#BACA AGAMA: Riset Studi Agama, Siapa Takut?!

Pada Jumat, 15/Mei/26 – Asosiasi Studi Agama Indonesia (ASAI) menghadirkan program “BACA AGAMA” sebagai ruang literasi akademik untuk memperkuat pembacaan kembali secara detail dan kritis terhadap isu agama, budaya, dan kemanusiaan. Program ini mengajak publik akademik, peneliti, mahasiswa, dan pemerhati studi agama untuk membaca, berdiskusi, serta merefleksikan perkembangan kajian studi agama secara lebih terbuka dan ilmiah.

Dengan adanya segmen #BACA AGAMA diharapkan mengusung semangat baru yang mendorong kembali para penggiat studi agama membaca dan me-review tema-tema kajian agama secara mendalam. Segmen ini juga sebagai ajakan untuk membangun budaya membaca dan berdiskusi secara kolektif. Melalui pendekatan akademik, program ini tidak hanya menempatkan agama sebagai objek keyakinan secara spiritual, tetapi agama juga sebagai fenomena sosial, budaya, historis, dan kemanusiaan yang dapat dikaji melalui berbagai perspektif ilmu pengetahuan.

Pada permulaan segmen ini, pertanyaan yang diangkat adalah “Apakah agama itu nyata?”. Tentunya pertanyaan tersebut membuka ruang diskusi yang luas mengenai bagaimana agama hadir dalam pengalaman manusia, praktik sosial, institusi budaya, relasi komunitas, serta dinamika kehidupan sehari-hari. Dan sebagai pembuka, diskusi tersebut direfleksikan dengan pembacaan ulang buku Ten Theories of Religion  yang ditulis oleh  Daniel Pals.

Pertemuan pertama program ini, berjalan sangat antusias. Kali ini Muryana, S.Th.I., M.Hum. berlaku sebagai pemantik awal diskusi yang menyampaikan opini, keluh dan kesah terhadap studi agama, yang kemudian terfokus pada refleksi buku Ten Theories of Religion tersebut. Tentunya hal ini mendapatkan tanggapan yang sangat baik, dan interaktif, sehingga diskusi berjalan amat sangat aktif.

Untuk merespon kegelisahan para peserta pada pertemuan pertama program ini, ASAI berkolaborasi dengan Sekolah Riset Satukata untuk pertemuan-pertemuan selanjutnya. Dukungan ini menunjukkan komitmen bersama dalam memperkuat ekosistem literasi, riset, dan diskusi akademik di bidang studi agama di Indonesia. Hingga Jumat, 28 Agustus 2026 #BACAAGAMA berhasil dilaksanakan sebanyak 13 kali pertemuan bersama Sekolah Riset Satukata dengan ragam tema pembahasannya,
https://www.instagram.com/p/DcfbBWKM_OA/?stkn=MWx4dWRkNmJnMDVzbA==

 

Problem dan Krisis Ekologis Menuntut “Pertobatan Ekologis” yang Mendalam


Bandung – 19 Agustus 2026, UIN Sunan Gunung Djati, Gedung Rektorat. Jika Prof. Wawan bergerak dari manuskrip menuju etika ekologis, Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto membawa peserta sejenak pada medan perdebatan filsafat lingkungan. Presentasinya, “Problem Ekologis,” memetakan beragam respons terhadap kerusakan lingkungan, mulai dari pendekatan kasuistik atau piecemeal approach, perluasan horizon moral, hingga pendekatan yang lebih radikal seperti deep ecology, social ecology, ecofeminism, dan gagasan dalam ensiklik Laudato Si’.

Prof. Bambang tampak tidak puas ketika problem ekologis hanya diselesaikan melalui tindakan-tindakan parsial. Mengontrol pencemaran, mengatur aktivitas bisnis, memperbaiki regulasi, mendaur ulang sampah, atau meningkatkan kesadaran publik memang diperlukan. Hal tersebut telah menjadi kewajiban bagi manusia. Namun, ketika krisis sudah menyangkut sistem produksi, konsumsi, politik, teknologi, dan cara manusia melihat dirinya sendiri, solusi tersebut menjadi tidak efektif dan juga tidak memperbaiki kerusakan.

