AWK: Menggugat Taken for Granted Ilmu Pengetahuan

ASAI kembali menggelar diskusi putaran kedua “Discourse Studi Agama” pada Jum’at, 22 September 2020 pukul 19.00 hingga 21.00 WIB melalui platform zoom. Seri Belajar Bersama kali ini dihadiri oleh 32 orang peserta dari mahasiswa, dosen berbagai program studi. Pada diskusi putaran kedua ini Dr. Mukhijab memaparkan tentang pentingnya Disposisi Teks dalam Metodologi Ilmu Pengetahuan. Dr. Mukhijab menuturkan, “Dalam menganalisis teks terdapat subjektivitas dominan yang berpengaruh dalam menginterpretasikannya di kehidupan. Diperlukan Analisis Wacana Kritis untuk menggugat interpretasi atas bahasa ilmu pengetahuan baik sebagai metode maupun teori”.

Analisis wacana kritis, biasa disingkat AWK, dalam kajian linguistik ini merupakan pisau analisis yang membedah struktur dan fungsi bahasa dalam wacana kontemporer untuk melihat persoalan sosial. Bahasa dalam konteks ini menjelaskan konteks sosial mulai dari bagaimana bahasa itu dibentuk hingga membentuk struktur sosial. Hal ini sesuai dengan sifat bahasa yaitu tidak otonom, tidak arbiter dan umumnya rentan sebagai media kontestasi maupun manipulasi. Terdapat evolusi model diskursus analisis wacana kritis yaitu dari studi bahasa ke wacana. Ferdinand de Saussure, seorang linguis strukturalis, menyebut bahwa struktur tanda menjadi pokok persoalan bahasa. Namun dalam perkembangannya persoalan bahasa digunakan bersama unsur-unsur non-linguistik, sebagaimana disebutkan oleh Foucault, seorang penggagas post-strukturalis.

Foucault menyebutkan bahwa makna tanda berubah sesuai dengan konteks penggunaan. Pengetahuan bukan refleksi atas realitas, kebenaran adalah konstruksi rezim yang memiliki otoritas untuk menentukan salah dan benar. Sedangkan seorang marxis strukturalis, Louis Althusser berpendapat bahwa terdapat relasi antara subjek dan hubungan pengetahuan yang dikendalikan oleh ideologi. Pendekatan ini disebut Pendekatan Prancis (French Discourse Analysis) dan masuk dalam lima jenis pendekatan utama analisis wacana kritis, menurut Eriyanto.

Adapun pendekatan lain dalam kajian ini, antara lain: Analisis Bahasa Kritis (Critical Linguistic) untuk memahami bagaimana gramatika bahasa dan struktur tata bahasa membawa posisi dan makna ideologi; Pendekatan Kognisi Sosial dipelopori Teun A.V. Dijk untuk memahami faktor kognisi dalam produksi wacana, contohnya bagaimana minoritas ditampilkan seperti etnis rasialisme dan pengungsi; Selanjutnya, Pendekatan Perubahan Sosial yang digagas Norman Fairclough, memahami wacana sebagai praktik sosial dan praktik diskursif dengan identitas, dan relasi social; Serta Pendekatan Wacana Sejarah dipelopori Ruth Wodak untuk memahami konteks sejarah bagaimana wacana diproduksi.

Sementara itu, dalam menganalisis wacana, terdapat tiga pendekatan wacana menurut Marrianne W. Jargensen dan Luise J. Phillip. Pertama, Analisis Wacana Ernest Laclau dan Channal Mouffe yang berbicara tentang dinamika perjuangan antar kekuatan dominan untuk meraih hegemoni; Kedua, Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough yaitu wacana perubahan sosial, bagaimana unsur teks individu bergantung pada unsur dan wacana teks lain atau mengkaji sumber teks berbeda-beda serta memahami transformasi status quo. Ketiga, Analisis Wacana Psikologi (psikologi kewacanaan) untuk memahami penggunaan Bahasa dalam interaksi sosial, yaitu bagaimana orang menggunakan wacana untuk menciptakan, menegosiasikan representasi dunia dan identitasnya. Lalu, bagaimanakah AWK ini dapat diterapkan dalam Studi Agama? Praktik penelitian dalam konteks Studi Agama akan didiskusikan pada pertemuan selanjutnya, 13 Oktober 2021 pada jam yang sama. [AC]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *