Problem dan Krisis Ekologis Menuntut “Pertobatan Ekologis” yang Mendalam


Bandung – 19 Agustus 2026, UIN Sunan Gunung Djati, Gedung Rektorat. Jika Prof. Wawan bergerak dari manuskrip menuju etika ekologis, Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto membawa peserta sejenak pada medan perdebatan filsafat lingkungan. Presentasinya, “Problem Ekologis,” memetakan beragam respons terhadap kerusakan lingkungan, mulai dari pendekatan kasuistik atau piecemeal approach, perluasan horizon moral, hingga pendekatan yang lebih radikal seperti deep ecology, social ecology, ecofeminism, dan gagasan dalam ensiklik Laudato Si’.

Prof. Bambang tampak tidak puas ketika problem ekologis hanya diselesaikan melalui tindakan-tindakan parsial. Mengontrol pencemaran, mengatur aktivitas bisnis, memperbaiki regulasi, mendaur ulang sampah, atau meningkatkan kesadaran publik memang diperlukan. Hal tersebut telah menjadi kewajiban bagi manusia. Namun, ketika krisis sudah menyangkut sistem produksi, konsumsi, politik, teknologi, dan cara manusia melihat dirinya sendiri, solusi tersebut menjadi tidak efektif dan juga tidak memperbaiki kerusakan.

Ia juga tidak menerima begitu saja berbagai teori ekologis radikal. Deep ecology, transpersonal ecology, social ecology, dan ecofeminism dibaca sekaligus diuji batas-batas argumentasinya. Di antara pendekatan yang dibahas adalah, bagaimana ia menempatkan Laudato Si’ sebagai salah satu formulasi paling komprehensif karena menghubungkan ekologi dengan problem sosial, ekonomi, teknologi, martabat manusia, kemiskinan, dan tanggung jawab bersama. Kata kunci yang kemudian muncul adalah “pertobatan ekologis”– perubahan yang tidak berhenti pada perilaku individual, tetapi menyentuh berbagai bidang peradaban kehidupan.

Menariknya, perubahan radikal tersebut tidak berarti meninggalkan tindakan konkret. Prof. Bambang justru menawarkan gerak dua arah. Dari bawah, komunitas perlu menghadapi problem ekologisnya berdasarkan konteks dan korban yang paling terdampak. Dari atas, kesadaran lingkungan mesti diterjemahkan menjadi kebijakan politik dan ekonomi. Pada saat yang sama, risiko ekologis perlu dibicarakan sebagai persoalan keadilan distributif-otoritatif: pihak yang paling merusak, pihak yang paling membutuhkan perlindungan, serta pihak yang memiliki sumber daya lebih besar tidak dapat dibebani tanggung jawab secara sama.

Posisi tersebut berkelindan dengan latar akademiknya. Prof. Bambang merupakan Guru Besar Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, dengan wilayah kajian yang mencakup postmodernisme, filsafat ilmu, persoalan kebudayaan, dan estetika kontemporer. Karya-karyanya selama bertahun-tahun memperlihatkan perhatian pada perubahan kebudayaan dan konsekuensi peradaban modern. Selain karya buku seperti Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat, tulisan akademiknya juga memasuki tema-tema pengalaman manusia kontemporer. Di Extension Course Filsafat UNPAR, misalnya, ia menulis “Kematian” dan kemudian “Digital Detox”, yang menunjukkan konsistensi perhatian terhadap persoalan makna, perkembangan teknologi, dan kondisi manusia modern.

Dalam kerangka dan pemikiran akumulatif yang ia miliki, problem ekologis baginya merupakan problem peradaban. “Kita tidak hanya perlu memperbaiki lingkungan, tetapi juga memeriksa kembali logika kebudayaan yang membuat kerusakan tersebut terus diproduksi.” Ujarnya (Febrian Arif)

Source Image: @fbro.arif

Membaca Kembali Manuskrip Wèwèkas sebagai Etika Ekologis

Bandung – 19 Agustus 2026, UIN Sunan Gunung Djati, Gedung Rektorat. Prof. Dr. H. Wawan Hernawan, M.Ag. membuka ruang pembacaan terhadap hubungan agama dan ekologi melalui khazanah manuskrip Sunda lama. Ia memaparkan topik seputar “Wèwèkas, Kosmologi, dan Ekologi Sakral: Kajian Eko-Teologi atas Manuskrip Sunda Lama.” Dalam presentasinya, Prof. Wawan menempatkan krisis ekologis bukan hanya sebagai persoalan teknis, melainkan juga persoalan spiritual, moral, dan kultural.

Ia membaca sejumlah naskah, antara lain Sewaka Darma, Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian, Amanat Galunggung, serta Wèwèkas dan Ipat-ipat yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Djati. Dari sajian korpus tersebut, alam tidak tampil semata-mata sebagai sumber daya yang tersedia untuk dikuasai manusia. Hutan, air, gunung, kabuyutan, dan ruang kehidupan ditempatkan dalam tatanan kosmologis yang memiliki nilai moral sekaligus kesakralan.

Kerangka yang ditawarkan adalah mempertemukan Tuhan, kosmos, manusia, dan etika. Manusia dipahami sebagai penjaga yang memiliki tanggung jawab mempertahankan keseimbangan kehidupan. Dalam pembacaan ini, konsep seperti Tri Tangtu, Dasa Kreta, kabuyutan, parahyangan, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap tatanan kehidupan dapat dibaca kembali sebagai sumber etika ekologis.

Pada bagian sintesis materi, pesan manuskrip tersebut dipertemukan dengan konsep-konsep ekologis dalam tradisi agama lain: khalifah dan mīzān dalam Islam, stewardship dan creation care dalam kekristenan, serta dharma, ṛta, dan ahimsa dalam tradisi Hindu-Buddha. Titik temunya adalah pandangan bahwa pemeliharaan bumi tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab spiritual manusia. Salah satu konsep dalam materi Prof. Wawan bahkan menjelaskan bahwa, merawat alam bukan semata kewajiban ekologis, tetapi bagian dari pengabdian kepada Sang Pencipta.

Pembacaan seperti ini bukan wilayah baru dalam perjalanan akademik beliau. Ia merupakan Guru Besar Ilmu Sejarah Peradaban Islam di Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan dalam forum ini juga hadir sebagai bagian dari Dewan Penasihat ASAI. Penelitiannya selama beberapa tahun memperlihatkan perhatian kuat terhadap sejarah Islam, manuskrip, kearifan Sunda, dan proses perjumpaan Islam dengan budaya lokal.

Pada 2021, bersama Irma Riyani, Ph.D dan Dr. Busro, M.Ag, ia menerbitkan penelitian tentang pesan moderasi beragama dalam Naskah Wawacan Babad Walangsungsang di HTS Teologiese Studies/Theological Studies. Pada 2024, Prof. Wawan kembali memasuki wilayah manuskrip melalui artikel “Exploring Wèwèkas and Ipat-Ipat attributed to Sunan Gunung Djati: Insights from the Sajarah Peteng Manuscript” di Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya. Kajian itu menggunakan kerja filologis berupa inventarisasi, deskripsi, transliterasi, dan pembacaan teks untuk menggali pesan-pesan Wèwèkas dan Ipat-ipat.

Karena itu, ketika beliau menjelaskan hal tentang Wèwèkas ke dalam percakapan ekoteologi, hal tersebut bukan sekadar usaha mencari “pesan hijau” dari masa lalu. Ia mengusulkan agar warisan intelektual lokal kembali ditempatkan sebagai sumber pengetahuan dalam menghadapi persoalan kontemporer.

Call for Papers!

Simposium Nasional ASAI XIV dan Konferensi Internasional membuka kesempatan bagi para akademisi, peneliti, dosen, mahasiswa, dan pemerhati studi agama untuk berkontribusi secara aktif melalui pengiriman paper ilmiah. Partisipasi ini merupakan bagian penting dari upaya kolektif dalam memperkaya diskursus akademik mengenai relasi agama, manuskrip Nusantara, dan isu-isu ekologis dalam perspektif interdisipliner.

Call for Papers ini dirancang sebagai ruang berbagi gagasan dan temuan penelitian yang relevan dengan tema besar simposium, yaitu eksplorasi pengaruh historis manuskrip terhadap pemikiran keagamaan serta tantangan masa depan dalam konteks ekologi dan kemanusiaan. Melalui forum ini, para peserta tidak hanya mempresentasikan hasil riset, tetapi juga terlibat dalam dialog ilmiah yang membuka kemungkinan kolaborasi lintas institusi dan disiplin ilmu.

Paper yang dikirimkan diharapkan memberikan kontribusi konseptual maupun empiris terhadap pengembangan studi agama-agama, khususnya dalam memahami hubungan antara nilai-nilai religius, tradisi budaya, dan keberlanjutan lingkungan. Dengan demikian, Call for Papers ini menjadi kesempatan strategis untuk mengintegrasikan refleksi akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat dalam merespons tantangan ekologis kontemporer. Continue reading “Call for Papers!” →

Ruang Pertemuan Gagasan: Agenda dan Manfaat Simposium

Simposium Nasional ASAI XIV dan Konferensi Internasional dirancang sebagai ruang akademik yang komprehensif untuk mempertemukan para cendekiawan, peneliti, dosen, mahasiswa, dan pemerhati studi agama dalam satu forum dialog ilmiah. Selama tiga hari pelaksanaan, rangkaian kegiatan tidak hanya menghadirkan diskusi akademik, tetapi juga proses refleksi kolektif untuk merumuskan arah pengembangan kajian studi agama-agama, khususnya dalam perspektif ekologi dan manuskrip Nusantara.

Kegiatan diawali dengan sesi pembukaan dan keynote speech yang memberikan kerangka konseptual mengenai peluang dan tantangan studi agama-agama dalam merespons isu ekologis serta warisan manuskrip. Sesi ini menjadi fondasi intelektual yang menghubungkan tema besar simposium dengan konteks keilmuan kontemporer. Selanjutnya, rangkaian seminar tematik menghadirkan para pakar dari berbagai perguruan tinggi dengan perspektif multidisipliner untuk mendiskusikan relasi antara agama, lingkungan, dan dinamika sosial.

Selain diskusi substantif, kegiatan ini juga memuat sesi penguatan kapasitas akademik, seperti seminar pengelolaan jurnal yang bertujuan meningkatkan kualitas publikasi ilmiah dalam bidang studi agama. Pada hari berikutnya, konferensi internasional menghadirkan pembicara dari jaringan global untuk memperluas horizon keilmuan sekaligus membuka ruang dialog lintas perspektif. Rangkaian panel forum dan sidang komisi dirancang sebagai ruang deliberatif untuk merumuskan rekomendasi akademik dan arah pengembangan kajian ke depan.

Simposium ini tidak hanya berfungsi sebagai forum presentasi gagasan, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi strategis. Melalui diskusi, panel, dan sidang pleno, peserta akan terlibat dalam proses pertukaran pengetahuan yang memungkinkan lahirnya perspektif baru mengenai relasi agama, tradisi lokal, dan konservasi lingkungan. Selain itu, sesi penguatan kurikulum dan perumusan hasil komisi diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan kelembagaan dan kurikulum studi agama-agama di Indonesia.

Manfaat yang Diharapkan

Kegiatan ini memberikan manfaat akademik dan kelembagaan yang luas, antara lain memperkaya perspektif keilmuan tentang ekologi dan manuskrip, memperkuat jejaring antar peneliti dan institusi, serta mendorong integrasi nilai-nilai keagamaan dalam diskursus pelestarian lingkungan. Bagi peserta, simposium ini menjadi kesempatan untuk memperoleh wawasan baru, memperluas kolaborasi, serta berkontribusi dalam pengembangan arah studi agama-agama di masa depan.

