Resiprositas Ilmu untuk Masyarakat Fragmented

Kamis, 5 Februari 2026 dalam Sesi “Satu Jam Bersama Profesor” online yang diprakarsai oleh ASAI, Prof. Dr. Siswanto Masruri, M.A. hadir sebagai pembicara menyampaikan pesan tentang Humanitarianisme dan Agama serta Tantangan Ekosistem Keilmuan SAA. Beliau adalah salah satu Guru Besar dan akademisi senior di bidang Studi Islam dan Studi Agama-Agama.

Menjawab pertanyaan Muhammad Ridwan Hidayat, S.Ag., moderator, tentang perjalanan hidupnya, beliau sedikit berkeluh, dan memberi peringatan bahwa perkembangan zaman yang semakin cepat dan kompleks, berbanding lurus dengan tantangan besar dalam dunia keilmuan, khususnya di lingkungan akademik. Hal itu adalah kematian ekosistem keilmuan.

Hal tersebut terjadi akibat hilangnya beberapa aspek fundamental yang seharusnya menjadi pondasi utama dan inti bagi keberlanjutan pengetahuan dan pemahaman. “Al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal-akhdzu bil jadidil ashlah” yang berarti “memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik”, harusnya tidak hanya menjadi slogan dalam salah satu partai besar saja. Slogan ini juga dapat diterapkan bahkan menjadi solusi bagi ekosistem keilmuan. Ada yang berperan menjadi tim pemain dan ada yang berperan menjadi tim kreatif untuk pengembangan keilmuan di Perguruan Tinggi. Namun yang sangat disayangkan, prinsip ini semakin terabaikan sehingga mempengaruhi resiprositas ilmu yang seharusnya berjalan dalam semangat saling memberi dan menerima pengetahuan.

Selain, ekosistem keilmuan perguruan tinggi yang rentan bobrok disebabkan oleh pengaruh rezim dan sistem yang tidak selalu mendukung perkembangan ilmu pengetahuan yang adil dan terbuka. Hal ini selanjutnya memutuskan jaringan kolaborasi antar-pemangku kepentingan dan memperburuk fragmentasi dalam masyarakat. Tanpa resiprositas yang kuat, perkembangan ilmu menjadi terhambat dan terbatas pada lingkup yang sempit.

Resiprositas itu adalah “Memandang bidang satu dan lain, penting. Memandang lembaga satu dan lain, itu penting. Memandang kelompok satu dan lain, itu penting”, jelas Profesor yang biasa dipanggil Prof. Sis. Tentu jika seorang akademisi sudah memahami akan pentingnya resiprositas ini, maka ilmu tidak hanya diterapkan secara akademik, tapi juga dapat berpengaruh di masyarakat. Juga linearitas ilmu, mempertahankan ilmu satu dan membiarkan ilmu lain jalan, dapat ditolak.

Lalu bagaimana menyelamatkan dunia yang sudah terlanjur terfragmentasi? Prof. Sis menunjukkan rasa percayanya tentang harapan untuk perubahan itu dengan tiga hal. Pertama, memiliki kekuatan yang besar; Kedua, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi; Ketiga, memiliki hati yang bersih.

Bagaimana kehidupan masyarakat fragmented itu bermula? Dimulai dari kehidupan masyarakat yang majemuk. Masyarakat ini diselimuti dengan kepentingan masing-masing. Setiap individu hidup dalam keragaman budaya, bahasa, dan pemikiran. Namun, tidak semua orang acuh terhadap keragaman itu. Ada sebagian yang peduli, bahkan berjuang untuk membangun keharmonisan dalam perbedaan tersebut. “Humanity in diversity” dan “diversity in humanity” menunjukkan hubungan yang erat dalam hal tersebut. Sebagai suatu konsep yang saling melengkapi dan membentuk suatu tatanan sosial yang lebih inklusif. Sekali lagi, peran resiprositas ilmu menjadi sangat penting, tegas Prof. Sis. Sehingga ilmu pengetahuan, sebagaimana seharusnya, menjadi jembatan untuk membangun pemahaman yang lebih luas dan inklusif, yang merangkul semua golongan dan latar belakang. Tidak minna wa minhum, tapi setiap manusia berdiri untuk semua golongan.

Dengan demikian humanitarianisme yang berkomitmen pada kesejahteraan manusia dapat diwujudkan. Jika agama mengajarkan tentang kemanusiaan, maka sejatinya, urusan kemanusiaan adalah panggilan hidup bagi kita semua. Dalam masyarakat yang semakin terfragmentasi ini, ilmu pengetahuan bukan lagi sekadar alat untuk memperoleh kekuasaan atau keuntungan pribadi. Ilmu seharusnya menjadi sarana untuk mencapai kesejahteraan bersama, untuk memperbaiki kehidupan manusia dalam segala aspek. Resiprositas ilmu bukan hanya berbicara tentang saling memberi dan menerima pengetahuan, tetapi juga tentang bagaimana ilmu dapat digunakan untuk membangun jembatan pemahaman di antara berbagai kelompok dalam masyarakat yang majemuk.

Maka sekali lagi, resiprositas ilmu lebih mungkin diterapkan dalam masyarakat fragmented, karena masyarakat yang terbagi membutuhkan saling pengertian dan kerjasama untuk maju bersama. Di sinilah relevansi Studi Agama-Agama dalam keilmuan serta praktik kehidupan sehari-hari. “Agree in Disagreement” yang disampaikan oleh Prof. Mukti Ali pada awal 1970an relevan dan kontekstual dalam makna bahwa masyarakat tidak perlu menjadi sama, tapi bagaimana bisa hidup bersama dan bareng-bareng dalam perbedaan. [Fbr]

 

Menelaah Ulang Diskusi Agama bersama “Satu Jam Bersama Profesor” dan “Indonesian Religio Talk”

Kajian agama selama ini kerap dipersepsikan sebagai wilayah yang berat, elitis, dan berhenti pada teks, teologi, serta sejarah. Akibatnya, banyak kalangan, termasuk generasi muda dan penggiat intelektual, merasa ada jarak antara pengetahuan keagamaan yang dipelajari dan realitas sosial yang mereka hadapi sehari-hari. Padahal, di tengah dinamika masyarakat yang semakin kompleks, agama justru dituntut hadir sebagai kekuatan dialogis, reflektif, dan solutif di ruang publik.

Keresahan inilah yang menjadi alasan mengapa ruang diskusi yang ASAI buat, seperti “Satu Jam Bersama Profesor” dan “Indonesian Religio Talk” menjadi wadah dan relevan untuk dihadiri. Forum ini tidak menawarkan ceramah satu arah atau pengulangan teori, melainkan membuka ruang perjumpaan gagasan antara pengalaman akademik, kegelisahan intelektual, dan realitas sosial keagamaan. Di sini, agama dibaca bukan hanya sebagai teks, tetapi sebagai praktik hidup yang terus bernegosiasi dengan budaya, simbol, dan problem masyarakat.

Melalui kehadiran Prof. Dr. Ustadi Hamsah, M.Ag sebagai Profesor ahli dalam bidang Hubungan Antar Agama dan M. Ridwan Hidayat, S.Ag, sebagai salah satu Alumni Studi Agama-Agama Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, peserta akan diajak berinteraksi dan melihat bagaimana studi agama dapat bergerak dari ruang kelas ke ruang sosial, dari tumpukan teori ke keberanian membangun sudut pandang kritis. Diskusi ini menjadi tempat berbagi arah, kegelisahan, dan kemungkinan-kemungkinan baru dalam memahami relasi agama dan masyarakat. Dan juga sebagai upaya menciptakan sebuah ruang aman untuk berpikir, bertanya, dan menemukan relevansi keilmuan.

Maka dengan mengikuti forum ini, anda memberi waktu bagi diri sendiri untuk berhenti sejenak, merefleksikan kembali posisi kita sebagai pembelajar, penggiat, atau pemerhati isu keagamaan. Bukan sekadar mendengar, tetapi terlibat dalam percakapan bermakna tentang bagaimana agama dapat terus hidup, bekerja, dan memberi makna di tengah perubahan zaman.

