Online Workshop On Judaism: Penguatan Studi Agama-Agama Saat Pandemi

pelatihan

“Online Workshop on Judaism”, judul kegiatan bersama yang diselenggarakan oleh empat lembaga pada tanggal 6-9 Juli 2020. Workshop ini membincangkan Agama Yahudi dengan pembicara dari insider, Ulama Yahudi di Jerusalem dan peneliti, outsider Agama Yahudi di Indonesia. Sebuah workshop yang membangun harapan besar, bahwa setiap peserta yang terlibat berpartisipasi aktif dan mengembangkannya dalam kegiatan akademik.

Kerjasama berhasil dilakukan dengan komitmen bersama dan peran masing-masing lembaga. CRCS menginisiasi kegiatan workshop bersama ini dengan mengundang Rabbi David Rosen, the International Director of Interreligious Affairs, American Jewish Committee. ICRS sebagai panitia penyelenggara dalam kegiatan ini, mulai dari publikasi poster, menghubungi peserta, melakukan survei sebelum dan sesudah acara, menjadi tuan rumah (meeting host) hingga memberikan hak yang dijanjikan kepada peserta, yaitu sertifikat. Sementara itu, ASAI sebagai asosiasi studi agama mendorong para anggotanya di seluruh Indonesia untuk berpartisipasi aktif dalam acara dan mengembangkannya dalam studi agama selanjutnya. Dari ketiga lembaga ini pula, secara bergantian moderator berasal. Ada Dr. Zainal Abidin Bagir pada hari pertama, Dr. Mohammad Iqbal Ahnaf pada hari kedua, dan Dr. Leonard Chrysostomos E. pada hari ketiga serta Dr. Ahmad Salehudin pada hari terakhir. Acara ini juga didukung oleh Asia Pasific Institute.

Continue reading “Online Workshop On Judaism: Penguatan Studi Agama-Agama Saat Pandemi” →

Webinar Nasional; Peran Agama Dalam Meningkatkan Spiritualitas Masyrakat Di Masa Pandemi Covid-19 Menuju New Normal

webinar

Beberapa bulan terakhir dunia diguncang dengan adanya wabah covid-19, dengan penyebaran melalui virus-virus yang hingga saat ini belum ditemukannya obat atau vaksin dalam menyembuhkan wabah tersebut. Maka dalam hal sejalan dengan sedangnya pencarian vaksin guna menghilangkan wabah tersebut maka diterapkannya   oleh pemerintah yakni new normal.

New normal adalah kehidupan berjalan seperti biasanya namun ada hal-hal yang perlu diperhatikan seperti menjaga kebersiihan dan menaati protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah. Disamping mengenai kesehatan pun, spiritualitas masyarakat pun tetap harus berjalan. Bagaimana peningkatan spiritualitas dan agama berperan?  dalam hal ini Prodi Studi Agama-Agama UIN Sumatra Utara mengadakan webinar nasional yang bekerjasama dengan Asosiasi Studi Agama Indonesia (ASAI) dan HMJ Studi Agama-Agama UIN Sumatra Utara yang berjudul “Peran Agama Dalam Meningkatkan Spiritualitas Masyrakat Di Masa Pandemi Covid-19 Menuju New Normal.”

Kegiatan yang dilaksanankan Selasa, 23 Juni 2020 pada pukul 14:00-16:00, dengan beberapa narasumber yakni Dra. Husna Sari Siregar (Kaprodi SAA UIN Sumatra Utara), Prof Katimin (Dekan FUSI UIN Sumatra Utara), Prof Syahrin Harapa (Guru Besar Studi Agama UIN Sumatra Utara), Ahmad Muttaqin, M.Ag., M.A., PhD (Ketua ASAI dan Kaprodi S2 Studi Agama-Agama UIN Sunan Kalijaga), Pdt. Dr. Boimin Sirait (Dosen Agama Kristen Unimed) dan di moderator oleh Dr. H Indra Harapap (Sekprodi SAA UIN Sumatra Utara).

Bagi yang berkenang mengikuti acara bisa melakukan pendaftaran di dan narahubung 081268314152 / 081260164428 .

New Masjid Pasca Pandemik Covid-19

Alma’a Cinthya Hadi

alma

Beragam himbauan dan kebijakan diberlakukan pemerintah untuk merespon pandemik Corona Virus Disease atau yang biasa disebut COVID-19, mulai dari anjuran untuk melakukan social distancing (yang kemudian diubah menjadi physical distancing), work from home (kerja dari rumah), hingga pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Bagi mereka yang terpaksa beraktivitas di luar rumah diharuskan menggunakan masker, cuci tangan dengan sabun, dan rutin membersihkan badan jika sudah pulang ke rumah. Covid-19 telah memaksa orang untuk memulai kehidupan baru yang relatif berbeda dengan biasanya.

Masjid merupakan salah satu tempat yang secara langsung terdampak kebijakan PSBB. Masjid yang secara reguler menjadi tempat berkumpul untuk melaksanakan ibadah rentan menjadi tempat penularan Covid-19. Sifat kerentanan terhadap penularan Covid-19 di kerumunan ini yang kemudian memunculkan himbauan atau pelarangan untuk sementara waktu tidak melakukan salat jumat dan menggantinya dengan salat duhur, serta melaksanakan salat tarawih dan salat Iedul Fitri di rumah, sebagaimana dikeluarkan oleh Kementerian Agama, Muhammadiyah dan NU . Namun demikian, tidak serta merta himbauan yang dikeluarkan oleh Kemenag  RI dan dua ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut dipatuhi oleh semua umat Islam Indonesia, terutama yang berkaitan salat Jumat.

Masjid di Masa Pandemi

Mungkin sebagian besar umat Islam tidak pernah membayangkan jika pada satu waktu mereka tidak boleh berkumpul (beribadah) di masjid. Namun kenyataan itu harus dihadapi saat ini. Musababnya adalah  virus kecil bermahkota yang popular dengan sebutan Corona. Continue reading “New Masjid Pasca Pandemik Covid-19” →

Wabah COVID-19 dan Masa Depan Agama-Agama

Ahmad Salehudin

ahmad salehudin

COVID-19 secara dramatis telah berhasil memaksa semua agama untuk berubah. Masjidil Haram di Mekkah dan masjid Nabawi di Madinah yang merupakan dua masjid paling umat suci umat Islam di tutup. Pengarakan Ogoh-ogoh atau patung raksasa sehari sebelum Hari Raya Nyepi dan Festival Omed-Omedan (prosesi berciuman massal sesama remaja) sehari setelahnya ditiadakan (www.liputan6.com/regional/read/4210627), sedangkan upacara Melasti (penyucian diri) tetap dilaksanakan dengan mengikuti protocol COVID-19 (www.bbc.com/indonesia/indonesia-52001349). Misa Paskah yang biasanya dihadiri ribuan orang yang berjubel di lapangan Basilika Santo Petrus untuk kali pertama tanpa dihadiri umat. Paus Fransiskus memimpin misa Paskah secara virtual (https://www.kompas.com/global/read/2020/04/12). Hal yang sama juga dilakukan Umat Buddha dalam merayakan Hari Raya Waisak 2020 pada Kamis, 7 Mei 2020. Ibadah Puja Bakti Waisak dilakukan secara live streaming sehingga umat Buddha dapat mengikuti dari rumahnya masing-masing (https://tirto.id/merayakan-waisak-di-tengah-pandemi-covid-19-fni3).

Pada awal-awal mewabahnya, beberapa kelompok-kelompok keagamaan yang mendasarkan kepada keyakinannya berani menantang COVID-19. Sedikitnya ada dua hal yang menopangnya. Pertama, keyakinan mereka bahwa kuasa Tuhan tidak akan kalah dengan “kuasa” COVID-19. Keyakinan seperti ini dapat dilihat dari banyaknya himbauan yang berseliweran di WA group untuk tetap memenuhi tempat ibadah. Kedua, adanya keyakinan bahwa tidak boleh takut kepada selain Tuhan, karena hidup mati sudah ditentukanNya. Keyakinan seperti ini cenderung membuat mereka abai terhadap upaya-upaya preventif menghindari COVID-19. Ketiga, adanya worldviews kelompok keagamaan bahwa hidup di dunia hanya sementara, dan di akhirat selamanya. Sikap ini menjadikan COVID-19 bukan sebagai ancaman, tetapi sekedar “kemungkinan” untuk mengakhiri kehidupan di dunia yang memang sementara.

Sikap keberagamaan yang demikian cenderung tidak saja membahayakan diri sendiri dan kelompoknya, tetapi juga orang lain. Aktivitas keagamaan yang diselenggarakan menjadi salah satu episentrum penyebaran COVID-19. Lebih dari separuh dari jumlah kasus COVID-19 di Korea Selatan dikaitkan dengan Gereja Shincheonji Yesus (www.wartaekonomi.co.id/read276618). Ijtima Jemaah Tabligh di India, Malaysia, dan Gowa Indonesia menjadi episentrum penyebaran COVID-19 di India, Malaysia dan Indonesia (www.bbc.com/indonesia/dunia-52146929). Selain itu, Persidangan Sinode Tahunan Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) pada 26-29 Februari di Kota Bogor dan seminar keagamaan Gereja Bethel Indonesia (GBI) di Kabupaten Bandung Barat pada 3-5 Maret 2020 menjadi titik awal persebaran COVID-19 di Indonesia (https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-4953478). Tentu saja kita tidak boleh menutup mata bahwa episentrum COVID-19 bukan hanya hanya aktivitas keagamaan, tetapi juga aktivitas lainnya yang memungkinkan terjadinya kontak fisik. Continue reading “Wabah COVID-19 dan Masa Depan Agama-Agama” →

Studi Agama & Nalar Keragaman di Indonesia (2)

Ustadi Hamsah

(Bagian kedua dari dua tulisan)

Dalam konteks akademis, umat Islam telah memiliki institusi-institusi yang telah memberikan sumbangan yang luar biasa bagi terciptanya harmonitas, sayuk-rukun, dan gotong-royong bagi bangsa Indonesia, salah satunya adalah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dan Universitas Islam Negeri (UIN) yang tersebar di wilayah-wilayah Indonesia. Di institusi ini studi terhadap keragaman baik agama dan sosial-budaya lainnya mendapatkan tempat yang proporsional yakni Program Studi Studi Agama-Agama (Prodi SAA, dahulu bernama Perbandingan Agama). Kajian mengenai berbagai persoalan yang terkait dengan berbagai keragaman dan resolusi konflik dilakukan di Prodi SAA ini. Dengan menekankan pada kedalaman metodologis dan ketajaman analisis lintas disiplin, Studi Agama-Agama melihat berbagai persoalan dengan sudut pandang yang sangat beragam dari perspektif ilmu-ilmu sosial dan humaniora serta teks-teks keagamaan dan keislaman secara holistik.

Studi Agama dan Multikulturalisme

Mengapa Studi Agama-Agama begitu penting dalam menjelaskan nalar logis keragaman di Indonesia? Jawaban singkatnya tentu karena di SAA dikaji berbagai wacana keagamaan, keislaman, dan keindonesiaan dalam perspektif yang komprehensif, holistik, objektif, dan lintas disiplin ilmu. Tentu bukan hanya itu jawabannya, namun terdapat persoalan yang lebih teoritis yang dijelaskan dalam SAA. Salah satu hal yang dijelaskan, dan ini bidang garap SAA, adalah kenyataan bahwa seluruh tindakan manusia bukan lahir dari “kesadaran kosong”, namun berangkat dari sebuah “gagasan” yang mengendap dalam kesadaran yang disebut Foucault dengan episteme (Michel Foucault, The Archeology of Knowledge, 1972). Salah satu kesadaran yang paling kuat mempengaruhi sikap dan tindakan manusia menurut Peter L. Beger adalah kesadaran agama (Peter L. Berger & Thomas Luckmann, The Social Construction of Reality, 1991). Oleh karena itu, penjelasan mesti di mulai dari sini. Nah, SAA dengan kajian Filsafat Agama, Sosiologi Agama, Fenomenologi Agama, Psikologi Agama, Sejarah Agama, dan Antropologi Agama, serta Kajian al-Qur’an dan Hadis berusaha menggali akar-akar tindakan manusia tersebut dengan pendekatan spesifik masing-masing.

Continue reading “Studi Agama & Nalar Keragaman di Indonesia (2)” →

Perubahan Lanskap Keberagamaan Pasca Covid-19: Apa yang Dapat Studi Agama-Agama Lakukan?

Ahmad Muttaqin

Mencermati hiruk pikuk dan beragam respon masyarakat agama dalam menghadapi pandemi memunculkan pertanyaan: perubahan lanskap kehidupan keagamaam seperti apa yg akan terjadi pasca pandemi? Apa yang perlu dilakukan untuk memperpendek jurang pemisah antara nalar agama dan nalar sains di masyarakat agar umat beragama cerdas dalam menghadapai wabah dan peristiwa alam lainnya sehingga agama selalu shaalihun fii kulli makaan wa zamaan (sesuai dengan ruang dan waktu)? Apa yang dapat Studi Agama-Agama lakukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut?

