Ustadi Hamsah
(Bagian pertama dari dua tulisan)
Indonesia, atau istilah yang lebih kultural disebut dengan Nusantara, adalah sebuah istilah yang menggambarkan wilayah yang diapit oleh dua samudera dan dua benua, yakni kawasan Asia Tenggara sebagaimana yang dikenal dalam Kakawin Negarakertagamakarya Mpu Prapanca. Istilah itu menggambarkan betapa luas kawasan itu yang di dalamnya hidup berbagai suku bangsa, agama, kebudayaan, adat istiadat, dan lain sebagainya dalam satu tujuan. Kondisi ini digambarkan oleh Mpu Tantular dalam Sutasoma(1370 M) dengan sebuah adagium bhinneka tunggal ika tan hana dharma magrwa(beragam tetapi satu tujuan, dan tidak ada kekuatan yang dapat melemahkannya) –sebuah “deklarasi” keragaman di Jawa yang jauh mendahului semboyan e pluribus unum(beragam untuk menyatu) di dalam Great Seal of USAoleh Charles Thomson tahun 1732 M. Namun, penggambaran oleh Mpu Tantular masih jauh lebih muda jika dibandingkan dengan narasi keragaman yang diuraikan dalam al-Qur’an (abad VII M).
Simbolisme Karagaman dalam Kapal Nabi Nuh
Dengan memperhatikan latar belakang yang sangat beragam dan begitu kompleks yang terdapat di Indonesia sejenak akan terbayang sebuah kondisi yang “semrawut”, “crowded”, dan tidak teratur sama sekali. Namun, kenyataannya bukan itu yang ditemukan di nusantara, justru sebaliknya, yakni kehidupan yang sayuk rukunpenuh dengan semangat gotong royong jauh dari watak beringas ketika menghadapi perbedaan, semua berjiwa bhinneka tunggal ika. Kondisi ini selaras dengan gambaran Kitab Suci al-Qur’an tentang suasana yang terjadi pada “kapal Nabi Nuh” (safīnah Nūh).
Continue reading “Studi Agama & Nalar Keragaman di Indonesia (1)” →