Pada akhirnya, simposium ini diharapkan menjadi ruang dialog yang produktif sekaligus inspiratif, tempat di mana gagasan-gagasan akademik tidak hanya dipertukarkan, tetapi juga dirumuskan menjadi langkah konkret untuk menjawab tantangan ekologis dan kemanusiaan melalui perspektif studi agama-agama.

International Symposium XIV of ASAI Explores about Interconnectedness of Ecology, Religion Issues and Indonesian Manuscripts


Perkembangan sains dan teknologi yang berlangsung dengan sangat cepat telah menghadirkan beragam tantangan baru bagi kehidupan manusia. Kemajuan ini tidak hanya membuka peluang, tetapi juga memunculkan persoalan mendasar terkait bagaimana manusia memahami masa lalu, memaknai warisan pengetahuan, serta menempatkan dirinya dalam relasi yang berkelanjutan dengan alam semesta. Salah satu tantangan yang cukup signifikan adalah keberadaan manuskrip-manuskrip kuno yang menyimpan rekaman pemikiran dan pengalaman kolektif masyarakat masa lalu, namun pesan-pesan yang terkandung di dalamnya belum sepenuhnya terungkap dan dimanfaatkan dalam diskursus keilmuan kontemporer.

Di tengah arus informasi digital yang serba cepat, kesadaran terhadap dimensi historis dan kebijaksanaan lokal cenderung mengalami erosi. Kehidupan yang semakin instan dan pragmatis berimplikasi pada berkurangnya perhatian terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam warisan budaya tulis, termasuk manuskrip yang merekam relasi resiprokal antara manusia, alam, dan kesadaran spiritual. Akibatnya, pemahaman sosial mengenai hubungan manusia dengan lingkungan belum tergambar secara utuh dalam kajian terhadap khazanah intelektual masa lalu. Padahal, manuskrip-manuskrip Nusantara menyimpan jejak pengetahuan yang berpotensi memperkaya perspektif ekologis dan kemanusiaan di masa kini.

Kondisi tersebut menghadirkan tantangan tersendiri bagi studi agama-agama sebagai bidang keilmuan yang secara inheren mengkaji fenomena keagamaan baik dalam bentuk teks maupun praktik sosial. Isu mengenai menurunnya kedekatan relasi manusia dengan alam merupakan bagian integral dari kajian agama kontemporer, khususnya dalam perspektif ekoteologi. Dalam konteks manuskrip, kajian ini menekankan bagaimana kesadaran religius membingkai relasi manusia dengan lingkungan pada level ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Pendekatan semacam ini membuka ruang pengembangan keilmuan yang luas bagi Program Studi Studi Agama-Agama (SAA) di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Continue reading “International Symposium XIV of ASAI Explores about Interconnectedness of Ecology, Religion Issues and Indonesian Manuscripts” →

2025 National Symposium on Religious Studies Explores the Theme of Love

As science and technology rapidly advance, we face numerous humanitarian challenges that require a collective response. One significant challenge is the diminishing awareness of care, love, empathy, and social intimacy. This issue is closely linked to the swift progress of information technology, which often fosters private spaces and undermines warm interpersonal relationships. The resulting social implications include the strengthening of transactional relationships between individuals and groups. In such conditions, qualities like closeness, love, and empathy become scarce, leading to relationships that are reduced to mere subject-object interactions. This situation poses a risk to humanity, as people begin to view others merely as accessories to their own comfort, neglecting the importance of caring for those around them.
This challenge pertains to the religious studies, focusing on how values contribute to building positive relationships. The decline of love and social intimacy in human interactions is a crucial aspect of contemporary religious studies, emphasizing the importance of social context (milieu) at the levels of ontology, epistemology, and axiology. This study area can be further developed within the department of Religious Studies at Indonesian universities. The field of Religious Studies engages deeply with the various changes occurring in society. Consequently, a solid academic foundation is essential, acknowledging that societal changes are closely linked to religious issues. In more specific terms, religion is examined from a diverse range of perspectives. The findings from religious studies provide valuable insights into societal transformations.
The 13th ASAI National Symposium on Religious Studies in 2025 will address the theme "Religion, Love, and Humanity: Transforming the World through Compassion and Empathy." This follows the previous year's theme, "The New Era: The New Role of Religious Studies in the Era of Artificial Intelligence," held in Aceh, and the 12th National Symposium's focus on "Religion and Climate Change: Exploring Responses" in Banjarmasin. The goal of this year's symposium is to feature speakers from the International Association for the History of Religions (IAHR), the Indonesian Ministry of Religious Affairs, and the Presidential Communications Office, all aimed at highlighting the significance of Religious Studies, previously known as Comparative Religion.
The symposium will include several sub-themes for discussion as part of the International Conference, including:
1. Religion and Love in Religious Texts
2. Literature and Artworks about Religion and Love
3. Information Technology and Global Humanitarian Challenges
4. Public Policy in Maintaining Diversity
5. Religious Studies and Philanthropic Movements
6. Religion and the Environment for Humanity
7. Study of Figures Concerned with the Issues of Religion and Love
8. Conflict Resolution Based on Religion and Love
9. Deep Learning, Deeper Religiosity
10. Spatial Awareness in Religion
11. Religious Healing and Psychotherapy
This event aims to foster meaningful dialogue and insights into the impactful intersection of religion, love, and humanity. We invite lecturers and students majoring in religious studies from across Indonesia, as well as other academic enthusiasts interested in contemporary studies, and communities of religious scholars, to participate. This includes members of ASAI and its affiliated institutions. You can register through the following link: https://bit.ly/PendSimpoNas13ASAI If you have any questions, please contact us via WhatsApp at 0878 3899 7388 or 087 222 000. We look forward to welcoming you to Jogja, the city of Indonesian students!

Prof. Dr. Deni Miharja, M.Ag., Ditetapkan Sebagai Ketua Umum ASAI Periode 2024-2029

Pada Rabu, 14 Agustus 2024, UIN Antasari Banjarmasin menjadi saksi berlangsungnya kegiatan pemilihan Ketua Umum Asosiasi Studi Agama Indonesia (ASAI) periode 2024-2029. Acara yang digelar di Gedung Auditorium Mastur Jahri dihadiri oleh sejumlah perwakilan dari berbagai program studi agama-agama di seluruh Indonesia. Suasana rapat pleno berjalan dengan penuh semangat, mencerminkan komitmen seluruh peserta untuk mengembangkan studi agama di tanah air.

Dalam rapat tersebut, dibentuk tim formatur yang terdiri dari perwakilan dari masing-masing Prodi Studi Agama Agama seluruh Indonesia untuk menyeleksi dan menentukan kepemimpinan baru ASAI. Hasil dari proses tersebut, Prof. Deni Miharja, M.Ag., dari Prodi Studi Agama-Agama UIN Bandung, mendapatkan kepercayaan besar dengan terpilih sebagai Ketua Umum ASAI yang baru. Profesor Deni dikenal sebagai sosok yang memiliki wawasan luas dan dedikasi tinggi terhadap pengembangan kajian agama di Indonesia. Dalam sambutannya, ia mengajak untuk melanjutkan program yang telah berlangsung dan terus meningkatkan kiprah asosiasi agar bermanfaat untuk seluruh Prodi SAA seluruh Indonesia termasuk juga anggota yang ada dalam keanggotaan Asosiasi Studi Agama Indonesia. Continue reading “Prof. Dr. Deni Miharja, M.Ag., Ditetapkan Sebagai Ketua Umum ASAI Periode 2024-2029” →

International Conference on Ushuluddin and Humanities Studies (ICONUSH) 2024 & Simposium Nasional Studi Agama XII

[CALL FOR PAPER]

Join us at International Conference on Ushuluddin and Humanities Studies (ICONUSH) 2024 & Simposium Nasional Studi Agama XII

We are delighted to invite you to this prestigious event, a premier event bringing together scholars, researchers, and practitioners from around the world.

