
Perkembangan sains dan teknologi yang berlangsung dengan sangat cepat telah menghadirkan beragam tantangan baru bagi kehidupan manusia. Kemajuan ini tidak hanya membuka peluang, tetapi juga memunculkan persoalan mendasar terkait bagaimana manusia memahami masa lalu, memaknai warisan pengetahuan, serta menempatkan dirinya dalam relasi yang berkelanjutan dengan alam semesta. Salah satu tantangan yang cukup signifikan adalah keberadaan manuskrip-manuskrip kuno yang menyimpan rekaman pemikiran dan pengalaman kolektif masyarakat masa lalu, namun pesan-pesan yang terkandung di dalamnya belum sepenuhnya terungkap dan dimanfaatkan dalam diskursus keilmuan kontemporer.
Di tengah arus informasi digital yang serba cepat, kesadaran terhadap dimensi historis dan kebijaksanaan lokal cenderung mengalami erosi. Kehidupan yang semakin instan dan pragmatis berimplikasi pada berkurangnya perhatian terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam warisan budaya tulis, termasuk manuskrip yang merekam relasi resiprokal antara manusia, alam, dan kesadaran spiritual. Akibatnya, pemahaman sosial mengenai hubungan manusia dengan lingkungan belum tergambar secara utuh dalam kajian terhadap khazanah intelektual masa lalu. Padahal, manuskrip-manuskrip Nusantara menyimpan jejak pengetahuan yang berpotensi memperkaya perspektif ekologis dan kemanusiaan di masa kini.
Kondisi tersebut menghadirkan tantangan tersendiri bagi studi agama-agama sebagai bidang keilmuan yang secara inheren mengkaji fenomena keagamaan baik dalam bentuk teks maupun praktik sosial. Isu mengenai menurunnya kedekatan relasi manusia dengan alam merupakan bagian integral dari kajian agama kontemporer, khususnya dalam perspektif ekoteologi. Dalam konteks manuskrip, kajian ini menekankan bagaimana kesadaran religius membingkai relasi manusia dengan lingkungan pada level ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Pendekatan semacam ini membuka ruang pengembangan keilmuan yang luas bagi Program Studi Studi Agama-Agama (SAA) di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Sebagai disiplin yang bersifat interdisipliner, SAA memiliki kapasitas untuk merespons perubahan zaman melalui integrasi berbagai metode dan perspektif. Namun, pengembangan kajian di masing-masing program studi masih banyak dilakukan secara mandiri sehingga jejaring kolaborasi akademik belum terbangun secara optimal. Kehadiran Asosiasi Studi Agama Indonesia (ASAI), serta pengadaan acara Simposium Intenasional yang ke-14, telah menjadi langkah penting dalam menjembatani kebutuhan tersebut, meskipun penguatan jejaring akademik yang lebih sistematis masih menjadi pekerjaan bersama. Upaya ini penting tidak hanya untuk memperkaya pengembangan metodologi dan sumber kajian, tetapi juga untuk mendorong diseminasi kesadaran empatik dan nilai compassion dalam memahami fenomena keagamaan secara lebih komprehensif.
Simposium ini hadir sebagai ruang pertemuan akademik yang memungkinkan para peneliti, dosen, dan pemerhati studi agama untuk mendiskusikan secara mendalam isu ekoteologi dalam manuskrip Nusantara, sekaligus merumuskan arah pengembangan kajian ke depan. Forum ini diharapkan dapat memperkuat fondasi epistemologis studi agama-agama, memperluas jejaring kolaborasi, serta mengintegrasikan perspektif historis dengan tantangan ekologis kontemporer.
Melalui penyelenggaraan simposium ini, ASAI berupaya menghadirkan wadah strategis untuk merumuskan model pengembangan kajian, menyusun pola pelaksanaan kolaboratif, serta mengkampanyekan kesadaran ekologis dalam bingkai kesadaran keagamaan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang pertukaran gagasan, tetapi juga momentum untuk menghidupkan kembali dialog antara warisan intelektual masa lalu dan kebutuhan kemanusiaan masa depan. Dengan demikian, simposium ini memiliki signifikansi penting sebagai langkah kolektif dalam memperkaya pemahaman tentang relasi agama, manuskrip, dan ekologi dalam konteks Nusantara maupun global.