Ia juga tidak menerima begitu saja berbagai teori ekologis radikal. Deep ecology, transpersonal ecology, social ecology, dan ecofeminism dibaca sekaligus diuji batas-batas argumentasinya. Di antara pendekatan yang dibahas adalah, bagaimana ia menempatkan Laudato Si’ sebagai salah satu formulasi paling komprehensif karena menghubungkan ekologi dengan problem sosial, ekonomi, teknologi, martabat manusia, kemiskinan, dan tanggung jawab bersama. Kata kunci yang kemudian muncul adalah “pertobatan ekologis”– perubahan yang tidak berhenti pada perilaku individual, tetapi menyentuh berbagai bidang peradaban kehidupan.

Menariknya, perubahan radikal tersebut tidak berarti meninggalkan tindakan konkret. Prof. Bambang justru menawarkan gerak dua arah. Dari bawah, komunitas perlu menghadapi problem ekologisnya berdasarkan konteks dan korban yang paling terdampak. Dari atas, kesadaran lingkungan mesti diterjemahkan menjadi kebijakan politik dan ekonomi. Pada saat yang sama, risiko ekologis perlu dibicarakan sebagai persoalan keadilan distributif-otoritatif: pihak yang paling merusak, pihak yang paling membutuhkan perlindungan, serta pihak yang memiliki sumber daya lebih besar tidak dapat dibebani tanggung jawab secara sama.

Posisi tersebut berkelindan dengan latar akademiknya. Prof. Bambang merupakan Guru Besar Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, dengan wilayah kajian yang mencakup postmodernisme, filsafat ilmu, persoalan kebudayaan, dan estetika kontemporer. Karya-karyanya selama bertahun-tahun memperlihatkan perhatian pada perubahan kebudayaan dan konsekuensi peradaban modern. Selain karya buku seperti Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat, tulisan akademiknya juga memasuki tema-tema pengalaman manusia kontemporer. Di Extension Course Filsafat UNPAR, misalnya, ia menulis “Kematian” dan kemudian “Digital Detox”, yang menunjukkan konsistensi perhatian terhadap persoalan makna, perkembangan teknologi, dan kondisi manusia modern.

Dalam kerangka dan pemikiran akumulatif yang ia miliki, problem ekologis baginya merupakan problem peradaban. “Kita tidak hanya perlu memperbaiki lingkungan, tetapi juga memeriksa kembali logika kebudayaan yang membuat kerusakan tersebut terus diproduksi.” Ujarnya (Febrian Arif)

Source Image: @fbro.arif

Membaca Kembali Manuskrip Wèwèkas sebagai Etika Ekologis

Bandung – 19 Agustus 2026, UIN Sunan Gunung Djati, Gedung Rektorat. Prof. Dr. H. Wawan Hernawan, M.Ag. membuka ruang pembacaan terhadap hubungan agama dan ekologi melalui khazanah manuskrip Sunda lama. Ia memaparkan topik seputar “Wèwèkas, Kosmologi, dan Ekologi Sakral: Kajian Eko-Teologi atas Manuskrip Sunda Lama.” Dalam presentasinya, Prof. Wawan menempatkan krisis ekologis bukan hanya sebagai persoalan teknis, melainkan juga persoalan spiritual, moral, dan kultural.

Ia membaca sejumlah naskah, antara lain Sewaka Darma, Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian, Amanat Galunggung, serta Wèwèkas dan Ipat-ipat yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Djati. Dari sajian korpus tersebut, alam tidak tampil semata-mata sebagai sumber daya yang tersedia untuk dikuasai manusia. Hutan, air, gunung, kabuyutan, dan ruang kehidupan ditempatkan dalam tatanan kosmologis yang memiliki nilai moral sekaligus kesakralan.

Kerangka yang ditawarkan adalah mempertemukan Tuhan, kosmos, manusia, dan etika. Manusia dipahami sebagai penjaga yang memiliki tanggung jawab mempertahankan keseimbangan kehidupan. Dalam pembacaan ini, konsep seperti Tri Tangtu, Dasa Kreta, kabuyutan, parahyangan, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap tatanan kehidupan dapat dibaca kembali sebagai sumber etika ekologis.

