Simposium Nasional Studi Agama 2025 Mengusung Kajian Cinta

Seiring dengan perkembangan sains dan teknologi yang sedemikian cepat, terdapat berbagai tantangan kemanusiaan yang perlu dihadapi secara kolektif. Di antara tantangan yang sangat massif hadir dalam kehidupan manusia adalah hilangnya kesadaran akan kepedulian, cinta, empati, dan kedekatan sosial (social intimacy). Tantangan ini muncul berkelindan dengan lajunya kemajuan teknologi informasi yang sarat dengan ruang-ruang privat yang secara bersamaan meluruhkan interpersonal relation yang hangat. Implikasi sosial yang muncul adalah menguatnya hubungan antar individu dan kelompok yang transaksional yang kering. Dalam kondisi seperti ini, aspek kedekatan, cinta, dan empati hampir tidak dapat ditemukan, sehingga relasi antar manusia terjebak dalam sebuah pola hubungan subjek-objek. Kondisi ini dapat mengancam eksistensi kemanusiaan karena manusia tidak memperdulikan lagi subjek lain di sekitarnya selain hanya sebagai pelengkap bagi kenyamanan individunya sendiri.
Tantangan ini menjadi tantangan tersendiri bagi studi agama-agama yang telah berkembang dengan mengusung kajian, salah satunya aspek nilai dalam membangun relasi yang positif. Isu tentang luruhnya cinta dan intimasi sosial dalam relasi antar manusia merupakan bagian integral kajian agama kontemporer yang menekankan konteks (milieu) sosial, baik pada level ontologi, epistemologi, maupun aksiologi. Pola kajian ini merupakan bidang yang dapat dikembangkan dalam konteks Prodi Studi Agama-Agama (Prodi SAA) di Perguruan Tinggi Indonesia. Kajian SAA mengalami interaksi yang intens dengan berbagai perkembangan zaman. Oleh karena itu, diperlukan sebuah landasan akademik dengan pertimbangan bahwa perubahan zaman tidak bisa dilepaskan dari isu-isu keagamaan. Dalam konteks yang lebih spesifik, sebagai bahan kajian, agama dikaji dari perspektif yang sangat beragam. Hasil-hasil kajian atas agama merupakan landasan untuk melihat perubahan-perubahan dalam masyarakat.
Berangkat dari kegelisaan tersebut, Simposium Nasional Studi Agama ke 13 ASAI tahun 2025 mengangkat tema Religion, Love, and Humanity: Transforming the World through Compassion and Empathy. Seperti meneruskan tema sebelumnya tentang Era Baru, Peran Baru Studi Agama pada Era Artificial Intelligence pada tahun 2023 di Aceh dan tentang Religion and Climate Change: Exploring and Responses di Banjarmasin pada Simposium Nasional ke 12 tahun lalu, Simposium Nasional pada tahun ini berharap dapat menghadirkan pembicara dari IAHR, Kementerian Agama RI dan Kantor Komunikasi Presiden, agar dapat meluaskan gaung sinifikansi keilmuan Studi Agama-agama yang sebelumnya dikenal dengan Perbandingan Agama.
Untuk itu, ada beberapa sub tema yang dapat dibicarakan dalam International Conference yang menjadi bagian rentetan acara simposium nasional kali ini, antara lain:
1. Agama dan Cinta dalam Teks Keagamaan
2. Sastra dan Karya Seni tentang Agama dan Cinta
3. Teknologi Informasi dan Tantangan Kemanusiaan Global
4. Kebijakan Publik dalam Merawat Keragaman
5. Studi Agama dan Gerakan Filantropi
6. Agama dan Lingkungan Hidup untuk Kemanusiaan
7. Kajian Tokoh yang consern pada Isu Agama dan Cinta
8. Resolusi Konflik berbasis Agama Cinta
9. Deep Learning, Deep Religiousity
10. Kesadaran Ruang dalam Beragama
11. Religious Healing and Psychotherapy
Oleh karena itu, kami mengundang para dosen dan mahasiswa prodi SAA se-Indonesia, pegiat keilmuan lain yang berminat terhadap kajian kontemporer, para peminat Kajian Agama-Agama, Institusi (Fakultas dan Universitas) dan masyarakat pengkaji agama-agama, ASAI dan lembaga jejaringnya. Pendaftaran dapat dilakukan melalui link berikut https://bit.ly/PendSimpoNas13ASAI jika ada pertanyaan dapat menghubungi CP WA 0878 3899 7388 dan 087 222 000 60. Kami tunggu kehadiran Anda di kota pelajar Indonesia, Jogja.

2 thoughts on “Simposium Nasional Studi Agama 2025 Mengusung Kajian Cinta”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *