Haetami, M.Ag.
(Analis Media Sosial & Aktif di Divisi Riset & Penerbitan ASAI)
Minggu terakhir di bulan September lalu saya mengisi salah satu program Bedah Buku yang diinisiasi Asosiasi Studi Agama Indonesia. Program ini merupakan wadah bagi teman-teman ASAI untuk mengobrolkan hasil bacaan buku, baik itu buku lawas maupun buku terbitan mutaakhirin. Dalam obrolan yang berlangsung selama satu jam penuh tersebut, saya membedah buku “Identitas Arab Itu Ilusi” karya Musa Kazhim, yang merupakan salah satu buku cukup menarik. Ada dua alasan penting kenapa buku tersebut menarik dibedah dalam konteks Studi Agama-Agama.
Pertama, kehadiran buku tersebut sebagai respon dari fenomena kritik kehabiban yang membanjiri media sosial akhir-akhir ini. Tidak hanya di media sosial, kritik juga muncul dalam lingkup yang lebih nyata. Sekat antara pribumi dan golongan Arab diciptakan, bahkan dibenturkan oleh sebagian tokoh agamawan. Tidak cukup di situ, sebagian kelompok terprovokasi dengan membuat front ulama tandingan yang sifatnya pribumi sentris.
Buku “identitas Arab Itu Ilusi” menyoroti polemik seputar kehabiban di Indonesia yang tidak hanya berhenti pada perdebatan soal silsilah atau garis keturunan, melainkan menyentuh ranah yang lebih dalam: identitas, legitimasi, dan bahkan arah kebudayaan Islam di Nusantara. Buku ini hadir sebagai refleksi ilmiah dan kultural untuk membongkar lapisan-lapisan ilusi yang selama ini menutupi realitas identitas Arab–Habib di Indonesia.
Pengalaman personal Musa Kazhim sebagai penulis buku yang lahir di Jember tanpa kampung Arab, lalu tumbuh di Bangil yang kental dengan perkampungan Arab, menjadi pintu masuk untuk memahami betapa cair, rumit, dan sering kali kontradiktifnya identitas “Arab”. Sejak kecil Kazhim merasakan langsung bagaimana label “Arab” bisa jadi ejekan, kebanggaan, sekaligus bisa jadi alat politik. Identitas ini tidak sederhana, melainkan penuh paradoks, persis seperti ilusi warna kulit yang tampak nyata padahal hanyalah bayangan.
Dalam obrolan bedah buku yang cair selama satu jam, penulis menyoroti pandangan Kazhim bahwa fenomena meng-Arabkan dan meng-Habibkan keturunan Yaman merupakan konstruksi baru, yang dalam sejarah tidak dikenal pada masa awal Islamisasi Nusantara. Walisongo, misalnya, datang dari Hadramaut tapi melebur sepenuhnya dalam budaya lokal. Continue reading “Dari Bedah Buku “Identitas Arab Itu Ilusi” Sampai Praktik Riset Studi Agama-Agama Berbasis Media Sosial”

Dr. Ustadi juga menyampaikan bahwa kesalahan terhadap sesama bisa diampuni, tetapi kerusakan terhadap alam tidak akan dimaafkan. “Alam harus dijaga, bukan untuk kepentingan egois manusia,” tegasnya, sambil mengusulkan pendidikan dan kesadaran ekologis sebagai solusi. Diskusi juga membahas biocentrism, yang menekankan keseimbangan alam, serta pendekatan “cosmotheandric” yang menghubungkan Tuhan, manusia, dan alam.
As science and technology rapidly advance, we face numerous humanitarian challenges that require a collective response. One significant challenge is the diminishing awareness of care, love, empathy, and social intimacy. This issue is closely linked to the swift progress of information technology, which often fosters private spaces and undermines warm interpersonal relationships. The resulting social implications include the strengthening of transactional relationships between individuals and groups. In such conditions, qualities like closeness, love, and empathy become scarce, leading to relationships that are reduced to mere subject-object interactions. This situation poses a risk to humanity, as people begin to view others merely as accessories to their own comfort, neglecting the importance of caring for those around them.
Kegiatan dimulai pada hari Selasa pukul 14.00 WIB dengan sesi pembahasan dan pengenalan mengenai kurikulum OBE yang dipandu oleh Roni Ismail, S.Th.I., M.S.I., anggota Departemen Penerbitan dan Publikasi ASAI. Dalam paparannya, Roni yang juga menjabat sebagai Kaprodi Studi Agama-agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, menyampaikan bahwa penyusunan kurikulum pada dasarnya dapat dilakukan dengan mudah jika mengikuti prinsip-prinsip OBE.
Join us at International Conference on Ushuluddin and Humanities Studies (ICONUSH) 2024 & Simposium Nasional Studi Agama XII
Saya masuk ruang disambut oleh penerima tamu dan daftar hadir. Alhamdulillah ada nama dan atas nama apa saya perlu hadir. Saya menghadiri atas nama Asosiasi Studi Agama Indonesia, yang biasa dipanggil ASAI. Daftar hadir sudah selesai saya tanda tangani. Lalu among tamu memberikan souvenir, salah satunya buku karya Prof. Ahmad Muttaqin, S.Ag., M.Ag., M.A., Ph.D. yang akan dikukuhkan hari ini. Ketika saya hadir, tidak semua kursi penuh. Saya masih dengan leluasa bisa memilih tempat duduk.