Theme:
Religion & Climate Change: Exploring Perspectives and Responses

The paper is submitted through this link https://bit.ly/ICONUSHSubmitPaper

Template
https://bit.ly/templatepaperASAI

IMPORTANT DATES
1️⃣ Deadline Paper Submission
28th July 2024
2️⃣ Acceptance Notifications
31st July 2024

🗓️ Conference & Symposium Day
13th – 15th August 2024

📍UIN Antasari Banjarmasin (Hybrid)

Participants will have the chance to attend thought-provoking keynote sessions, panel discussion, and paper presentations by distinguished experts.

For more information, please contact us.

Thank you and see you on August 2024.

SIMPOSIUM ASAI KE 11 ; Era Baru, Peran Baru Studi Agama di Era Artificial Intelligence

Assalamu’alaikum wr.wb.,
Mengharap kehadiran Ibu/Bapak Anggota ASAI dalam agenda Simposium Nasional #11 ASAI pada tanggal 14-16 Agustus 2023 di UIN Ar Raniry Banda Aceh Indonesia dengan mengusung tema “Era Baru, Peran Baru Studi Agama di Era Artificial Intelligence” yang akan dihadiri oleh Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia sekaligus Dewan Penasehat Asosisasi Studi Agama Indonesia Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag.

simposium asai 11

Untuk link pendaftaran klik https://forms.gle/A46RMFTkjvAYVXax5

info lebih lanjut bisa menghubungi

Muryana (087838997388)

Khuzaimah (082329166050)

Merumuskan Kembali Tantangan Studi Agama‐Agama di Indonesia

ASAI gelar simposium nasional ke-9 dengan tema “Merdeka Belajar& Kampus Merdeka (MBKM) Bagi Penyelenggaraan Studi Agama Agama Pada Perguruan Tinggi Di Indonesia”. Agenda ini dilaksanakan pada tanggal 1-2 desember melalui platform zoom online.

Agenda ini bekerja sama dengan Rumah Bersama Insectoral Collaboration On Indigenous Religions (ICIR). Menghadirkan Keynote Speech Prof. Dr. Sekar Ayu Aryani, M.A, Tim Perumusan Kurikulum MBKM serta Pengurus dan Panitia ASAI.

Simposium ke-9 ASAI dilaksanakan dalam rangka membahas dua agenda. Pertama, membongkar ulang gagasan studi agama agama pada dunia kerja. Hal ini merupakan jawaban dari keresahan para sarjanawan atas implentasi kurikulum studi agama agama yang selama ini di nilai belum dapat menarik minat para pencari kerja.

Tantangan ini berangkat dari Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 pasal 18 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi yang mengamanatkan 1) memperoleh capaian pembelajaran (learning outcomes), mahasiswa sepenuhnya mengambil mata kuliah pada prodinya. 2) memperoleh capaian pembelajaran, sebagian mata kuliah dapat mengambil dari luar prodinya, baik di lingkungan perguruan tingginya sendiri maupun di perguruan tinggi lain termasuk kegiatan magang di lapangan.

Kegiatan ini akan diwujudkan sebagai pertukaran pelajar dengan bobot substansi 50 % Ilmu Ke-Islaman,  20 %  Sains, 20%  Life Skill, dan 10 % TIK, dengan begitu diharap dapat menciptakan kultur belajar yang inovatif, tidak mengekang, dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Pertukaran pelajar ini juga diharapkan dapat menjadi pioneer untuk keilmuwan yang saling terintegrasi-interkoneksi.

Agenda kedua yaitu memperkenalkan perpustakan online yang dapat di akses melalui Web ASAI. Hal ini untuk mempermudah para pustakawan dalam mengakses buku-buku studi agama dan menjawab perkembangan zaman dengan teknologi yang semakin militan.