MERUMUSKAN KEMBALI TANTANGAN STUDI AGAMA-AGAMA DI INDONESIA #2

Oleh: Muryana, S.Th.I., M. Hum

MBKM Berbasis Data Alumni atau Data Peminat SAA?

Konteks apa selain praktik? Bagi saya, MBKM bukan sekedar mengungkapkan tentang bagaimana dipraktikkan, terutama terkait dengan administrasinya. Tapi MBKM ini mengungkit pertanyaan “Mau dibawa ke mana SAA?”

Ketika saya masuk ke SAA, saya selalu ingat dan terngiang bahwa PA/SAA tidak mencetak tukang. Lalu apa? Nah, “lalu apa? inilah” yang akan kita gunakan untuk menentukan kompetensi lulusan. Satu hal yang berulang kali disinggung-singgung dalam temu alumni SAA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta beberapa waktu lalu. “Perumusan kompetensi lulusan secara tepat akan menjawab peluang kerja bagi alumni SAA”, begitu kesimpulan yang saya tangkap. Jika demikian, berarti SAA perlu menjawab kebutuhan pasar tenaga kerja dan alumni SAA adalah tukang. Begitu pun, cara kerja MBKM mas Menteri ini, menurut saya untuk memenuhi kebutuhan pasar kan. Mahasiswa diberi kesempatan belajar selama 3 semester adalah untuk mencari bekal dan siap bekerja setelah lulus. Jadi, belajar adalah untuk bekerja dan menjadi tenaga kerja. Tak heran, prodi PA di sebelah dengan I lebih laku dibandingkan dengan PA/SAA karena jelas lapangan pekerjaannya. Berdasarkan semangat ini, maka MBKM dapat dilaksanakan dan diimplementasikan berdasar pada bekal apa yang disiapkan oleh SAA kepada alumninya. Alumni ini dapat bekal apa dari SAA?

Bagaimana jika kita balik? Apa yang akan terjadi? Survei tidak dilakukan kepada alumni, tapi survei dilakukan kepada mahasiswa baru SAA, “Mau cari apa di SAA?”. Peminatan yang menjadi dasar dan landasan materi dan skill yang diberikan oleh SAA, termasuk dalam perumusan kurikulum dan ketika SAA memutuskan bekerjasama dengan apa dan siapa dalam MBKM. Mahasiswalah yang menentukan akan berMBKM di mana. Berdasarkan peminatan ini akan membuka peluang kerjasama yang luas antara prodi dengan mitra MBKM. Dengan demikian, Prodi SAA juga akan siap dan semakin terbuka menjawab tantangan rumusan pertanyaan penelitian, salah satunya untuk tugas akhir dan publikasi ilmiah. “SAA siap melayani Anda”. Hal ini mengingatkan saya pada ide tentang pergeseran dari “science to science” ke “science to social” Mukti Ali. Bahkan, alumni pun tidak khawatir dengan linearitas yang diterapkan pada hitam di atas putih berkas penerimaan CPNS, karena skill yang dimiliki lebih beragam dan siap menempatkan diri di mana saja. Meskipun, pengakuan terhadap alumni SAA di percaturan instansi pemerintah masih selalu menjadi tanda tanya dan perlu terus diperjuangkan. Alumni SAA tidak [lagi khawatir] membutuhkan dan tidak perlu menggunakan Ijazahnya untuk berkarya di dunia, cukup dilegalisir dan simpan dengan baik di dalam lemari.

 

Memetakan Kembali Tantangan SAA di PTAI

Peminatan ini juga yang akan menuntun kembali pada pertanyaan “kenapa masuk SAA?”. Saya ingat waktu di kelas, ada beberapa teman yang tidak memilih PA. Jadi, ada istilah PA/SAA adalah kelasnya mahasiswa buangan. Tapi juga tidak jarang yang memilih PA/SAA sebagai pilihan pertama. Alasan pertama, ada kakak (kating) yang merekomendasi dan menjadi figure baik lulusan PA/SAA. Alasan berikutnya, ada sosialisasi prodi ke sekolah yang membuat penasaran dan menarik untuk dicoba. Alasan yang lain, adalah adanya beasiswa bagi pemilih PA/SAA. Berbagai upaya dilakukan agar peminat PA/SAA meningkat. Selayaknya mall yang sale produk agar ramai pembeli.

