Resiprositas Ilmu untuk Masyarakat Fragmented

Kamis, 5 Februari 2026 dalam Sesi “Satu Jam Bersama Profesor” online yang diprakarsai oleh ASAI, Prof. Dr. Siswanto Masruri, M.A. hadir sebagai pembicara menyampaikan pesan tentang Humanitarianisme dan Agama serta Tantangan Ekosistem Keilmuan SAA. Beliau adalah salah satu Guru Besar dan akademisi senior di bidang Studi Islam dan Studi Agama-Agama.

Menjawab pertanyaan Muhammad Ridwan Hidayat, S.Ag., moderator, tentang perjalanan hidupnya, beliau sedikit berkeluh, dan memberi peringatan bahwa perkembangan zaman yang semakin cepat dan kompleks, berbanding lurus dengan tantangan besar dalam dunia keilmuan, khususnya di lingkungan akademik. Hal itu adalah kematian ekosistem keilmuan.

Hal tersebut terjadi akibat hilangnya beberapa aspek fundamental yang seharusnya menjadi pondasi utama dan inti bagi keberlanjutan pengetahuan dan pemahaman. “Al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal-akhdzu bil jadidil ashlah” yang berarti “memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik”, harusnya tidak hanya menjadi slogan dalam salah satu partai besar saja. Slogan ini juga dapat diterapkan bahkan menjadi solusi bagi ekosistem keilmuan. Ada yang berperan menjadi tim pemain dan ada yang berperan menjadi tim kreatif untuk pengembangan keilmuan di Perguruan Tinggi. Namun yang sangat disayangkan, prinsip ini semakin terabaikan sehingga mempengaruhi resiprositas ilmu yang seharusnya berjalan dalam semangat saling memberi dan menerima pengetahuan.

Selain, ekosistem keilmuan perguruan tinggi yang rentan bobrok disebabkan oleh pengaruh rezim dan sistem yang tidak selalu mendukung perkembangan ilmu pengetahuan yang adil dan terbuka. Hal ini selanjutnya memutuskan jaringan kolaborasi antar-pemangku kepentingan dan memperburuk fragmentasi dalam masyarakat. Tanpa resiprositas yang kuat, perkembangan ilmu menjadi terhambat dan terbatas pada lingkup yang sempit.

Resiprositas itu adalah “Memandang bidang satu dan lain, penting. Memandang lembaga satu dan lain, itu penting. Memandang kelompok satu dan lain, itu penting”, jelas Profesor yang biasa dipanggil Prof. Sis. Tentu jika seorang akademisi sudah memahami akan pentingnya resiprositas ini, maka ilmu tidak hanya diterapkan secara akademik, tapi juga dapat berpengaruh di masyarakat. Juga linearitas ilmu, mempertahankan ilmu satu dan membiarkan ilmu lain jalan, dapat ditolak.

Lalu bagaimana menyelamatkan dunia yang sudah terlanjur terfragmentasi? Prof. Sis menunjukkan rasa percayanya tentang harapan untuk perubahan itu dengan tiga hal. Pertama, memiliki kekuatan yang besar; Kedua, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi; Ketiga, memiliki hati yang bersih.

Bagaimana kehidupan masyarakat fragmented itu bermula? Dimulai dari kehidupan masyarakat yang majemuk. Masyarakat ini diselimuti dengan kepentingan masing-masing. Setiap individu hidup dalam keragaman budaya, bahasa, dan pemikiran. Namun, tidak semua orang acuh terhadap keragaman itu. Ada sebagian yang peduli, bahkan berjuang untuk membangun keharmonisan dalam perbedaan tersebut. “Humanity in diversity” dan “diversity in humanity” menunjukkan hubungan yang erat dalam hal tersebut. Sebagai suatu konsep yang saling melengkapi dan membentuk suatu tatanan sosial yang lebih inklusif. Sekali lagi, peran resiprositas ilmu menjadi sangat penting, tegas Prof. Sis. Sehingga ilmu pengetahuan, sebagaimana seharusnya, menjadi jembatan untuk membangun pemahaman yang lebih luas dan inklusif, yang merangkul semua golongan dan latar belakang. Tidak minna wa minhum, tapi setiap manusia berdiri untuk semua golongan.

Dengan demikian humanitarianisme yang berkomitmen pada kesejahteraan manusia dapat diwujudkan. Jika agama mengajarkan tentang kemanusiaan, maka sejatinya, urusan kemanusiaan adalah panggilan hidup bagi kita semua. Dalam masyarakat yang semakin terfragmentasi ini, ilmu pengetahuan bukan lagi sekadar alat untuk memperoleh kekuasaan atau keuntungan pribadi. Ilmu seharusnya menjadi sarana untuk mencapai kesejahteraan bersama, untuk memperbaiki kehidupan manusia dalam segala aspek. Resiprositas ilmu bukan hanya berbicara tentang saling memberi dan menerima pengetahuan, tetapi juga tentang bagaimana ilmu dapat digunakan untuk membangun jembatan pemahaman di antara berbagai kelompok dalam masyarakat yang majemuk.

Maka sekali lagi, resiprositas ilmu lebih mungkin diterapkan dalam masyarakat fragmented, karena masyarakat yang terbagi membutuhkan saling pengertian dan kerjasama untuk maju bersama. Di sinilah relevansi Studi Agama-Agama dalam keilmuan serta praktik kehidupan sehari-hari. “Agree in Disagreement” yang disampaikan oleh Prof. Mukti Ali pada awal 1970an relevan dan kontekstual dalam makna bahwa masyarakat tidak perlu menjadi sama, tapi bagaimana bisa hidup bersama dan bareng-bareng dalam perbedaan. [Fbr]

 

Studi Agama Terapan: Cara Beragama yang Menggembirakan

Kamis, 30 Mei 2024 di Gedung Amin Abdullah, dulu sering dipanggil Gedung MP, Ketua Asosiasi Studi Agama Indonesia menyampaikan pidato pengukuhan guru besarnya. Pengukuhan ini dihadiri oleh keluarga, kolega dan rekan sejawat. Bagaimana menjawab pertanyaan calon mahasiswa studi agama? Dari sini pidato pengukuhan ini dimulai.

Saya masuk ruang disambut oleh penerima tamu dan daftar hadir. Alhamdulillah ada nama dan atas nama apa saya perlu hadir. Saya menghadiri atas nama Asosiasi Studi Agama Indonesia, yang biasa dipanggil ASAI. Daftar hadir sudah selesai saya tanda tangani. Lalu among tamu memberikan souvenir, salah satunya buku karya Prof. Ahmad Muttaqin, S.Ag., M.Ag., M.A., Ph.D. yang akan dikukuhkan hari ini. Ketika saya hadir, tidak semua kursi penuh. Saya masih dengan leluasa bisa memilih tempat duduk.

Tidak lama kemudian, acara pun dimulai. Seperti biasa, ada pembukaan, menyanyikan lagu kebangsaan dan hymne UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ketua senat menyapa para hadirin yang hadir. Di antaranya kolega Ketua ASAI dari jajaran pimpinan Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nasir, M.Si dan Prof. Dr. Muchlas, M.T., Rektor UAD Bersama dengan Wakil Rektor dan BPH UAD Yogyakarta. Tentunya dihadiri oleh keluarga besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Keluarga besar dari Profesor yang juga menjabat sebagai Wakil Direktur PPs UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

“Jika kuliah di jurusan Perbandingan Agama atau Prodi Studi Agama-Agama, setelah lulus akan menjadi apa, kerja di mana?”, pertanyaan para siswa SLTA ketika sosialisasi prodi dilakukan ke sekolah dan madrasah inilah yang mengantarkan Ahmad Muttaqin pada capaian guru besarnya. “Kajian epistemologi, ontologis dan aksiologis untuk menghasilkan alumni menjadi manusia yang memiliki keimanan dan ilmuan yang kokoh perlu terus dilakukan karena PA/SAA tidak untuk mencetak tukang”, tegas beliau. Tidak berhenti sampai di sini, jawaban ini dipertanyakan lagi dalam riset-riset yang beliau lakukan.

Continue reading “Studi Agama Terapan: Cara Beragama yang Menggembirakan” →

Making Comparative Religion a Perspective

Writen by: Muryana, S.Th.I, M.Hum

I would like to share my experiences as a resource person during the Redesign Curriculum Workshop on the Religious Studies, which I attended some time ago. My first question is: what prompted the redesign of the curriculum? Secondly, what type of graduates does the Religious Studies program aim to produce?

I began by recalling the courses I took while studying Comparative Religion. Next, I reviewed the current curriculum. Although the courses offered are largely similar, there are some new additions. Based on this comparison, an important skill for alumni of Comparative Religion, I identified a structure that I could follow. First, I study my own religion. Second, I explore other people's religions. Third, I learn various approaches and tools to analyze both my religion and others. Finally, I am encouraged to determine which religion I wish to pursue further.

I learned about my own religion through various courses, previously referred to as institutional courses, as well as courses specifically focused on Islam and those that provide a foundation for understanding it. The subjects I studied include the Qur'an, Hadith and their sciences, Arabic, Fiqh, Sufism, the History of Islamic Civilization, and Tafsir. I recall Dr. Moh Damami Zein explaining in class that studying at State Institute for Islamic Studies (IAIN) serves as a bridge between Islamic boarding schools and higher education. This implies that one of the prerequisites for attending IAIN is ideally having a foundational understanding of Islamic studies from the previous school level. Consequently, education at IAIN is not designed for beginners in religion; rather, the Islamic courses offered are intended for further analysis and advanced study. Will this shake our faith as Muslims? There are many concepts and tools that need to be learned in order to conduct careful and in-depth analysis. Personally, I find myself increasingly eager to deepen my understanding of Islam at this stage in my studies.

Continue reading “Menjadikan Perbandingan Agama sebagai Cara Pandang” →

Call For Book Chapter on 10th ASAI

Call For Book Chapter on 10th ASAI
📖📒📔📓📚
ASAI (Asosiasi Studi Agama Indonesia) mengudang Ibu/Bapak/Sdr/i pegiat Studi Agama-Agama di Indonesia untuk menulis dengan tema naskah sebagai berikut:
1. Dinamika Agama Lokal di Indonesia
2. Penelitian Keagamaan: Pendekatan, Teori dan Metode
3. Arah Baru Studi Agama di Indonesia
📄Tulisan maksimal 3500-5000 kata, Times New Roman 12
📝 Naskah kami terima sejak tanggal 10 Juni-10 Juli 2022
📧 Silahkan dikirim ke alamat email: asosiasistudiagamaindonesia@gmail.com
.
.
.
Follow akun media sosial kami untuk update informasi & kegiatan lainnya.
Info lebih lanjut hubungi CP: 085722200060
Silahkan kunjungi medsos kami:
IG: @asaionline
Youtube: Asosiasi Studi Agama Indonesia
FB: Asosiasi Studi Agama Indonesia
Website: www.studiagama.or.id

REFORMULATING THE CHALLENGES OF RELIGIOUS STUDIES IN INDONESIA #2

Muryana, S.Th.I., M. Hum

MBKM Based on Alumni Data or Religious Studies Enthusiast Data?

What context exists beyond practice? For me, MBKM is not solely about practicing, especially concerning its administration. Rather, MBKM raises the question, "Where do you want to take Religious Studies?"

When I entered Religious Studies, I always remembered and echoed the idea that Comparative Religion/Religious Studies does not produce craftsmen. So, what does this mean? This sentiment is essential as it guides our understanding of graduate competency. During a recent Religious Studies alumni meeting at UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, it was emphasized that "the appropriate formulation of graduate competency will address job opportunities for Religious Studies alumni." This conclusion suggests that Religious Studies must respond to labor market needs, thereby recognizing that its alumni are indeed craftsmen. Similarly, I believe that the MBKM initiative is designed to align with market demands. Students are given the opportunity to study for three semesters to gain the necessary skills and prepare for employment after graduation. Therefore, education in this context is directly linked to workforce readiness. It is not surprising that the Islamic Education study program is more popular than Comparative Religion/Religious Studies, as the job market for Islamic Education graduates is clearer. Given this perspective, the implementation of MBKM should be based on the provisions that Religious Studies prepares for its alumni. What specific provisions and skills do these alumni acquire from their studies in Religious Studies? Continue reading “MERUMUSKAN KEMBALI TANTANGAN STUDI AGAMA-AGAMA DI INDONESIA #2” →

Reformulating the Challenges of Religious Studies in Indonesia #1

Muryana, S.Th.I., M. Hum

Honestly, when I was asked to share about "Proposed Ideas for Implementing MBKM in Religious Studies," I felt confused. What should I share?

The Practice of MBKM at Sekolah Riset Satukata

Allright, I will begin with the following image: Continue reading “MERUMUSKAN KEMBALI TANTANGAN STUDI AGAMA-AGAMA DI INDONESIA #1” →