Kamis, 30 Mei 2024 di Gedung Amin Abdullah, dulu sering dipanggil Gedung MP, Ketua Asosiasi Studi Agama Indonesia menyampaikan pidato pengukuhan guru besarnya. Pengukuhan ini dihadiri oleh keluarga, kolega dan rekan sejawat. Bagaimana menjawab pertanyaan calon mahasiswa studi agama? Dari sini pidato pengukuhan ini dimulai.
Saya masuk ruang disambut oleh penerima tamu dan daftar hadir. Alhamdulillah ada nama dan atas nama apa saya perlu hadir. Saya menghadiri atas nama Asosiasi Studi Agama Indonesia, yang biasa dipanggil ASAI. Daftar hadir sudah selesai saya tanda tangani. Lalu among tamu memberikan souvenir, salah satunya buku karya Prof. Ahmad Muttaqin, S.Ag., M.Ag., M.A., Ph.D. yang akan dikukuhkan hari ini. Ketika saya hadir, tidak semua kursi penuh. Saya masih dengan leluasa bisa memilih tempat duduk.
Tidak lama kemudian, acara pun dimulai. Seperti biasa, ada pembukaan, menyanyikan lagu kebangsaan dan hymne UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ketua senat menyapa para hadirin yang hadir. Di antaranya kolega Ketua ASAI dari jajaran pimpinan Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nasir, M.Si dan Prof. Dr. Muchlas, M.T., Rektor UAD Bersama dengan Wakil Rektor dan BPH UAD Yogyakarta. Tentunya dihadiri oleh keluarga besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Keluarga besar dari Profesor yang juga menjabat sebagai Wakil Direktur PPs UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
“Jika kuliah di jurusan Perbandingan Agama atau Prodi Studi Agama-Agama, setelah lulus akan menjadi apa, kerja di mana?”, pertanyaan para siswa SLTA ketika sosialisasi prodi dilakukan ke sekolah dan madrasah inilah yang mengantarkan Ahmad Muttaqin pada capaian guru besarnya. “Kajian epistemologi, ontologis dan aksiologis untuk menghasilkan alumni menjadi manusia yang memiliki keimanan dan ilmuan yang kokoh perlu terus dilakukan karena PA/SAA tidak untuk mencetak tukang”, tegas beliau. Tidak berhenti sampai di sini, jawaban ini dipertanyakan lagi dalam riset-riset yang beliau lakukan.
Continue reading “Studi Agama Terapan: Cara Beragama yang Menggembirakan”

Humans are remarkably fragile. The arrogance shown in managing and exploiting nature is
being challenged