Pada bagian sintesis materi, pesan manuskrip tersebut dipertemukan dengan konsep-konsep ekologis dalam tradisi agama lain: khalifah dan mīzān dalam Islam, stewardship dan creation care dalam kekristenan, serta dharma, ṛta, dan ahimsa dalam tradisi Hindu-Buddha. Titik temunya adalah pandangan bahwa pemeliharaan bumi tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab spiritual manusia. Salah satu konsep dalam materi Prof. Wawan bahkan menjelaskan bahwa, merawat alam bukan semata kewajiban ekologis, tetapi bagian dari pengabdian kepada Sang Pencipta.

Pembacaan seperti ini bukan wilayah baru dalam perjalanan akademik beliau. Ia merupakan Guru Besar Ilmu Sejarah Peradaban Islam di Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan dalam forum ini juga hadir sebagai bagian dari Dewan Penasihat ASAI. Penelitiannya selama beberapa tahun memperlihatkan perhatian kuat terhadap sejarah Islam, manuskrip, kearifan Sunda, dan proses perjumpaan Islam dengan budaya lokal.

Pada 2021, bersama Irma Riyani, Ph.D dan Dr. Busro, M.Ag, ia menerbitkan penelitian tentang pesan moderasi beragama dalam Naskah Wawacan Babad Walangsungsang di HTS Teologiese Studies/Theological Studies. Pada 2024, Prof. Wawan kembali memasuki wilayah manuskrip melalui artikel “Exploring Wèwèkas and Ipat-Ipat attributed to Sunan Gunung Djati: Insights from the Sajarah Peteng Manuscript” di Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya. Kajian itu menggunakan kerja filologis berupa inventarisasi, deskripsi, transliterasi, dan pembacaan teks untuk menggali pesan-pesan Wèwèkas dan Ipat-ipat.

Karena itu, ketika beliau menjelaskan hal tentang Wèwèkas ke dalam percakapan ekoteologi, hal tersebut bukan sekadar usaha mencari “pesan hijau” dari masa lalu. Ia mengusulkan agar warisan intelektual lokal kembali ditempatkan sebagai sumber pengetahuan dalam menghadapi persoalan kontemporer.

Dari Wèwèkas Sunda hingga Blue Justice: Empat Perspektif Membaca Krisis Ekologi dalam Simposium Nasional Studi Agama XIV


Bandung – 19 Agustus 2026, UIN Sunan Gunung Djati, Gedung Rektorat. Persoalan lingkungan tidak berhenti pada rusaknya hutan, tercemarnya laut, menyusutnya keanekaragaman hayati, atau perubahan iklim. Di balik kerusakan yang tampak secara fisik itu terdapat persoalan yang lebih mendasar: cara manusia memandang alam, bagaimana agama membentuk tanggung jawab terhadap kehidupan, siapa yang memperoleh manfaat dari pembangunan, dan siapa yang justru menanggung ongkos ekologisnya.

Persoalan-persoalan tersebut mengemuka dalam rangkaian Simposium Nasional Studi Agama XIV dan Konferensi Internasional yang diselenggarakan Asosiasi Studi Agama Indonesia (ASAI) bersama Program Studi Studi Agama-Agama UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 19–21 Agustus 2026. Mengusung tema “Religious Studies and Ecological Issues in the Nusantara Manuscript: Past Influence and Future Challenge”, forum ini mempertemukan perspektif Studi Agama-Agama dengan persoalan ekologi, manuskrip Nusantara, kearifan lokal, dan tantangan pembangunan kontemporer.