___________________________

Midle East Forbes edisi April 2020 menurunkan tulisan Khuloud Al Omian berjudul “Are we witnessing the awakening of a New World Order” yang membuat 10 daftar isu prediksi perubahan tata dunia baru. Diantara 10 isu tersebut adalah pergeseran poros kukuatan global, otomatisasi infrastruktur produksi, penurunan sektor bisnis travel, perubahan sistem dan pola pendidikan, kehidupan sosial, kesehatan, dan lingkungan hidup. Dari 10 poin yang dibuat Al Omian tersebut ternyata tidak satupuan menelaah kemungkinan perubahan dalam bidang agama dan spiritualitas.

Biju Dominic  dalam “Will Covid-19 weaken the base of organized religions?” menyatakan bahwa bencana dan musibah dapat mempengaruhi perubahan perilaku keberagamaan masyarakat baik secara positif maupun negative. Sebagai contoh, runtuhnya gedung WTC di New York mendorong masyarakat Amerika semakin “religious”. Hal ini berdasar trend meningkatnya warga yang memandang penting agama dalam kehidupan sehari-hari mereka sejak peristiwa 9/11 tersebut. Menurut data Gallup Research, sejak tahun 1960 masyarakat Amerika Serikat yang mengganggap agama itu penting dalam kehidupannya tidak lebih dari 40%. Namun, angka itu melonjak menjadi 70% sejak peristiwa 9/11. Sebaliknya, wabah penyakit pes abad 14 yang melanda Eropa menjadi penyebab makin redupnya peran hirarki gereja di Eropa. Awalnya, para pimpinan gereja waktu itu menyebut bahwa wabah penyakit itu bentuk hukuman Tuhan untuk para pendosa. Karena itu agar terhindar dari wabah tersebut, harus bertaubat dan banyak berdoa. Namun seiring wabah yg tidak kunjung berhenti, kepercayaan pada otoritas dan hirarki gereja makin pudar hingga kemudian di abad 15 memunculkan berbagai gerakan reformasi gereja.

Berangkat dari pengalaman sejarah sebagaimana dipaparkan Biju di atas, kira-kira seperti apa wajah agama dan potret keberagamaan pasca Covid-19?

Continue reading “Perubahan Lanskap Keberagamaan Pasca Covid-19: Apa yang Dapat Studi Agama-Agama Lakukan?” →

Moderasi Beragama dan Pilar Kebangsaan

Prodi Magister (S2) Agama dan Filsafat, S2 Studi Agama-Agama dan S2 Ilmu Al-Quran dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan Sosialisasi Pembelajaran (SosPem) untuk mahasiswa baru TA 2019/2020. Dilaksanakan pada Kamis, 05 Maret 2020 dan bertempat di Smart Room Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, kegiatan tersebut diikuti oleh 73 mahasiswa baru Program Magister. Dalam kegiatan tersebut Ahmad Muttaqin M.Ag.,M.A, PhD selaku Ketua Prodi S2 Studi Agama-Agama memaparkan materi Moderasi Beragama dan Pilar Kebangsaan.

Ahmad Muttaqin M.Ag.,M.A, Ph.D
Ahmad Muttaqin M.Ag.,M.A, Ph.D saat memberikan materi Sosialisasi Pembelajaran.

Ahmad Muttaqin menegaskan bahwa sikap moderat itu harus dimulai dari diri sendiri dan sejak dalam pikiran. Menanamkan sikap moderat sejak dini, berarti menekan dan menghilangkan kebencian dan permusuhan antar manusia. Kerukunan antar umat beragama adalah modal dasar menjadikan bangsa Indonesia yang multi ethnis, multiculture dan multireligion menjadi maju, rukun dan harmonis.

“Bila masih memandang orang yang berbeda agama sebagai musuh, atau alasan untuk tidak menyapa maka ia belum siap jadi orang moderat. Orang moderat adalah yang sudah bisa melihat perbedaan sebagai alasan untuk bekerjasama atau bahkan alasan untuk saling memperkaya”, ujarnya.

Continue reading “Moderasi Beragama dan Pilar Kebangsaan” →