Kala itu saya memutuskan masuk PA karena cerita Ibu Guru tetangga kios Ibu saya berjualan di Pasar. Saat itu saya sedang demam belajar Islam. Kenapa demam? Karena saya bersekolah di SMA Negeri dan pada saat yang sama sedang bertumbuh dan berkembangnya Gerakan Tarbiyah. Para alumni yang sedang belajar di Jogja dan Malang kembali ke sekolah untuk mengisi majelis ta’lim. Sebagai siswa yang awam ilmu agama, saya termotivasi belajar agama-agama lain dengan cerita Ibu Guru tersebut. Untuk apa? Agar saya dapat melakukan dakwah yang lebih ramah daripada alumni-alumni tersebut. Nah, comparative religion alias Perbandingan Agama adalah pilihan pertama saya. Apakah ini spirit yang sama ketika Pak Mukti Ali mendirikan jurusan Perbandingan Agama? Bisa jadi demikian, zaman Pak Mukti Ali, Kristenisasi adalah tantangan utama, selain problem agama dan pembangunan. Lalu apa tantangan SAA saat ini? Apakah Kristenisasi masih menjadi problem utama saat ini? Jika tidak, lalu apa? Bagi saya, spirit melanjutkan gerakan dakwah inilah yang membuat tetap betah ber-science to science bahkan ber-science to social dengan islamic studies di SAA, tanpa mengubahnya menjadi religious studies, saya tetap bangga menjadi alumni SAA. Sehingga ketika keluar dari SAA dan diberi tugas mengajar tentang Agama Islam pun, ini adalah hal yang membanggakan dan membahagiakan bagi saya. “Komparasi” yang saya pelajari saat di PA sangat berguna untuk menyampaikan Islam yang rahmatan lil alamin. Tapi bagaimana dengan yang tidak?

SAA di PTAI perlu memetakan kembali peluang dan tantangannya. Apakah SAA di PTAI akan tetap menjadi dirinya yang dulu atau akan berubah menerima tantangan zaman. Apakah SAA di PTAI akan menggeser dari Islamic Studies ke Religious Studies? Atau tetap memilih Islamic Studies sebagai ciri kelahirannya di PTAI? Semua pilihan itu pasti ada konsekuensinya, di antaranya: miskin peminat, peluang kerja alumni terbatas dan mungkin tidak jelas. Tapi, tenang saja, kelebihannya adalah jika Anda ingin mencari da’I dengan kompetensi penguasaan pengetahuan keagamaan yang beragam hanya SAA di PTAI yang punya, selayaknya fakultas Teologi di UKDW dan USD. CRCS dengan strata duanya tidak bisa memberikan kebutuhan ini karena corak Religious Studiesnya.

Atau pilihan kedua, SAA memilih pindah ke Religious Studies? Dengan dalih, project based learning lebih mudah dan fleksibel dilakukan. SAA dapat berkontribusi lebih cepat menanggapi dan mengatasi problem-problem konflik, kewargaan, kebijakan. Begitu pun dengan kerjasama, mode ini memberikan kesempatan yang lebih luas untuk dilakukan. Dibandingkan dengan “mission based learning” yang menjadi salah satu ciri khas dari Islamic Studies.

Atau pilihan ketiga, SAA menjalani saja setiap proses ini tanpa perlu memilih salah satunya, nanti lama-lama juga tertata. Adakalanya Islamic Studies, adakalanya Religious Studies, bergantung pada tantangan yang dihadapi saat itu, dan sebaliknya. Apakah problem Religious Studies harus selalu diatasi dengan Islamic Studies dan sebaliknya, apakah problem Islamic Studies harus diatasi dengan Religious Studies?  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *