan kegiatan berlangsung di Gedung Bodas Kampus 2 UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan menjadi awal dari rangkaian kegiatan yang dilaksanakan pada 19–21 Agustus 2026.

Simposium Nasional Studi Agama XIV mengangkat tema “Religious Studies and Ecological Issues in the Nusantara Manuscript: Past Influence and Future Challenge.” Tema ini menempatkan isu agama, ekologi, dan manuskrip Nusantara sebagai ruang kajian bersama untuk membaca kembali pengetahuan masa lalu sekaligus merespons berbagai tantangan ekologis pada masa kini.

Rangkaian pembukaan diawali dengan doa bersama. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Panitia, Dr. Ilim Abdul Halim, M.A., Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. Wahyudin Darmalaksana, M.Ag., serta Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag.

Simposium ini diikuti peserta dari berbagai daerah dan latar belakang kelembagaan. Peserta berasal dari perguruan tinggi, lembaga akademik, lembaga keagamaan, serta berbagai kelompok yang memiliki perhatian terhadap perkembangan studi agama. Sekitar 70 presenter turut ambil bagian dalam forum ilmiah ini. Sejumlah guru besar, profesor, akademisi, dan peneliti dalam bidang religious studies juga hadir dan berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan.

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung berharap simposium ini tidak hanya menjadi ruang pertemuan akademik, tetapi juga mampu melahirkan berbagai gagasan baru bagi perkembangan studi agama.

“Acara ini diharapkan melahirkan konsep-konsep dan ide-ide baru yang berkaitan dengan religious studies,” ungkap Prof. Dr. Wahyudin Darmalaksana, M.Ag.

Sementara itu, Rektor UIN

Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., menyoroti relevansi ekoteologi dan manuskrip Nusantara sebagai salah satu isu penting dalam kajian agama kontemporer. Menurutnya, manuskrip dapat menjadi pintu masuk untuk membaca kembali bagaimana masyarakat pada masa lalu memahami hubungan antara agama, manusia, dan lingkungan.

“Isu dengan tema ekoteologi dengan landasan manuskrip adalah sebuah isu yang menarik. Kita dapat menelaah kembali peradaban dahulu yang menjelaskan tentang isu ekologi, kemudian mengelaborasinya dengan pemikiran serta isu terkini,” ujar Prof. Rosihon dalam sambutan pembukaan.

Ia juga menekankan bahwa pembahasan mengenai agama dan ekologi tidak cukup berhenti pada wilayah teoritis. Kajian akademik perlu diarahkan agar memiliki relevansi dan memberi kontribusi nyata terhadap persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat saat ini.

“Saya berharap pembahasan ini dalam wadah studi agama tidak hanya berhenti pada landasan teoritis, tetapi juga harus memiliki praktik nyata,” tambahnya.

Melalui Simposium Nasional Studi Agama XIV dan Konferensi Internasional ini, ASAI mendorong penguatan dialog akademik mengenai keterhubungan agama, ekologi, dan khazanah manuskrip Nusantara. Forum ini sekaligus menjadi ruang bagi akademisi, peneliti, dan pegiat studi agama untuk bertukar gagasan serta merumuskan perspektif baru dalam menjawab persoalan ekologis melalui pendekatan religious studies. (Bung Arif)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *