Betapa ringkih manusia itu. Kesombongan dan kepongahan yang selama ini dipamerkan dalam mengatur dan mengeksploitasi alam sedang kena batunya.
Berbagai cara, dari yang berbasis ilmu pengetahuan (sains) hingga spiritual (agama), dilakukan untuk menanggulangi Virus Corona Baru ini. Dunia kesehatan berada di garda depan memberi pertolongan dan pengobatan para pasien dan berlomba mencari vaksin untuk penangkal virus tersebut. Dunia ekosos (ekonomi dan sosial) bekerja keras meminimalisir dampak pandemik yang telah memporak-porandakan sektor industri, perdagangan barang dan jasa serta kehidupan sosial. Sedangkan dunia agama turut berlomba menyediakan kekuatan rohani melalui doa dan ritual-ritual “pelipur lara.”
Banyak yang mempertanyakan Virus Corona Baru dengan nama SARS CoV-2 yang menjadi penyebab Covid-19 (Corona virus deseas tahun 2019) ini murni proses alam atau rekayasa manusia. Para pendukung teori konspirasi cenderung melihat virus ini sengaja dibuat di sebuah lab untuk kepentingan tertentu: bisa senjata biologis atau kepentingan bisnis vaksin dan obat. Tulisan ini tidak akan mengulas pro-kontra asal usul virus tersebut, namun mencermati kadar “nalar sains dan nalar agama” dari beragam respon yang telah dilakukan oleh berbagai pihak dalam menanggulangi pendemi Covid-19.
Di tengah belum pastinya asal usul virus dan belum ditemukannya vaksin dan obat Covid-19, idealnya pandemik ini disikapi dengan perpaduan antara pendekatan sains (ilmu pengetahuan dan teknologi) plus agama. Sains dan teknologi digunakan sebagai ikhtiar untuk mencegah, mengobati dan menanggulangi dampak Covid-19 secara fisik, dan agama digunakan untuk memberi asupan rohaniah agar manusia tetap tabah dan kuat secara spiritual.
Continue reading “Pseudoscience & Pseudoreligion di Tengah Wabah”
