Sejarah ASAI

Sejarah & Profil ASAI

Pada medio 2010an, para dosen Jurusan Perbandingan Agama (saat ini menjadi Prodi Studi Agama-agama) UIN Sunan Kalijaga secara intensif memperbincangkan tiga hal.

Pertama, masa depan jurusan perbandingan agama secara kelembagaan. Jumlah calon mahasiswa baru Jurusan Perbandingan Agama cenderung stagnan negatif, artinya selain peminatnya cenderung menurun walaupun sedikit, jurusan perbandingan agama bukan lagi menjadi pilihan pertama mahasiswa. Rupanya, fenomena berkurangnya jumlah peminat tersebut tidak hanya dialami oleh Jurusan Perbandingan Agama di UIN Sunan Kalijaga, tetapi juga Jurusan Perbandingan Agama di perguruan tinggi lainnya. Bahkan, ada beberapa yang kemudian berganti nama dan bahkan ditutup karena tidak adanya calon mahasiswa baru yang mendaftar.

Fenomena ini berbeda dengan medio sebelum tahun 1980an atau awal tahun 1990an, yang walaupun peminatnya memang tidak terlalu banyak, tetapi menjadi pilihan favorit para calon mahasiswa baru yang memiliki kualitas dan kompetensi akademik unggul. Jurusan Perbandingan Agama merupakan kelas elit para calon pemikir, dan oleh karenanya tidak perlu menerima mahasiswa dalam jumlah banyak, konon demikian yang disampaikan oleh pendiri Jurusan Perbandingan Agama yang juga mantan Menteri Agama, Prof. Dr. Mukti Ali.

Oleh karena itu, fenomena calon mahasiswa baru yang “stagnan negatif” menjadi pemikiran serius para dosen Jurusan Perbandingan Agama UIN Sunan Kalijaga. Sejak saat itu para dosen dan pengelola Jurusan Perbandingan Agama memunculkan opsi perlunya mengganti nama Jurusan “Perbandingan Agama”. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, rupanya nama “Perbandingan Agama” menjadi salah satu faktor pemicu keengganan mahasiswa baru untuk masuk Jurusan ini.

Nama Perbandingan Agama selain menimbulkan resistensi di kalangan masyarakat, juga dianggap kurang memberikan jaminan masa depan bagi para alumninya. Walaupun sebenarnya Jurusan Perbandingan Agama memiliki peran penting dalam masyarakat yang multi agama dan multi budaya seperti Indonesia.

Peran signifikan itu menjadi semakin signifikan seiring mencairnya batas-batas teritori yang disebabkan pencapaian dan penemuan teknologi informasi, sehingga masyarakat dari latar belakang agama yang berbeda dapat bertemu tanpa ada batasan lagi. Dalam konteks ini, keilmuan Perbandingan Agama sangat diperlukan.

Kedua, peran Jurusan Perbandingan Agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam lintasan sejarah NKRI, Jurusan Perbandingan Agama memberikan kontribusi besar dengan merumuskan trilogi kerukunan agama.

Namun dalam perkembangannya, Jurusan Perbandingan Agama seolah-olah kehilangan orientasinya, padahal persoalan sosial keagamaan semakin marak. Kekerasan atas nama agama cenderung semakin meningkat, baik kekerasan yang bersifat fisik maupun kekerasan yang bersifat non fisik. Pada kondisi yang demikian, keberadaan Perbandingan Agama seyogyanya hadir untuk memberikan solusi alternatif yang solutif terhadap problem keumatan. Hanya saja, peran-peran tersebut nampak terabaikan karena terbelenggu oleh problem-problem yang dihadapi oleh Jurusan Perbandingan Agama sendiri, seperti bagaimana menjaga eksistensi Perbandingan Agama agar dapat terus bertahan di tengah dinamika pasar keilmuan yang sangat dinamis.

Ketiga, perkembangan Ilmu Perbandingan Agama secara keilmuan. Dalam dua puluh tahun terakhir, Perbandingan Agama secara keilmuan cenderung bergerak stagnan. Hampir tidak ada inovasi-inovasi keilmuan yang memungkinkan Ilmu Perbandingan Agama terus berkembang sebagaimana keilmuan lainnya yang terus berkembang seiring dinamika yang dialami oleh masyarakat. Ilmu Perbandingan Agama seolah-olah terjebak dalam kebesaran masa lalu, dan lupa untuk membangun kebesaran di masa mendatang. Padahal, seiring perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat, kehidupan masyarakat juga semakin dinamis, sehingga problematika yang dihadapinya juga semakin pelit. Fenomena kekerasan atas nama agama yang semakin meningkat, komodifikasi agama yang meletakkan agama sebagai komoditi pasar, munculnya gerakan-gerakan ekonomi berlabel agama, dan isu-isu lingkungan yang semakin menantang peran agama-agama seharusnya mampu mendorong penemuan-penemuan baru dalam Ilmu Perbandiangan Agama. Pada posisi demikian, Perbandingan Agama nampak terlihat “kelelahan”.

