Perubahan Lanskap Keberagamaan Pasca Covid-19: Apa yang Dapat Studi Agama-Agama Lakukan?

Ahmad Muttaqin

Mencermati hiruk pikuk dan beragam respon masyarakat agama dalam menghadapi pandemi memunculkan pertanyaan: perubahan lanskap kehidupan keagamaam seperti apa yg akan terjadi pasca pandemi? Apa yang perlu dilakukan untuk memperpendek jurang pemisah antara nalar agama dan nalar sains di masyarakat agar umat beragama cerdas dalam menghadapai wabah dan peristiwa alam lainnya sehingga agama selalu shaalihun fii kulli makaan wa zamaan (sesuai dengan ruang dan waktu)? Apa yang dapat Studi Agama-Agama lakukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut?

___________________________

Midle East Forbes edisi April 2020 menurunkan tulisan Khuloud Al Omian berjudul “Are we witnessing the awakening of a New World Order” yang membuat 10 daftar isu prediksi perubahan tata dunia baru. Diantara 10 isu tersebut adalah pergeseran poros kukuatan global, otomatisasi infrastruktur produksi, penurunan sektor bisnis travel, perubahan sistem dan pola pendidikan, kehidupan sosial, kesehatan, dan lingkungan hidup. Dari 10 poin yang dibuat Al Omian tersebut ternyata tidak satupuan menelaah kemungkinan perubahan dalam bidang agama dan spiritualitas.

Biju Dominic  dalam “Will Covid-19 weaken the base of organized religions?” menyatakan bahwa bencana dan musibah dapat mempengaruhi perubahan perilaku keberagamaan masyarakat baik secara positif maupun negative. Sebagai contoh, runtuhnya gedung WTC di New York mendorong masyarakat Amerika semakin “religious”. Hal ini berdasar trend meningkatnya warga yang memandang penting agama dalam kehidupan sehari-hari mereka sejak peristiwa 9/11 tersebut. Menurut data Gallup Research, sejak tahun 1960 masyarakat Amerika Serikat yang mengganggap agama itu penting dalam kehidupannya tidak lebih dari 40%. Namun, angka itu melonjak menjadi 70% sejak peristiwa 9/11. Sebaliknya, wabah penyakit pes abad 14 yang melanda Eropa menjadi penyebab makin redupnya peran hirarki gereja di Eropa. Awalnya, para pimpinan gereja waktu itu menyebut bahwa wabah penyakit itu bentuk hukuman Tuhan untuk para pendosa. Karena itu agar terhindar dari wabah tersebut, harus bertaubat dan banyak berdoa. Namun seiring wabah yg tidak kunjung berhenti, kepercayaan pada otoritas dan hirarki gereja makin pudar hingga kemudian di abad 15 memunculkan berbagai gerakan reformasi gereja.

Berangkat dari pengalaman sejarah sebagaimana dipaparkan Biju di atas, kira-kira seperti apa wajah agama dan potret keberagamaan pasca Covid-19?

Ritual Agama dan Penyebaran Covid-19

Bagaimana dengan Covid-19 tahun 2020 ini? Apa pengaruh yg akan ditimbulkan terhadap agama, organisasi keagamaan, maupun cara beragama masyarakat?

Pertanyaan semacam ini muncul bukan tanpa alasan. Selain belajar dari sejarah masa lalu tentang wabah dan pengaruhnya terhadap kehidupan keagamaan, penyebaran Covid-19 di beberapa tempat terkait erat dengan acara keagamaan yg melibatkan banyak jamaah. Sebut saja Jamaah Gereja Shincheonji Yesus di Korea Selatan yg dianggap sebagai titik awal penyebaran virus Corona baru tersebut. Di Malaysia, salah satu kegiatan keagamaan yg dinilai sebagai ledakan gelombang kedua penyebaran Covid-19 adalah ijtima Tabligh Akbar di Kuala Lumpur pada 27 Februari – 1 Maret 2020 yang melibatkan 16.000 jamaah. Di Indonesia salah satu cluster penyebaran Covid-19 adalah seminar keagamaan Gereja Bethel Indonesia (GBI) di Lembang Jawa Barat yang dihadiri tidak kurang dari 2000 jamaah. Di Amerika Serikat, sebagaimana ditulis Elizabeth Yuko, kasus postif Covid-19 pertama pada awal Maret 2020 di Wasington DC terjadi pada salah seorang pendeta setelah memberikan pelayanan pada sekitar 550 orang, berjabatan tangan dan membagikan komuni kepada jemaat Grace Church di Georgetown. Di New York, salah satu episentrum penyebaran Cov-19 adalah New Rochelle, yang didalamnya terdapat Synagogue Ortodox, Young Israel of New Rochelle, dengan setidaknya 1 Rabbi dan seorang jamaah telah terjangkit Covid-19 pada awal Maret.