Di antara pembicaraan yang berkembang, empat pemikir menawarkan pintu masuk yang berbeda. Prof. Dr. H. Wawan Hernawan, M.Ag. mengajak melihat kembali kosmologi dan pesan ekologis dalam manuskrip Sunda lama. Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto, LPh. membedah problem ekologis melalui perdebatan filsafat lingkungan kontemporer. Dr. Budhy Munawar-Rachman membawa diskusi ke wilayah ekoteologi antaragama dan spiritualitas bumi. Sementara itu, Dr. Steve G. C. Gaspersz, M.Si., M.A. membawa persoalan tersebut ke konteks yang sangat konkret: pembangunan kepulauan Maluku, keadilan ekologis, dan kehidupan masyarakat laut-pulau. Keempatnya tercatat sebagai narasumber dalam agenda Simposium Nasional Studi Agama XIV.

Diskusi ini dipandu oleh Dr. Raden Roro Sri Rejeki Waluya Jati, MA. Latarbelakang keilmuan dari para narasumber menyajikan paradigma baru dalam memandang isu ekologi. Hal tersebut juga disambut dengan antusias oleh para partisipan seminar dengan tanggapan dan pertanyaan interaktif.

 

Simposium Nasional Studi Agama ke-14 dan Konferensi Internasional ASAI Mendorong Penguatan Dialog Akademik Agama, Ekologi, dan Khazanah Manuskrip Nusantara


 

Bandung –Simposium Nasional Studi Agama XIV dan International Conference ASAI resmi dibuka pada Rabu, 19 Agustus 2026 oleh Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pembukaan kegiatan berlangsung di Gedung Bodas Kampus 2 UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan menjadi awal dari rangkaian kegiatan yang dilaksanakan pada 19–21 Agustus 2026.

Simposium Nasional Studi Agama XIV mengangkat tema “Religious Studies and Ecological Issues in the Nusantara Manuscript: Past Influence and Future Challenge.” Tema ini menempatkan isu agama, ekologi, dan manuskrip Nusantara sebagai ruang kajian bersama untuk membaca kembali pengetahuan masa lalu sekaligus merespons berbagai tantangan ekologis pada masa kini.

Rangkaian pembukaan diawali dengan doa bersama. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Panitia, Dr. Ilim Abdul Halim, M.A., Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. Wahyudin Darmalaksana, M.Ag., serta Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag.

Simposium ini diikuti peserta dari berbagai daerah dan latar belakang kelembagaan. Peserta berasal dari perguruan tinggi, lembaga akademik, lembaga keagamaan, serta berbagai kelompok yang memiliki perhatian terhadap perkembangan studi agama. Sekitar 70 presenter turut ambil bagian dalam forum ilmiah ini. Sejumlah guru besar, profesor, akademisi, dan peneliti dalam bidang religious studies juga hadir dan berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan.

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung berharap simposium ini tidak hanya menjadi ruang pertemuan akademik, tetapi juga mampu melahirkan berbagai gagasan baru bagi perkembangan studi agama.

“Acara ini diharapkan melahirkan konsep-konsep dan ide-ide baru yang berkaitan dengan religious studies,” ungkap Prof. Dr. Wahyudin Darmalaksana, M.Ag.

Sementara itu, Rektor UIN

Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., menyoroti relevansi ekoteologi dan manuskrip Nusantara sebagai salah satu isu penting dalam kajian agama kontemporer. Menurutnya, manuskrip dapat menjadi pintu masuk untuk membaca kembali bagaimana masyarakat pada masa lalu memahami hubungan antara agama, manusia, dan lingkungan.

“Isu dengan tema ekoteologi dengan landasan manuskrip adalah sebuah isu yang menarik. Kita dapat menelaah kembali peradaban dahulu yang menjelaskan tentang isu ekologi, kemudian mengelaborasinya dengan pemikiran serta isu terkini,” ujar Prof. Rosihon dalam sambutan pembukaan.

Ia juga menekankan bahwa pembahasan mengenai agama dan ekologi tidak cukup berhenti pada wilayah teoritis. Kajian akademik perlu diarahkan agar memiliki relevansi dan memberi kontribusi nyata terhadap persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat saat ini.

“Saya berharap pembahasan ini dalam wadah studi agama tidak hanya berhenti pada landasan teoritis, tetapi juga harus memiliki praktik nyata,” tambahnya.

Melalui Simposium Nasional Studi Agama XIV dan Konferensi Internasional ini, ASAI mendorong penguatan dialog akademik mengenai keterhubungan agama, ekologi, dan khazanah manuskrip Nusantara. Forum ini sekaligus menjadi ruang bagi akademisi, peneliti, dan pegiat studi agama untuk bertukar gagasan serta merumuskan perspektif baru dalam menjawab persoalan ekologis melalui pendekatan religious studies. (Bung Arif)

Call for Papers!

Simposium Nasional ASAI XIV dan Konferensi Internasional membuka kesempatan bagi para akademisi, peneliti, dosen, mahasiswa, dan pemerhati studi agama untuk berkontribusi secara aktif melalui pengiriman paper ilmiah. Partisipasi ini merupakan bagian penting dari upaya kolektif dalam memperkaya diskursus akademik mengenai relasi agama, manuskrip Nusantara, dan isu-isu ekologis dalam perspektif interdisipliner.

Call for Papers ini dirancang sebagai ruang berbagi gagasan dan temuan penelitian yang relevan dengan tema besar simposium, yaitu eksplorasi pengaruh historis manuskrip terhadap pemikiran keagamaan serta tantangan masa depan dalam konteks ekologi dan kemanusiaan. Melalui forum ini, para peserta tidak hanya mempresentasikan hasil riset, tetapi juga terlibat dalam dialog ilmiah yang membuka kemungkinan kolaborasi lintas institusi dan disiplin ilmu.

Paper yang dikirimkan diharapkan memberikan kontribusi konseptual maupun empiris terhadap pengembangan studi agama-agama, khususnya dalam memahami hubungan antara nilai-nilai religius, tradisi budaya, dan keberlanjutan lingkungan. Dengan demikian, Call for Papers ini menjadi kesempatan strategis untuk mengintegrasikan refleksi akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat dalam merespons tantangan ekologis kontemporer. Continue reading “Call for Papers!” →

Ruang Pertemuan Gagasan: Agenda dan Manfaat Simposium

Simposium Nasional ASAI XIV dan Konferensi Internasional dirancang sebagai ruang akademik yang komprehensif untuk mempertemukan para cendekiawan, peneliti, dosen, mahasiswa, dan pemerhati studi agama dalam satu forum dialog ilmiah. Selama tiga hari pelaksanaan, rangkaian kegiatan tidak hanya menghadirkan diskusi akademik, tetapi juga proses refleksi kolektif untuk merumuskan arah pengembangan kajian studi agama-agama, khususnya dalam perspektif ekologi dan manuskrip Nusantara.

Kegiatan diawali dengan sesi pembukaan dan keynote speech yang memberikan kerangka konseptual mengenai peluang dan tantangan studi agama-agama dalam merespons isu ekologis serta warisan manuskrip. Sesi ini menjadi fondasi intelektual yang menghubungkan tema besar simposium dengan konteks keilmuan kontemporer. Selanjutnya, rangkaian seminar tematik menghadirkan para pakar dari berbagai perguruan tinggi dengan perspektif multidisipliner untuk mendiskusikan relasi antara agama, lingkungan, dan dinamika sosial.

Selain diskusi substantif, kegiatan ini juga memuat sesi penguatan kapasitas akademik, seperti seminar pengelolaan jurnal yang bertujuan meningkatkan kualitas publikasi ilmiah dalam bidang studi agama. Pada hari berikutnya, konferensi internasional menghadirkan pembicara dari jaringan global untuk memperluas horizon keilmuan sekaligus membuka ruang dialog lintas perspektif. Rangkaian panel forum dan sidang komisi dirancang sebagai ruang deliberatif untuk merumuskan rekomendasi akademik dan arah pengembangan kajian ke depan.

Simposium ini tidak hanya berfungsi sebagai forum presentasi gagasan, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi strategis. Melalui diskusi, panel, dan sidang pleno, peserta akan terlibat dalam proses pertukaran pengetahuan yang memungkinkan lahirnya perspektif baru mengenai relasi agama, tradisi lokal, dan konservasi lingkungan. Selain itu, sesi penguatan kurikulum dan perumusan hasil komisi diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan kelembagaan dan kurikulum studi agama-agama di Indonesia.