Tiga kondisi di atas yang mendorong civitas akademika Jurusan Perbandingan Agama UIN Sunan Kalijaga untuk melakukan diskusi secara intensif tentang masa depan “Jurusan” Perbandingan Agama. Dalam diskusi tersebut muncul kesadaran bahwa problem yang dihadapi Perbandingan Agama tidak dapat diselesaikan sendiri oleh Perbandingan Agama UIN Sunan Kalijaga, tetapi harus diselesaikan secara bersama-sama oleh semua perguruan tinggi penyelenggara Perbandingan Agama.

Akhirnya, pada tahun 2013, Jurusan Perbandingan Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menginisiasi penyelenggaraan Seminar Nasional dengan peserta para Kajur dan Sekjur Perbadingan Agama se Indonesia, serta para penggiat studi agama, dengan dua tujuan. Pertama, untuk memetakkan problematika yang dihadapi Jurusan Perbandingan Agama se Indonesia.

Dengan cara tersebut, akan mudah dilakukan identifikasi apa solusi yang harus dilakukan. Kedua, menumbuhkan kesadaran di kalangan para civitas akademika Perbandingan Agama tentang perlunya konsolidasi para civitas akademika Perbandingan Agama untuk mengatasi problemnya. Pada pertemuan Yogyakarta ini menghasilkan beberapa keputusan.

Di antara keputusan yang cukup menarik adalah perlunya melakukan pergantian nama Perbandingan Agama menjadi Studi Agama-agama, dan juga perlu membuat asosiasi para pengkaji dan peminat studi agama-agama. Pergantian nama direkomendasikan dengan asumsi bahwa nama Perbandingan Agama merupakan “problem” yang menghambat orang memasukinya.

Oleh karena itu, opsi mengganti nama secara kuat disepakati oleh semua peserta yang hadir. Sedangkan perlunya asosiasi dilandasi pemikiran bahwa perkembangan Perbandingan Agama dimasing-masing perguruan tinggi tidak merata, artinya ada yang kuat namun ada yang lemah. Dengan keberadaan asosiasi tersebut, diharapkan Perbandingan Agama di seluruh Indonesia dapat bergerak secara merata dengan tetap menjaga keunikan masing-masing. Selain itu, muncul usulan agar asosiasi tidak hanya diikuti oleh para dosen dan mahasiswa Perbandingan Agama, tetapi juga para akademisi dan peminat studi agama-agama. Perbandingan Agama UIN Sunan Kalijaga mendapat mandat untuk mengawal rekomendasi tersebut.

Pada tahun 2014, Perbandingan Agama UIN Sunan Kalijaga menjadi tuan rumah Simposium Studi Agama-agama Indonesia. Simposium ini merupakan tindak lanjut dari simposium sebelumnya. Pada simposium ini, pembicaraan difokuskan kepada dua hal, yaitu membincang revitalisasi studi agama-agama dan pembentukan asosiasi. Pertama, Perbincangan tentang perlu revitalisasi untuk memperkuat posisi perbandingan agama (studi agama-agama) secara paradigmatik di tengah menjamurnya program studi yang berorientasi pasar. Dimanakah perbandingan agama dalam konteks pasar prodi tersebut? Menurut Prof. Amin Abdullah, Perbandingan Agama memiliki peran seperti garam.

Memang tidak boleh terlalu banyak, tetapi tidak boleh hilang sama sekali, karena masakan apapun tanpa garam akan hambar tak terasa. Kedua, perbincangan tentang pembentukan asosiasi.

Terkait asosiasi, ada beberapa keputusan penting yang dibuat, yaitu nama yang disepakati adalah Asosiasi Studi Agama Indonesia (ASAI), dengan ketua umum terpilih Ahmad Muttaqin, S.Ag., MA., M.Ag., Ph.D. (UIN Sunan Kalijaga) dan Dr. Media Zainul (UIN Jakarta).

ASAI bukan asosiasi prodi, tetapi merupakan asosiasi peneliti, pengajar, penggiat, dan peminat studi agama. Namun demikian, ASAI memiliki tanggungjawab untuk ikut memikirkan masa depan prodi studi agama-agama sehingga mampu hadir dan bermanfaat kepada masyarakat.