Di era digital yang berkembang pesat, kecerdasan buatan (AI) dan teknologi deepfake telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Kemajuan ini membawa banyak manfaat dalam berbagai bidang, termasuk seni, pendidikan, dan komunikasi. Namun, di sisi lain, teknologi ini juga menghadirkan ancaman serius bagi keberagaman dan toleransi antaragama. Dengan kemampuan untuk memanipulasi informasi dan menciptakan realitas palsu, AI dan deepfake berpotensi memperdalam polarisasi agama, menyulut konflik, dan memperburuk ketegangan sosial.
Deepfake adalah teknologi berbasis AI yang memungkinkan manipulasi video dan audio secara meyakinkan, sehingga seseorang dapat tampak atau terdengar melakukan atau mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Dalam konteks agama, dampaknya bisa sangat destruktif. Bayangkan jika sebuah video menampilkan seorang pemuka agama yang sedang mengeluarkan pernyataan provokatif atau intoleran, padahal video tersebut sepenuhnya hasil rekayasa.
Publik yang tidak memiliki kesadaran digital yang cukup dapat dengan mudah terprovokasi dan percaya bahwa tokoh tersebut benar-benar mengeluarkan pernyataan itu, yang akhirnya memicu ketegangan antarumat beragama. Selain deepfake, AI juga berperan dalam membentuk lanskap digital yang semakin rentan terhadap polarisasi. Algoritma media sosial dirancang untuk memperkuat keterlibatan pengguna dengan menyajikan konten yang sesuai dengan preferensi dan keyakinan mereka.
Akibatnya, pengguna sering kali hanya terpapar pada sudut pandang yang memperkuat kepercayaan mereka sendiri, tanpa mendapatkan perspektif yang lebih luas. Ini menciptakan apa yang disebut sebagai “echo chamber” atau ruang gema digital, di mana narasi yang mendukung intoleransi dan eksklusivitas agama semakin menguat tanpa ada ruang untuk dialog yang sehat. Continue reading “Deepfake, AI, dan Polarisasi Agama: Ancaman Baru bagi Toleransi?”