Peristiwa-peristiwa di atas menunjukkan begitu lekatnya antara ritual keagamaan kolektif (berjamaah) dengan kasus penyebaran Covid-19. Sebagian pemimpin dan umat beragama kadang begitu percaya diri menyatakan bahwa mereka akan dilindungi Tuhan dari wabah Covid-19. Ritual jamaah yang mereka jalankan diklaim sebagai cara mendekatkan diri pada Tuhan dalam rangka memperoleh lindungan dan pertolongan. Namun, dimata praktisi kesehatan, penyelenggaraan ritual keagaam kolektif yang dijalankan tidak sesuai protocol kesehatan berpotensi menjadi medan penyebaran virus corona baru tersebut. Beberapa kasus yang disebut di atas menjadi bukti nyata.

Seruan Pimpinan Lembaga Agama dan “Pembangkangan” Umat

Epicentrum penyebaran Covid-19 di Indonesia adalah Jakarta, Ibu kota Republik Indonesia. Untuk mencegah penyebaran virus agar tidak makin meluas dan bertambah parah, Gubernur DKI Jakarta sudah melakukan berbagai langkah dan menerapkan kebijakan-kebijakan strategis dengan melibatkan tokoh dan pimpinan lembaga agama. Tanggal 19 Maret 2020, Gubernur DKI Jakarta, Anis Baswedan, bersama-sama pimpinan lembaga agama (MUI, DMI, PGI, Walubi, PHDI dan Uskup Agung Jakarta) mengimbau agar umat beragama di wilayah DKI Jakarta untuk sementara waktu menunda pelaksanaan peribadatan jamaah di tempat ibadah dan menyerukan agar beribadah di rumah masing-masing.

Di Indonesia ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyah dan NU telah menghimbau umatnya agar bijak dalam penyelenggaraan ibadah keagamaan yang melibatkan banyak jamaah dengan tetap mengacu pada protokol kesehatan. Muhammadiyah, selain menunda pelaksanaan Muktamar ke-48 dari 1-5 Juli ke 24-27 Desember 2020 di Solo, juga membentuk MCCC (Muhammadiyah Covid-19 Command Centre) sebagai taskforce pencegahan dan penanggulangan virus mematikan tersebut. Muhammadiyah juga menerbitkan tuntunan ibadah di saat wabah Covid-19 yang antara lain menyerukan untuk sementara waktu agar melakukan ibadah di rumah masing-masing, meniadakan sholat jamaah di masjid dan musholla, mengganti ibadah jum’ah di masjid dg sholat dhuhur di rumah. Bahkan jika wabah ini nanti berlanjut hingga Ramadhan dan Idul Fitri 1441H maka sholat tarawih dan kegiatan buka bersama di masjid/musholla dan sholat Idul fitri agar dilaksanakan di rumah masing-masing. Kementerian Agama Republik Indonesia pun juga telah menerbitkan tuntunan ibadah Ramadhan dan Idul Fitri di masa Pandemi ini.

Tokoh dan pimpinan ormas keagamaan sudah menyerukan agar di saat wabah seperti ini umat beragama terus mendekatkan diri pada Tuhan, banyak berdoa dan beribadah. Namun, pelaksanaanya perlu mengikuti protokol kesehatan. Bila biasanya dilaksanakan bersama secara kolektif, berjamaah di masjid, musholla, gereja, klenteng, kuil, pura, dll., agar dilaksanakan di rumah, berjamaah bersama keluarga. Kegiatan yang biasanya dilaksanakan secara kolektif / berjamaah di suatu tempat seperti missa, pengajian, doa bersama, khataman Al-Qur’an, istighosah, dll saat ini dapat dilaksanakan secara daring / online. PWNU Jatim misalnya, pada 8 April 2020 yang lalu menyelenggarakan Istighosah Kubro secara online sebagai bentuk usaha spiritual mencegah dan menangkal Covid-19. Di sebuah group WA dosen-dosen fakultas di salah satu PTKIN di Yogyakarta, menyelenggarakan khataman Al-Qur’an online 2 kali tiap pekan. Majelis Tarjih PP Muhammadiyah menyelenggarakan pengajian tarjih secara online dan live streaming tiap 2 pekan. Beberapa majlis ta’lim pun menggelar pengajian kitab kuning secara online. Dalam rangka mencegah penyebaran Covid-19, Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) menghimbau untuk tidak menyelenggaran peribadatan di gereja dan mengembangkan peribadatan virtual atau e-Church.

Ternyata tidak semua jamaah taat dan mengikuti himbauan dari organisasi induknya. Tidak sedikit jamaah yang “membangkang” dan tetap menyelenggarakan sholat jamaah dan jumatan di masjid. Bahkan diantara mereka justru menganggap pimpinan ormas dan tokoh-tokoh agama yang menyarankan penyelenggaraan ibadah di rumah kurang kuat imannya, lebih takut pada virus ciptaan Tuhan dari pada Tuhan itu sendiri. Mereka dinilai terlalu mengandalkan pendekatan sains sekuler, dan tidak percaya pada kekuatan Tuhan. Di kalangan umat yang tidak taat seruan dan himbauan untuk stay at home dan pray at home ada semacam kecurigaan dan kekawatiran terhadap protocol social & physical distancing dalam beribadah sebagai bentuk “penggembosan” semangat keberagamaan yang bertimplikasi pada God distancing (semakin berjaraknya manusia dengan Tuhan).

Secara organisatoris, ketidaksejalanan antara kebijakan induk organisasi kegamaan dengan jamaah di akar rumput tersebut dapat menjadi faktor perpecahan organisasi keagamaan disebabkan perbedaan persepsi dalam memaknai dan menyikapi wabah. Secara teologis, hal tersebut juga menandakan bahwa dalam mensikapai wabah dan peristiwa-peristiwa alam lainnya masih banyak umat beragama yang memisahkan antara nalar agama dan nalar sains; teologi fatalistic / jabbariyah lebih dominan dibandingkan teologi rasional. Apakah hal ini implikasi dari lemahnya pengembangan sains dan teknologi di masyarakat, tentu perlu penelitian lebih lanjut.

Studi Agama-Agama Pasca Pandemi

Mencermati hiruk pikuk dan berbagai respon masyarakat agama dalam menghadapi  pandemi memunculkan berbagai pertanyaan: perubahan wajah dan lanskap kehidupan keagamaam seperti apa yg akan terjadi pada masa dan pasca pandemi? Perubahan cara beribadah dalam periode yg cukup lama dari jamaah/kolektif di suatu tempat secara bersama-sama menjadi lebih individual, berjarak, dan difasilitasi oleh teknologi informasi, akankah berpengaruh terhadap cara beragama pada masa yang akan datang pasca pandemi Covid-19 nanti? Apa yang perlu dilakukan untuk memperpendek jurang pemisah antara nalar agama dan nalar sains di masyarakat agar umat beragama dalam meghadapai wabah dan peristiwa alam lainnya selalu shaalihun fii kulli makaan wa zamaan (sesuai dengan ruang dan waktu)? Apa yang dapat Studi Agama-Agama lakukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut?

Tentu bukan hanya ilmuan Studi Agama-Agama yang harus menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Namun setidaknya para sarjana Studi Agama-Agama perlu menyadari tentang kemungkinan perubahan lanskap keberagamaan di masyarakat, misalnya bergesernya cara beragama komunal ke individual, semakin massifnya penggunaan teknologi informasi dalam pengajaran dan ritual keagamaan, terjadinya polarisasi otoritas agama di berbagai lembaga keagamaan, perilaku umat beragama yang semakin tidak ramah pada lingkungan, serta ragam respon tokoh dan umat beragama terhadap bencana. Mensikapi perubahan lanskap ini, Studi Agama-Agama perlu memperluas spektrum kajiannnya agar mampu memberikan kontribusi praksis di masyarakat. Jika kajian terhadap agama pada abad 20 didominasi tentang teori-teori asal-usul agama, definisi agama secara substantive dan fungsional, dan kajian-kajian agama yang lebih normative-ritualistik dan klasifikatif, maka Studi Agama-Agama –setidaknya di Indonesia– kedapan perlu mengembangkan kajian yang transdisiplin dan berorientasi pada problem solving, seperti: agama dan sains, agama dan teknologi, agama dan bioethics, agama dan lingkungan, agama dan kesehatan, religious data science, keberagamaan dan  keadaban publik, teologi bencana dan manajemen resiko, dan lain-lain. Dengan begitu, Studi Agama-Agama diharapkan mampu memberikan kontribusi keilmuan yang kongkrit, sebagai bagian dari problem solver di masyarakat, bukan sekedar narasi yang normatif dan mengawang-awang. wallahu a’lam.

One thought on “Perubahan Lanskap Keberagamaan Pasca Covid-19: Apa yang Dapat Studi Agama-Agama Lakukan?

  1. Yes…berdialog dan saling menyapa antara agama dan sains harus terus dilakukan dan disuarakan, sehingga menjadi keniscayaan, bukan lagi keanehan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *