Seri Belajar Bersama Teori-Teori dalam Studi Agama

Agama itu untuk apa sih? “Ada banyak teori”, katanya. Sudah tahu kan? Bagi dong…
Kami tunggu di Seri Belajar Bersama Teori-Teori dalam Studi Agama ya. Dr. Ustadi Hamsah akan menemani kita berbagi tentang Teori Asal-Usul Agama pada:

Hari : Rabu, 23 Desember 2020
Pukul : 19:00-21:00 WIB (Pintu Zoom akan dibuka pukul 18:45 WIB dan Kelas akan dimulai pukul 19:00 WIB)

Kegiatan ini Gratis. Bagi teman-teman yang mengikuti diskusi hingga akhir akan mendapatkan e-sertifikat 😁
Silahkan mendaftarkan diri terlebih dahulu pada link berikut ini: https://forms.gle/GDQr1JVbyZBBgHkU9

Sampai Jumpa di zoom meeting 🙋‍♀️
ID: 894 7311 7562
Pasword: 034057

Join Zoom Meeting
https://us02web.zoom.us/j/89473117562?pwd=RVpneU5LVXJhU1BRZmFSbEJzRjhyQT09

Info lebih lanjut hubungi CP: +62 878-3899-7388
Program ini diselenggarakan oleh Asosiasi Studi Agama Indonesia (ASAI) bekerjasama dengan Forum Mahasiswa Studi Agama-Agama Indonesia (FORMASAAI)

Seminar ASAI, Teologi Kesehatan Pesantren; Rasionalitas Respon Pesantren terhadap Pandemi Covid-19

Asosisasi Studi Agama Indonesia pada tanggal 09 Desember 2020 telah mengadakan Seminar seri 1, dengan mengusung tema Teologi Kesehatan Pesantren; Rasionalitas Respon Pesantren terhadap Pandemi Covid-19. Berbagai pandangan mengenai covid-19, seperti mengatakan bahwa covid ini adalah sebuah musibah yang bisa menimpa siapa saja. Sehingga siapa pun yang mendapatkan musibah berarti harus sabar dalam menghadapi ujian tersebut dan Bersama-sama mencari sebuah solusi dalam menghadapi musibah tersebut. Adapun hal lainnya masih menganggap bahwa covid-19 ini sebuah konspirasi dari para golongan elit sana.

Lalu bagaimana mengenai rasionalitas respon pesantren terhadap pandemi covid-19, Dr. Ahmad Salehuddin sebagai narasumber memaparkan, bermula dari pesantren memiliki cara tersendiri yakni dengan perlindungan spiritual. Hal yang dimaksudkan dengan perlindungan spiritual yakni amalan-amalan yang dimiliki, seperti memperbanyak shalawat, bacaan alfatihah, memperbanyak istigfar dan lain sebagainya.

Para peserta dalam acara ini sangatlah mengapresiasi acara ini, diharapkan adanya keberlanjutan menganai kajian studi agama dalam hal lainnya. Sehingga harapan besarnya bahwa kajian studi agama dalam menjadi sebuah kajian lebih menarik dan banyak dipelajari khalayak umum. Pada akhir acara ditutup dengan pemaparan bahwa kebijakan apapun pemerintah harus mempertimbangkan rasionalitas komunitas tersebut.

Teologi Kesehatan Pesantren: Rasionalitas Respon Pesantren terhadap Pandemi COVID-19

Seminar seri 1

Pesantren memiliki cara-cara otentik untuk menghadapi pandemi Covid-19 yang berbeda dengan cara-cara yang diambil oleh komunitas kesehatan. Covid-19 merupakan makhluk Tuhan yang bekerja hanya atas perintah Tuhan. Oleh Karena itu, pesantren menerapkan cara-cara lahiriah dan batiniah sekaligus dalam menghadapi Covid-19. Cara-cara lahiriah dilakukan dengan menjalankan protokol kesehatan secara adaptif dan kontekstual, sementara cara batiniah dilakukan dengan praktik-praktik ritual melalui doa, sholat, dzikir dan membaca sholawat. Pandangan teologis yang berorientasi teosentris dan antroposentris ini memperlihatkan salah satu sisi moderasi pesantren.
Bagaimana selanjutnya? Dr. Ahmad Salehudin akan berbagi Hasil Penelitian “Teologi Kesehatan Pesantren: Rasionalitas Respon Pesantren terhadap Pandemi COVID-19” dalam Seminar#1 ASAI,
Hari: Rabu, 9 Desember 2020
Pukul: 19:00-21:00 WIB
ID: 832 0882 8435
Pasword: 401895
Ikutan yuk!

Isi Link Formulir Pendaftarannya ya:
https://forms.gle/oFcio3B6ZpdsdrGS9

The 8th National Symposium on Religious Studies: Existing in Studies Amidst the Pandemic

Yogyakarta, Asosiasi Studi Agama Indonesia (ASAI) menggelar Simposium Nasional ke-8 Studi Agama dengan “Beragama di Tengah Pandemi”. Acara diselenggarakan secara virtual/online selama dua hari yakni pada tanggal 11-12 November 2020 setiap pukul 19:00-21:00 WIB. Selain menjadi agenda rutin tahunan, Simposium Asosisasi Studi Agama Indonesia juga mengikat kembali akademisi, peneliti dan pekerja sosial yang mempunyai fokus terhadap studi agama. Dalam sambutannya ketua ASAI Ahmad Muttaqin, M.Ag., M.A., Ph. D. menyampaikan “Walaupun di tengah pandemi, semoga kita masih bisa tetap eksis dalam kajian studi agama.” ASAI pun diharapkan menjadi wadah akademik di wilayah studi agama. Continue reading “Simposium Nasional ke-8 Studi Agama: Eksis dalam Kajian di Tengah Pandemi” →

Rearticulating Religious Studies Research: Insights from the 2019-2024 ASAI Board Work Meeting

Oleh: Muryana

The ASAI Board Work Meeting took place during the ongoing Covid-19 pandemic. The meeting was held online and comprised several plenary sessions, divisions, and additional plenary discussions from August 5 to August 25, 2020. This event resulted in various formulations related to the Religious Studies. Research emerged as a key topic discussed in every session.

The ongoing COVID-19 pandemic presents a significant challenge for the global community. One notable impact has been the postponement of the 2019-2024 ASAI Board Work Meeting, which was originally scheduled for March 23-24, 2020. Due to the circumstances, the daily officer team proposed that the meeting be held online using a platform commonly utilized for virtual meetings. This proposal received approval from all management members for the 2019-2024 term.

Continue reading “Mengartikulasikan Kembali Riset SAA: Catatan Raker ASAI 2019-2024” →

Online Workshop On Judaism: Penguatan Studi Agama-Agama Saat Pandemi

pelatihan

“Online Workshop on Judaism”, judul kegiatan bersama yang diselenggarakan oleh empat lembaga pada tanggal 6-9 Juli 2020. Workshop ini membincangkan Agama Yahudi dengan pembicara dari insider, Ulama Yahudi di Jerusalem dan peneliti, outsider Agama Yahudi di Indonesia. Sebuah workshop yang membangun harapan besar, bahwa setiap peserta yang terlibat berpartisipasi aktif dan mengembangkannya dalam kegiatan akademik.

Kerjasama berhasil dilakukan dengan komitmen bersama dan peran masing-masing lembaga. CRCS menginisiasi kegiatan workshop bersama ini dengan mengundang Rabbi David Rosen, the International Director of Interreligious Affairs, American Jewish Committee. ICRS sebagai panitia penyelenggara dalam kegiatan ini, mulai dari publikasi poster, menghubungi peserta, melakukan survei sebelum dan sesudah acara, menjadi tuan rumah (meeting host) hingga memberikan hak yang dijanjikan kepada peserta, yaitu sertifikat. Sementara itu, ASAI sebagai asosiasi studi agama mendorong para anggotanya di seluruh Indonesia untuk berpartisipasi aktif dalam acara dan mengembangkannya dalam studi agama selanjutnya. Dari ketiga lembaga ini pula, secara bergantian moderator berasal. Ada Dr. Zainal Abidin Bagir pada hari pertama, Dr. Mohammad Iqbal Ahnaf pada hari kedua, dan Dr. Leonard Chrysostomos E. pada hari ketiga serta Dr. Ahmad Salehudin pada hari terakhir. Acara ini juga didukung oleh Asia Pasific Institute.

Continue reading “Online Workshop On Judaism: Penguatan Studi Agama-Agama Saat Pandemi” →

National Webinar: The Role of Religion in Enhancing Community Spirituality During the Covid-19 Pandemic Towards the New Normal

webinar

In recent months, the world has been shaken by the Covid-19 outbreak, caused by a virus for which, as of now, there is no cure or vaccine. In response to the ongoing search for a vaccine to combat this outbreak, the government has implemented new measures for a "new normal."

The concept of the "New Normal" refers to the continuation of daily life while incorporating essential considerations, such as maintaining cleanliness and adhering to health protocols recommended by the government. Beyond health measures, it is also important to foster community spirituality. How do spirituality and religion contribute to this effort? To address this, the Religious Studies Program at UIN North Sumatra organized a national webinar in collaboration with the Indonesian Religious Studies Association (ASAI) and the Student Association of the Department of Religious Studies at UIN North Sumatra. The webinar is titled "The Role of Religion in Enhancing Community Spirituality During the Covid-19 Pandemic Towards the New Normal."

The event took place on Tuesday, June 23, 2020, from 2:00 PM to 4:00 PM. Several speakers participated, including: Dra. Husna Sari Siregar (Head of the Religious Studies Program at UIN North Sumatra), Prof. Katimin (Dean of the Faculty of Ushuluddin and Islamic Studies at UIN North Sumatra), Prof. Syahrin Harapa (Professor of Religious Studies at UIN North Sumatra), Ahmad Muttaqin, M.Ag., M.A., Ph.D (Head of ASAI and Head of the Master of Religious Studies Program at UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Rev. Dr. Boimin Sirait (Lecturer of Christian Religion at the State University of Medan). The session was moderated by Dr. H. Indra Harapa (Secretary of the Religious Studies Program at UIN North Sumatra).

For those interested in attending the event, please register at and contact 081268314152/081260164428.

Religious Moderation and the Foundations of National Identity

The Master of Religion and Philosophy Study Program, along with the Master of Religious Studies and the Master of Quranic Science and Tafsir at the Faculty of Ushuluddin and Islamic Thought, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, organized a Learning Socialization event for new students of the 2019/2020 academic year. This event took place on Thursday, March 5, 2020, in the Smart Room of the Faculty of Ushuluddin and Islamic Thought and was attended by 73 new students enrolled in the Master of Religions Program. During the event, Ahmad Muttaqin M.Ag., M.A., PhD, the Head of the Master of Religions Study Program, delivered a presentation on Religious Moderation and the Pillars of Nationality.

Ahmad Muttaqin M.Ag.,M.A, Ph.D
Ahmad Muttaqin, M.Ag., M.A., Ph.D., is providing material on socialization in learning.

Ahmad Muttaqin emphasized that a moderate attitude must begin with oneself and one's mindset. Instilling moderation from an early age involves suppressing and eliminating hatred and hostility among people. Promoting harmony among religious communities is essential for advancing Indonesia as a multi-ethnic, multicultural, and multi-religious nation, making it a more harmonious society.

"If you continue to see people of different religions as enemies or as reasons not to greet them, then you are not ready to be a moderate person. A moderate person recognizes differences as an opportunity to work together or even to enrich one another," he said.

Continue reading “Moderasi Beragama dan Pilar Kebangsaan” →

Dr. Samsul Hidayat, MA: Promoting Interfaith Harmony Through Culinary Diplomacy

Tolerance is an attitude of mutual respect and appreciation between different groups or individuals within society. This mindset can help prevent discrimination, even in diverse communities. One way to promote tolerance is through Interfaith Dialogue.
On Wednesday, March 4, 2020, the National Unity and Politics Agency (Kesbangpol) of West Kalimantan organized an Interfaith Dialogue. One of the speakers at this event was Dr. Samsul Hidayat, MA., the Dean of the Faculty of Ushuluddin, Adab, and Da'wah, a lecturer in the Comparative Religion Study Program at IAIN Pontianak, and the Chair of the Interfaith Relations Commission of the Indonesian Ulema Council in West Kalimantan. He presented on strategies for fostering harmony among religious communities through local wisdom.
According to population statistics, the majority of people in West Kalimantan are Muslim, accounting for 55.68% of the population. In the interior regions inhabited by the Dayak Tribe, most residents adhere to Christianity (either Catholic or Protestant), particularly in the Bengkayang, Landak, Sanggau, Sintang, and Sekadau regencies. Among the Chinese population in West Kalimantan, many are either Buddhist or Christian (Catholic or Protestant). In areas with a significant ethnic Chinese presence, such as Singkawang City and Pontianak, there is also a considerable number of Buddhists. To foster better interfaith relations, it is essential to promote tolerance among different religions.

Dr. Samsul Hidayat, MA
Dr. Samsul Hidayat, MA

Continue reading “Dr. Samsul Hidayat : Merekatkan Kerukunan Antar Agama Melalui Diplomasi Kuliner” →