Pseudoscience & Pseudoreligion di Tengah Wabah

Ahmad Muttaqin

 

Betapa ringkih manusia itu. Kesombongan dan kepongahan yang selama ini dipamerkan dalam mengatur dan mengeksploitasi alam sedang kena batunya.

Berbagai cara, dari yang berbasis ilmu pengetahuan (sains) hingga spiritual (agama), dilakukan untuk menanggulangi Virus Corona Baru ini. Dunia kesehatan berada di garda depan memberi pertolongan dan pengobatan para pasien dan berlomba mencari vaksin untuk penangkal virus tersebut. Dunia ekosos (ekonomi dan sosial) bekerja keras meminimalisir dampak pandemik yang telah memporak-porandakan sektor industri, perdagangan barang dan jasa serta kehidupan sosial. Sedangkan dunia agama turut berlomba menyediakan kekuatan rohani melalui doa dan ritual-ritual “pelipur lara.”

Banyak yang mempertanyakan Virus Corona Baru dengan nama SARS CoV-2 yang menjadi penyebab Covid-19 (Corona virus deseas tahun 2019) ini murni proses alam atau rekayasa manusia. Para pendukung teori konspirasi cenderung melihat virus ini sengaja dibuat di sebuah lab untuk kepentingan tertentu: bisa senjata biologis atau kepentingan bisnis vaksin dan obat. Tulisan ini tidak akan mengulas pro-kontra asal usul virus tersebut, namun mencermati kadar “nalar sains dan nalar agama” dari beragam respon yang telah dilakukan oleh berbagai pihak dalam menanggulangi pendemi Covid-19.

Di tengah belum pastinya asal usul virus dan belum ditemukannya vaksin dan obat Covid-19, idealnya pandemik ini disikapi dengan perpaduan antara pendekatan sains (ilmu pengetahuan dan teknologi) plus agama. Sains dan teknologi digunakan sebagai ikhtiar untuk mencegah, mengobati dan menanggulangi dampak Covid-19 secara fisik, dan agama digunakan untuk memberi asupan rohaniah agar manusia tetap tabah dan kuat secara spiritual.

Ironisnya, informasi yang berkembang luas di masyarakat dan media sosial tentang Covid-19 tidak sedikit yang kadar keilmiahannya diragukaan sebab secara sains belum terbukti kebenaranya. Informasi tersebut diolah sedemikian rupa dengan kata-kata yang meyakinkan seolah-olah ilmiah namun sebenarnya tidak memenuhi kadar keilmiahan.  Pengetahuan semacam ini disebut Pseudoscience).  Robert Todd Carroll mendefiniskan pseudoscience “a set of ideas put forth as scientific when they are not scientific.” Menurut Richard H. Bube, pseudoscience adalah aktivitas yang mirip sains, menggunakan terminologi sains, mengklaim otoritas sains, tetapi pada tingkat fundamental melanggar integritas dasar dari aktivitas sains itu sendiri.

Dalam laman Wikipeda berbahasa Inggris disebutkan beberapa indikator pengetahuan atau informasi yang dapat diklasifikasikan sebagai pseudoscience, antara lain: (1) penggunaan klaim yang berlebihan, tidak jelas, atau tidak dapat diuji; (2) terlalu mengandalkan konfirmasi daripada sanggahan; (3) kurangnya keterbukaan terhadap pengujian oleh pakar lain; (4) tidak adanya kemajuan dalam koreksi temuan atau tambahan bukti-bukti argumen dan data statistik; (5) Personalisasi masalah melalui pelabelan musuh pada yang mengkritik, penggunaan paradigma konspiratif dalam melihat komunitas ilmiah lain yang mengkritik, dan menyerang karakter pribadi pihak yang mengkritik; serta (6) penggunaan bahasa yang menyesatkan dengan istilah-istilah “ilmiah” untuk membujuk khalayak umum.

Laman Republika pernah menurunkan tulisan yang memuat berkembangnya pseudoscience terkait pengobatan di masyarakat yang antara lain dicirikan: (1) bertahan dengan teori tanpa penelitian yang memadai dan penjelasannya too good to be true. Contohnya: klaim obat mujarab yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, (2) membangun argumen based on ancient wisdom atau berdasarkan kepercayaan turun-temurun; (3) all-natural fallacy yakni pemahaman bahwa sesuatu yang alami selalu aman dan yang sintetis selalu buruk; (4) suppressed miracle, yaitu narasi keajaiban dan hiperbola penjelasan it worked for me atau testimoni individual bahwa obat itu cocok untuk saya.

Dari sisi agama, tidak sedikit pengetahuan dan informasi yang berkembang di masyarakat ternyata basisnya bukan murni agama (genuine religion), tetapi pseudoreligion (kadang ditulis terpisah pseudo-religion, atau disebut juga Pseudo-Theology). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V (KBBI V), pseudo artinya: semu, palsu, bukan sebenarnya. Jadi, secara harfiah pseudoreligion berarti agama semu, agama palsu, atau agama gadungan. Dalam “Religion and pseudo-religion: an elusive boundary”, Sami Pihlström (2007) menggunakan istilah “Pseudo-religion” dalam pengertian superstition (takhayul, bid’ah dan khurafat) dan sesuatu yang mendekati “hypocrisy” (kemunafikan).

Dalam literatur Studi Agama-Agama, istilah pseudoreligion sering disematkan pada kelompok atau gerakan keagamaan baru yang memiliki penafsiran dan pemahaman ajaran berbeda dari kelompok mainstream, seperti: Kabbalisme, Christian Science, Scientology, the Nation of Islam, dll. Istilah ini kadang juga disematkan pada paham ideologi dan gerakan yang sebenarnya bukan agama namun memiliki aspek-aspek (ajaran, praktik, lembaga) yang mirip agama, seperti Teosofi, Komunisme, Nasionalisme, Nazisme, dll.

Ada beberapa faktor yang menjadikan pengetahuan dan informasi keagamaan yang diklaim sebagai agama, namun bisa tergelincir masuk kategori semu, palsu, atau gadungan. Diantaranya: penggunaan rujukan teks suci yang tidak tepat, terlalu tekstual dan kurang memperhatikan konteks; analogi peristiwa masa lalu yang dijadikan sandaran kurang pas dan cenderung dipaksakan; penggunaan text keagamaan untuk membangun narasi prediksi-prediksi masa depan secara simplistik; manipulasi ajaran agama untuk motif-motif tertentu (politik, ekonomi, mendeskriditkan dan mengeksploitasi pihak-pihak tertentu).

Adakah hubungan antara pseudoscience dan pseudoreligion? Ternyata, tidak sedikit pseudoscience yang diproduksi oleh pseudoreligion. Narasi berlebihan bahwa tanaman herbal tertentu, doa dan ritual akan mampu menangkal dan menyembuhkan Covid-19 disertai penjelasan yang seolah-olah ilmiah, bersandar pada text suci agama tanpa memperhatikan kontek serta dibumbui cerita “kesuksesan masa lalu” namun miskin data dan bukti riset, merupakan contoh sempurna dari perkawinan antara pseudoscience dan pseudoreligion. Contoh lainnya adalah claim dari kelompok agama tertentu bahwa Virus Corona takut dengan jamaahnya karena telah melakukan ritual ini dan itu dibarengi dengan sikap meremehkan protokol kesehatan yang mestinya dijalankan.

Tanpa bermaksud merendahkan segala usaha yang telah dilakukan oleh komunitas dari berbagai latar belakang budaya dan agama, kita dituntut bijak dan cerdas dalam memilih dan memilah informasi yang berkembang di masyarakat terkait pandemi Covid-19 ini.  Agar mampu membedakan mana yang sains dan mana yang pseudoscience, serta mengidentifikasi mana yang genuine religion dan mana yang pseudoreligion, diperlukan literasi sains dan literasi agama secara tepat dan komprehensif. Usaha memperpendek jurang pemisah antara sains dan agama perlu terus dilakukan. Tanpa usaha ini, alih-alih memberikan solusi terhadap wabah yang sedang kita hadapi, penyebaran pseudoscience dan pseudoreligion yang tanpa kendali bisa menjadi wabah lain yang semakin memperparah peradaban.

One thought on “Pseudoscience & Pseudoreligion di Tengah Wabah

  1. Membaca artikel ini mengingatkan saya akan teori Robert Redfield “Great dan Little Tradition” dan Red Bullock “Center and Peripery”. Siapa pemilik dan penentu genuine science?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *