Alma’a Cinthya Hadi

Beragam himbauan dan kebijakan diberlakukan pemerintah untuk merespon pandemik Corona Virus Disease atau yang biasa disebut COVID-19, mulai dari anjuran untuk melakukan social distancing (yang kemudian diubah menjadi physical distancing), work from home (kerja dari rumah), hingga pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Bagi mereka yang terpaksa beraktivitas di luar rumah diharuskan menggunakan masker, cuci tangan dengan sabun, dan rutin membersihkan badan jika sudah pulang ke rumah. Covid-19 telah memaksa orang untuk memulai kehidupan baru yang relatif berbeda dengan biasanya.
Masjid merupakan salah satu tempat yang secara langsung terdampak kebijakan PSBB. Masjid yang secara reguler menjadi tempat berkumpul untuk melaksanakan ibadah rentan menjadi tempat penularan Covid-19. Sifat kerentanan terhadap penularan Covid-19 di kerumunan ini yang kemudian memunculkan himbauan atau pelarangan untuk sementara waktu tidak melakukan salat jumat dan menggantinya dengan salat duhur, serta melaksanakan salat tarawih dan salat Iedul Fitri di rumah, sebagaimana dikeluarkan oleh Kementerian Agama, Muhammadiyah dan NU . Namun demikian, tidak serta merta himbauan yang dikeluarkan oleh Kemenag RI dan dua ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut dipatuhi oleh semua umat Islam Indonesia, terutama yang berkaitan salat Jumat.
Masjid di Masa Pandemi
Mungkin sebagian besar umat Islam tidak pernah membayangkan jika pada satu waktu mereka tidak boleh berkumpul (beribadah) di masjid. Namun kenyataan itu harus dihadapi saat ini. Musababnya adalah virus kecil bermahkota yang popular dengan sebutan Corona. Continue reading “New Masjid Pasca Pandemik Covid-19”



Betapa ringkih manusia itu. Kesombongan dan kepongahan yang selama ini dipamerkan dalam mengatur dan mengeksploitasi alam sedang kena batunya.
Tulisan ini hendak menyatakan bahwa Covid-19 (Coronavirus disease 2019) menjadi salah satu faktor dominan yang dapat merubah tatapola dan bangunan sendi kehidupan masyarakat dunia (global). Sehingga, tulisan ini ingin menguatkan argumentasi di atas, dengan menggambarkan peta perubahan masyarakat akibat pengaruh Virus. Dan gambaran realitas perubahan tatapola dan bangunan sendi kehidupan masyarakat karena Covid-19, saya sebut dengan istilah “SosioViruslogi”. Jadi SosioViruslogi adalah sebuah situasi (teori) sosial yang menyatakan bahwa virus (mikroba) dapat menjadi penentu utama dari perubahan sosial di masyarakat.