Manfaat yang Diharapkan

Kegiatan ini memberikan manfaat akademik dan kelembagaan yang luas, antara lain memperkaya perspektif keilmuan tentang ekologi dan manuskrip, memperkuat jejaring antar peneliti dan institusi, serta mendorong integrasi nilai-nilai keagamaan dalam diskursus pelestarian lingkungan. Bagi peserta, simposium ini menjadi kesempatan untuk memperoleh wawasan baru, memperluas kolaborasi, serta berkontribusi dalam pengembangan arah studi agama-agama di masa depan.

Pada akhirnya, simposium ini diharapkan menjadi ruang dialog yang produktif sekaligus inspiratif, tempat di mana gagasan-gagasan akademik tidak hanya dipertukarkan, tetapi juga dirumuskan menjadi langkah konkret untuk menjawab tantangan ekologis dan kemanusiaan melalui perspektif studi agama-agama.

International Symposium XIV of ASAI Explores about Interconnectedness of Ecology, Religion Issues and Indonesian Manuscripts


Perkembangan sains dan teknologi yang berlangsung dengan sangat cepat telah menghadirkan beragam tantangan baru bagi kehidupan manusia. Kemajuan ini tidak hanya membuka peluang, tetapi juga memunculkan persoalan mendasar terkait bagaimana manusia memahami masa lalu, memaknai warisan pengetahuan, serta menempatkan dirinya dalam relasi yang berkelanjutan dengan alam semesta. Salah satu tantangan yang cukup signifikan adalah keberadaan manuskrip-manuskrip kuno yang menyimpan rekaman pemikiran dan pengalaman kolektif masyarakat masa lalu, namun pesan-pesan yang terkandung di dalamnya belum sepenuhnya terungkap dan dimanfaatkan dalam diskursus keilmuan kontemporer.

Di tengah arus informasi digital yang serba cepat, kesadaran terhadap dimensi historis dan kebijaksanaan lokal cenderung mengalami erosi. Kehidupan yang semakin instan dan pragmatis berimplikasi pada berkurangnya perhatian terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam warisan budaya tulis, termasuk manuskrip yang merekam relasi resiprokal antara manusia, alam, dan kesadaran spiritual. Akibatnya, pemahaman sosial mengenai hubungan manusia dengan lingkungan belum tergambar secara utuh dalam kajian terhadap khazanah intelektual masa lalu. Padahal, manuskrip-manuskrip Nusantara menyimpan jejak pengetahuan yang berpotensi memperkaya perspektif ekologis dan kemanusiaan di masa kini.

Kondisi tersebut menghadirkan tantangan tersendiri bagi studi agama-agama sebagai bidang keilmuan yang secara inheren mengkaji fenomena keagamaan baik dalam bentuk teks maupun praktik sosial. Isu mengenai menurunnya kedekatan relasi manusia dengan alam merupakan bagian integral dari kajian agama kontemporer, khususnya dalam perspektif ekoteologi. Dalam konteks manuskrip, kajian ini menekankan bagaimana kesadaran religius membingkai relasi manusia dengan lingkungan pada level ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Pendekatan semacam ini membuka ruang pengembangan keilmuan yang luas bagi Program Studi Studi Agama-Agama (SAA) di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Continue reading “International Symposium XIV of ASAI Explores about Interconnectedness of Ecology, Religion Issues and Indonesian Manuscripts” →

Resiprositas Ilmu untuk Masyarakat Fragmented

Kamis, 5 Februari 2026 dalam Sesi “Satu Jam Bersama Profesor” online yang diprakarsai oleh ASAI, Prof. Dr. Siswanto Masruri, M.A. hadir sebagai pembicara menyampaikan pesan tentang Humanitarianisme dan Agama serta Tantangan Ekosistem Keilmuan SAA. Beliau adalah salah satu Guru Besar dan akademisi senior di bidang Studi Islam dan Studi Agama-Agama.

Menjawab pertanyaan Muhammad Ridwan Hidayat, S.Ag., moderator, tentang perjalanan hidupnya, beliau sedikit berkeluh, dan memberi peringatan bahwa perkembangan zaman yang semakin cepat dan kompleks, berbanding lurus dengan tantangan besar dalam dunia keilmuan, khususnya di lingkungan akademik. Hal itu adalah kematian ekosistem keilmuan.

Hal tersebut terjadi akibat hilangnya beberapa aspek fundamental yang seharusnya menjadi pondasi utama dan inti bagi keberlanjutan pengetahuan dan pemahaman. “Al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal-akhdzu bil jadidil ashlah” yang berarti “memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik”, harusnya tidak hanya menjadi slogan dalam salah satu partai besar saja. Slogan ini juga dapat diterapkan bahkan menjadi solusi bagi ekosistem keilmuan. Ada yang berperan menjadi tim pemain dan ada yang berperan menjadi tim kreatif untuk pengembangan keilmuan di Perguruan Tinggi. Namun yang sangat disayangkan, prinsip ini semakin terabaikan sehingga mempengaruhi resiprositas ilmu yang seharusnya berjalan dalam semangat saling memberi dan menerima pengetahuan.

Selain, ekosistem keilmuan perguruan tinggi yang rentan bobrok disebabkan oleh pengaruh rezim dan sistem yang tidak selalu mendukung perkembangan ilmu pengetahuan yang adil dan terbuka. Hal ini selanjutnya memutuskan jaringan kolaborasi antar-pemangku kepentingan dan memperburuk fragmentasi dalam masyarakat. Tanpa resiprositas yang kuat, perkembangan ilmu menjadi terhambat dan terbatas pada lingkup yang sempit.

Resiprositas itu adalah “Memandang bidang satu dan lain, penting. Memandang lembaga satu dan lain, itu penting. Memandang kelompok satu dan lain, itu penting”, jelas Profesor yang biasa dipanggil Prof. Sis. Tentu jika seorang akademisi sudah memahami akan pentingnya resiprositas ini, maka ilmu tidak hanya diterapkan secara akademik, tapi juga dapat berpengaruh di masyarakat. Juga linearitas ilmu, mempertahankan ilmu satu dan membiarkan ilmu lain jalan, dapat ditolak.

Lalu bagaimana menyelamatkan dunia yang sudah terlanjur terfragmentasi? Prof. Sis menunjukkan rasa percayanya tentang harapan untuk perubahan itu dengan tiga hal. Pertama, memiliki kekuatan yang besar; Kedua, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi; Ketiga, memiliki hati yang bersih.

Bagaimana kehidupan masyarakat fragmented itu bermula? Dimulai dari kehidupan masyarakat yang majemuk. Masyarakat ini diselimuti dengan kepentingan masing-masing. Setiap individu hidup dalam keragaman budaya, bahasa, dan pemikiran. Namun, tidak semua orang acuh terhadap keragaman itu. Ada sebagian yang peduli, bahkan berjuang untuk membangun keharmonisan dalam perbedaan tersebut. “Humanity in diversity” dan “diversity in humanity” menunjukkan hubungan yang erat dalam hal tersebut. Sebagai suatu konsep yang saling melengkapi dan membentuk suatu tatanan sosial yang lebih inklusif. Sekali lagi, peran resiprositas ilmu menjadi sangat penting, tegas Prof. Sis. Sehingga ilmu pengetahuan, sebagaimana seharusnya, menjadi jembatan untuk membangun pemahaman yang lebih luas dan inklusif, yang merangkul semua golongan dan latar belakang. Tidak minna wa minhum, tapi setiap manusia berdiri untuk semua golongan.

Dengan demikian humanitarianisme yang berkomitmen pada kesejahteraan manusia dapat diwujudkan. Jika agama mengajarkan tentang kemanusiaan, maka sejatinya, urusan kemanusiaan adalah panggilan hidup bagi kita semua. Dalam masyarakat yang semakin terfragmentasi ini, ilmu pengetahuan bukan lagi sekadar alat untuk memperoleh kekuasaan atau keuntungan pribadi. Ilmu seharusnya menjadi sarana untuk mencapai kesejahteraan bersama, untuk memperbaiki kehidupan manusia dalam segala aspek. Resiprositas ilmu bukan hanya berbicara tentang saling memberi dan menerima pengetahuan, tetapi juga tentang bagaimana ilmu dapat digunakan untuk membangun jembatan pemahaman di antara berbagai kelompok dalam masyarakat yang majemuk.

Maka sekali lagi, resiprositas ilmu lebih mungkin diterapkan dalam masyarakat fragmented, karena masyarakat yang terbagi membutuhkan saling pengertian dan kerjasama untuk maju bersama. Di sinilah relevansi Studi Agama-Agama dalam keilmuan serta praktik kehidupan sehari-hari. “Agree in Disagreement” yang disampaikan oleh Prof. Mukti Ali pada awal 1970an relevan dan kontekstual dalam makna bahwa masyarakat tidak perlu menjadi sama, tapi bagaimana bisa hidup bersama dan bareng-bareng dalam perbedaan. [Fbr]

 

Menelaah Ulang Diskusi Agama bersama “Satu Jam Bersama Profesor” dan “Indonesian Religio Talk”

Kajian agama selama ini kerap dipersepsikan sebagai wilayah yang berat, elitis, dan berhenti pada teks, teologi, serta sejarah. Akibatnya, banyak kalangan, termasuk generasi muda dan penggiat intelektual, merasa ada jarak antara pengetahuan keagamaan yang dipelajari dan realitas sosial yang mereka hadapi sehari-hari. Padahal, di tengah dinamika masyarakat yang semakin kompleks, agama justru dituntut hadir sebagai kekuatan dialogis, reflektif, dan solutif di ruang publik.

Keresahan inilah yang menjadi alasan mengapa ruang diskusi yang ASAI buat, seperti “Satu Jam Bersama Profesor” dan “Indonesian Religio Talk” menjadi wadah dan relevan untuk dihadiri. Forum ini tidak menawarkan ceramah satu arah atau pengulangan teori, melainkan membuka ruang perjumpaan gagasan antara pengalaman akademik, kegelisahan intelektual, dan realitas sosial keagamaan. Di sini, agama dibaca bukan hanya sebagai teks, tetapi sebagai praktik hidup yang terus bernegosiasi dengan budaya, simbol, dan problem masyarakat.

Melalui kehadiran Prof. Dr. Ustadi Hamsah, M.Ag sebagai Profesor ahli dalam bidang Hubungan Antar Agama dan M. Ridwan Hidayat, S.Ag, sebagai salah satu Alumni Studi Agama-Agama Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, peserta akan diajak berinteraksi dan melihat bagaimana studi agama dapat bergerak dari ruang kelas ke ruang sosial, dari tumpukan teori ke keberanian membangun sudut pandang kritis. Diskusi ini menjadi tempat berbagi arah, kegelisahan, dan kemungkinan-kemungkinan baru dalam memahami relasi agama dan masyarakat. Dan juga sebagai upaya menciptakan sebuah ruang aman untuk berpikir, bertanya, dan menemukan relevansi keilmuan.

Maka dengan mengikuti forum ini, anda memberi waktu bagi diri sendiri untuk berhenti sejenak, merefleksikan kembali posisi kita sebagai pembelajar, penggiat, atau pemerhati isu keagamaan. Bukan sekadar mendengar, tetapi terlibat dalam percakapan bermakna tentang bagaimana agama dapat terus hidup, bekerja, dan memberi makna di tengah perubahan zaman.

Diskusi ini akan diselenggarakan pada Kamis, 15 Januari 2026 dalam dua sesi. Sesi pertama, Satu Jam Bersama Profesor pukul 10:00 -11:00 WIB, rehat sebentar lalu dilanjutkan sesi kedua, Indonesian Religio Talk pada pukul 11:30-12:30 WIB. Follow akun media sosial kami untuk update informasi & kegiatan lainnya. Silahkan kunjungi medsos kami: IG: @asosiasistudiagamaindonesia, Youtube: Asosiasi Studi Agama Indonesia, FB: Asosiasi Studi Agama Indonesia. [Fbr]