Interfood Dialogue: Upaya Damai Melalui Meja Makan

Maufur

maufur

“Interfood dialogue” pada judul di atas mungkin memberi kesan saya sedang bermain kata karena kemiripannya baik huruf maupun bunyi dengan “interfaith dialogue”. Anda tidak seratus persen benar ataupun salah. Pemakaian istilah ini memang ada kaitannya dengan istilah kedua yang popular di kalangan pegiat dialog antar iman. Hanya saja, alih-alih sekadar sebagai plesetan atau guyonan, saya sangat serius dengan gagasan menjadikan makanan sebagai bagian penting dalam model dialog ataupun resolusi konflik, terutama dalam konteks Indonesia. Jika selama ini kita akrab dengan istilah “diplomasi meja makan” dalam konteks perpolitikan atau relasi antarnegara, mengapa model semacam ini tidak kita pakai juga dalam dialog antar iman atau upaya-upaya perdamaian.

Tulisan ini terinspirasi dari pengalaman pribadi ketika mengikuti beberapa aktivitas perdamaian di luar negeri. Pada tahun 2013, kebetulan saya berkesempatan mengikuti sebuah Summer Program on Religion and Conflict Resolution yang diadakan oleh Center for Religion, Culture, and Conflict (CRCC) di New Jersey, Amerika Serikat. Pada tahun 2016, saya kembali diundang sebagai fasilitator di acara yang berlangsung kurang lebih selama satu bulan ini. Pesertanya berasal dari latar belakang agama yang berbeda dan datang dari sejumlah negara yang sedang mengalami konflik etnik maupun agama: Israel, Palestina, Mesir, Nigeria, dan Indonesia. Dalam forum, debat antara peserta dari Israel dan Palestina berlangsung sangat panas, bahkan tak jarang ada gebrak meja atau ada peserta yang walk-out. Dinamika ini bisa dimaklumi, karena konflik panjang antar dua negara tersebut. Continue reading “Interfood Dialogue: Upaya Damai Melalui Meja Makan” →