Diskusi ini akan diselenggarakan pada Kamis, 15 Januari 2026 dalam dua sesi. Sesi pertama, Satu Jam Bersama Profesor pukul 10:00 -11:00 WIB, rehat sebentar lalu dilanjutkan sesi kedua, Indonesian Religio Talk pada pukul 11:30-12:30 WIB. Follow akun media sosial kami untuk update informasi & kegiatan lainnya. Silahkan kunjungi medsos kami: IG: @asosiasistudiagamaindonesia, Youtube: Asosiasi Studi Agama Indonesia, FB: Asosiasi Studi Agama Indonesia. [Fbr]

Haru, Prof. Wiwik Menyaksikan Perjalanan Keilmuannya di Studi Agama-Agama

Prof. Dr. Wiwik Setiyani, M. Ag., akrab disapa Prof. Wiwik, menujukkan rasa haru setelah menonton kembali video perjalanannya menuju gelar guru besar yang diputarkan oleh moderator. Bukan perjalanan yang mudah, melalui percakapan yang berlangsung selama satu jam, Prof. Wiwik berbagi tentang bagaimana ilmu agama dapat dilihat dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini beliau menjabat sebagai Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan UIN Sunan Ampel Surabaya.

Pada hari Selasa, 14 Oktober 2025 pukul 10.00-11.00 WIB ASAI, dikenal sebagai ASRI di kancah Internasional, mengadakan sebuah diskusi virtual untuk memperkaya pengetahuan dan meningkatkan motivasi para ilmuwan dan pegiat Studi Agama-Agama untuk meraih gelar tertinggi dalam dunia akademik. Agenda yang sudah jadi rutinan ini menghadirkan Prof. Dr. Wiwik Setiyani, M.Ag. Beliau adalah Profesor kesembilan yang bersedia berbagi dalam Satu Jam Bersama Profesor.

Prof. Wiwik mengawali cerita perjalanan intelektualnya dengan ketertarikannya pada psikologi ala Freud, yang kemudian berkembang menuju kajian tentang sosiologi agama dan kearifan lokal. Beliau menceritakan bagaimana fenomena kearifan lokal di kampung halamannya menjadi titik awal bagi tulisan-tulisan akademik yang ia hasilkan. Perjalanan ini menunjukkan betapa pentingnya menggali akar budaya lokal dalam memahami dinamika sosial dan agama yang lebih luas.

Salah satu karyanya yang dibahas dalam diskusi ini adalah “Kiyai Kampung”. Dalam riset ini Prof. Wiwik membandingkan peran kyai di kampungnya dengan kampung sebelah. Riset ini membawanya pada pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana agama dan masyarakat berinteraksi. Kemudian beliau juga menanggapi pertanyaan moderator tentang riset disertasinya tentang harmonisasi agama dan budaya di Mojokerto yang memberi wawasan penting tentang keberagaman dalam masyarakat. Prof. Wiwik menjelaskan bagaimana masyarakat yang berbeda agama bisa hidup berdampingan dengan damai, sementara ada juga yang hanya menganggap agama sebagai formalitas semata. Di sinilah be beliau menegaskan perbedaan makna kata Harmonisasi dan Harmoni. Continue reading “Haru, Prof. Wiwik Menyaksikan Perjalanan Keilmuannya di Studi Agama-Agama” →

Dari Bedah Buku “Identitas Arab Itu Ilusi” Sampai Praktik Riset Studi Agama-Agama Berbasis Media Sosial

Haetami, M.Ag.
(Analis Media Sosial & Aktif di Divisi Riset & Penerbitan ASAI)

Minggu terakhir di bulan September lalu saya mengisi salah satu program Bedah Buku yang diinisiasi Asosiasi Studi Agama Indonesia. Program ini merupakan wadah bagi teman-teman ASAI untuk mengobrolkan hasil bacaan buku, baik itu buku lawas maupun buku terbitan mutaakhirin. Dalam obrolan yang berlangsung selama satu jam penuh tersebut, saya membedah buku “Identitas Arab Itu Ilusi” karya Musa Kazhim, yang merupakan salah satu buku cukup menarik. Ada dua alasan penting kenapa buku tersebut menarik dibedah dalam konteks Studi Agama-Agama.
Pertama, kehadiran buku tersebut sebagai respon dari fenomena kritik kehabiban yang membanjiri media sosial akhir-akhir ini. Tidak hanya di media sosial, kritik juga muncul dalam lingkup yang lebih nyata. Sekat antara pribumi dan golongan Arab diciptakan, bahkan dibenturkan oleh sebagian tokoh agamawan. Tidak cukup di situ, sebagian kelompok terprovokasi dengan membuat front ulama tandingan yang sifatnya pribumi sentris.
Buku “identitas Arab Itu Ilusi” menyoroti polemik seputar kehabiban di Indonesia yang tidak hanya berhenti pada perdebatan soal silsilah atau garis keturunan, melainkan menyentuh ranah yang lebih dalam: identitas, legitimasi, dan bahkan arah kebudayaan Islam di Nusantara. Buku ini hadir sebagai refleksi ilmiah dan kultural untuk membongkar lapisan-lapisan ilusi yang selama ini menutupi realitas identitas Arab–Habib di Indonesia.
Pengalaman personal Musa Kazhim sebagai penulis buku yang lahir di Jember tanpa kampung Arab, lalu tumbuh di Bangil yang kental dengan perkampungan Arab, menjadi pintu masuk untuk memahami betapa cair, rumit, dan sering kali kontradiktifnya identitas “Arab”. Sejak kecil Kazhim merasakan langsung bagaimana label “Arab” bisa jadi ejekan, kebanggaan, sekaligus bisa jadi alat politik. Identitas ini tidak sederhana, melainkan penuh paradoks, persis seperti ilusi warna kulit yang tampak nyata padahal hanyalah bayangan.
Dalam obrolan bedah buku yang cair selama satu jam, penulis menyoroti pandangan Kazhim bahwa fenomena meng-Arabkan dan meng-Habibkan keturunan Yaman merupakan konstruksi baru, yang dalam sejarah tidak dikenal pada masa awal Islamisasi Nusantara. Walisongo, misalnya, datang dari Hadramaut tapi melebur sepenuhnya dalam budaya lokal. Continue reading “Dari Bedah Buku “Identitas Arab Itu Ilusi” Sampai Praktik Riset Studi Agama-Agama Berbasis Media Sosial” →

ASAI Gelar Diskusi Virtual: Menilik “Anthropocene Religion” di Yogyakarta

Yogyakarta, 16 September 2025 – Asosiasi Studi Agama Indonesia (ASAI) baru saja menyelenggarakan seri diskusi ke-19 dalam program “Seri Belajar Bersama: Teori Studi Agama-Agama” dengan tema “Anthropocene Religion”. Acara virtual ini dilaksanakan pada Selasa, 16 September 2025, pukul 19.30–20.30 WIB, dengan Dr. Ustadi Hamsah, M.Ag., sebagai pemateri utama dan Erna Dwi Cahyati, M.Ag., sebagai moderator. Diskusi ini sukses menarik perhatian para akademisi dan pemerhati studi agama, mengangkat peran agama dalam menghadapi krisis lingkungan akibat pandangan antropocentris.

Dalam pemaparannya, Dr. Ustadi Hamsah menyoroti pergeseran paradigma studi agama dari teosentris menuju antropocentris, yang sering menempatkan alam sebagai objek eksploitasi. “Antropocentrism menjadikan manusia sebagai pusat, memanfaatkan alam sesuka hati, bahkan Tuhan pun kadang diinterpretasikan untuk mendukung sikap egois ini,” ujarnya, mengkritik konsep “egosentrisme” terhadap alam. Ia menegaskan bahwa era Anthropocene menunjukkan dampak besar dari aktivitas manusia terhadap Bumi, sehingga alam harus diperlakukan sebagai subjek, bukan sekadar alat.

Dr. Ustadi juga menyampaikan bahwa kesalahan terhadap sesama bisa diampuni, tetapi kerusakan terhadap alam tidak akan dimaafkan. “Alam harus dijaga, bukan untuk kepentingan egois manusia,” tegasnya, sambil mengusulkan pendidikan dan kesadaran ekologis sebagai solusi. Diskusi juga membahas biocentrism, yang menekankan keseimbangan alam, serta pendekatan “cosmotheandric” yang menghubungkan Tuhan, manusia, dan alam.

Sebagai referensi, Dr. Ustadi mengutip buku Religion, Sustainability, and Place (Steven E. Silvern, Edward H. Davis, 2021), yang mengusung nilai keberlanjutan dalam interaksi manusia dengan lingkungan. “Agama harus membangun harmoni, bukan sekadar doktrin atau dogma,” jelasnya, dengan pendekatan yang kini lebih mengarah pada ilmu sosial dan humaniora. Moderator Erna Dwi Cahyati memfasilitasi diskusi dengan baik, membuka sesi tanya jawab yang membahas ekoteologi dan perubahan iklim.

Acara ini diikuti oleh banyak peserta dari berbagai daerah, mencerminkan antusiasme terhadap integrasi agama dan lingkungan. ASAI berharap diskusi ini menginspirasi aksi nyata untuk kelestarian alam, sejalan dengan nilai agama yang inklusif. Rekaman acara dapat diakses melalui platform resmi ASAI. (KQ)

2025 National Symposium on Religious Studies Explores the Theme of Love

As science and technology rapidly advance, we face numerous humanitarian challenges that require a collective response. One significant challenge is the diminishing awareness of care, love, empathy, and social intimacy. This issue is closely linked to the swift progress of information technology, which often fosters private spaces and undermines warm interpersonal relationships. The resulting social implications include the strengthening of transactional relationships between individuals and groups. In such conditions, qualities like closeness, love, and empathy become scarce, leading to relationships that are reduced to mere subject-object interactions. This situation poses a risk to humanity, as people begin to view others merely as accessories to their own comfort, neglecting the importance of caring for those around them.
This challenge pertains to the religious studies, focusing on how values contribute to building positive relationships. The decline of love and social intimacy in human interactions is a crucial aspect of contemporary religious studies, emphasizing the importance of social context (milieu) at the levels of ontology, epistemology, and axiology. This study area can be further developed within the department of Religious Studies at Indonesian universities. The field of Religious Studies engages deeply with the various changes occurring in society. Consequently, a solid academic foundation is essential, acknowledging that societal changes are closely linked to religious issues. In more specific terms, religion is examined from a diverse range of perspectives. The findings from religious studies provide valuable insights into societal transformations.
The 13th ASAI National Symposium on Religious Studies in 2025 will address the theme "Religion, Love, and Humanity: Transforming the World through Compassion and Empathy." This follows the previous year's theme, "The New Era: The New Role of Religious Studies in the Era of Artificial Intelligence," held in Aceh, and the 12th National Symposium's focus on "Religion and Climate Change: Exploring Responses" in Banjarmasin. The goal of this year's symposium is to feature speakers from the International Association for the History of Religions (IAHR), the Indonesian Ministry of Religious Affairs, and the Presidential Communications Office, all aimed at highlighting the significance of Religious Studies, previously known as Comparative Religion.
The symposium will include several sub-themes for discussion as part of the International Conference, including:
1. Religion and Love in Religious Texts
2. Literature and Artworks about Religion and Love
3. Information Technology and Global Humanitarian Challenges
4. Public Policy in Maintaining Diversity
5. Religious Studies and Philanthropic Movements
6. Religion and the Environment for Humanity
7. Study of Figures Concerned with the Issues of Religion and Love
8. Conflict Resolution Based on Religion and Love
9. Deep Learning, Deeper Religiosity
10. Spatial Awareness in Religion
11. Religious Healing and Psychotherapy
This event aims to foster meaningful dialogue and insights into the impactful intersection of religion, love, and humanity. We invite lecturers and students majoring in religious studies from across Indonesia, as well as other academic enthusiasts interested in contemporary studies, and communities of religious scholars, to participate. This includes members of ASAI and its affiliated institutions. You can register through the following link: https://bit.ly/PendSimpoNas13ASAI If you have any questions, please contact us via WhatsApp at 0878 3899 7388 or 087 222 000. We look forward to welcoming you to Jogja, the city of Indonesian students!

Deepfake, AI, and Religious Polarization: A New Threat to Tolerance?

In today's rapidly evolving digital era, artificial intelligence (AI) and deepfake technology have become integral to our lives. This advancement offers numerous benefits in various fields, including art, education, and communication. However, it also poses significant threats to diversity and interfaith tolerance. The ability to manipulate information and create false realities through AI and deepfakes can deepen religious polarization, spark conflicts, and exacerbate social tensions.

Deepfake is an AI-based technology that enables the convincing manipulation of video and audio, allowing someone to appear or be heard doing or saying something that never actually occurred. In the context of religion, the impact can be highly destructive. For example, imagine a video that shows a religious leader making a provocative or intolerant statement when, in reality, the video is entirely fabricated.

Individuals with limited digital awareness can easily be misled and may mistakenly believe that a public figure made a statement, which can lead to heightened tensions between religious communities. Beyond deepfakes, AI contributes to an increasingly polarized digital landscape. Social media algorithms are designed to boost user engagement by delivering content that matches users' preferences and beliefs.

Users often encounter viewpoints that simply reinforce their existing beliefs, limiting their exposure to broader perspectives. This phenomenon is referred to as a digital "echo chamber," where narratives promoting religious intolerance and exclusivity are amplified, leaving little space for healthy dialogue. Continue reading “Deepfake, AI, dan Polarisasi Agama: Ancaman Baru bagi Toleransi?” →

ASAI Mereview Kurikulum OBE untuk Akreditasi Internasional

Yogyakarta, 12-14 November 2024 — Asosiasi Studi Agama Indonesia (ASAI) mengadakan kegiatan review kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE). Workshop ini diikuti oleh sejumlah Ketua Program Studi (Kaprodi) dan Sekretaris Program Studi (Sekprodi) Studi Agama-agama dari berbagai universitas di Indonesia. Acara yang berlangsung selama tiga hari, mulai Selasa (12/11) hingga Kamis (14/11) ini juga diikuti oleh Prodi Sosiologi Agama dari IAKN Toraja dan Prodi Agama dan Budaya IAKN Ambon, bertempat di Hotel Grand Keisha, Depok, Sleman, Yogyakarta.

Kegiatan dimulai pada hari Selasa pukul 14.00 WIB dengan sesi pembahasan dan pengenalan mengenai kurikulum OBE yang dipandu oleh Roni Ismail, S.Th.I., M.S.I., anggota Departemen Penerbitan dan Publikasi ASAI. Dalam paparannya, Roni yang juga menjabat sebagai Kaprodi Studi Agama-agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, menyampaikan bahwa penyusunan kurikulum pada dasarnya dapat dilakukan dengan mudah jika mengikuti prinsip-prinsip OBE.

Pada workshop ini 13 orang peserta memperoleh pemahaman mendalam mengenai implementasi kurikulum OBE untuk akreditasi internasional dan pulang dengan berkas kurikulum yang telah disusun dan direview oleh asosiasi.

Kontributor Haetami.

Editor Muryana

Prof. Dr. Deni Miharja, M.Ag., Ditetapkan Sebagai Ketua Umum ASAI Periode 2024-2029

Pada Rabu, 14 Agustus 2024, UIN Antasari Banjarmasin menjadi saksi berlangsungnya kegiatan pemilihan Ketua Umum Asosiasi Studi Agama Indonesia (ASAI) periode 2024-2029. Acara yang digelar di Gedung Auditorium Mastur Jahri dihadiri oleh sejumlah perwakilan dari berbagai program studi agama-agama di seluruh Indonesia. Suasana rapat pleno berjalan dengan penuh semangat, mencerminkan komitmen seluruh peserta untuk mengembangkan studi agama di tanah air.

Dalam rapat tersebut, dibentuk tim formatur yang terdiri dari perwakilan dari masing-masing Prodi Studi Agama Agama seluruh Indonesia untuk menyeleksi dan menentukan kepemimpinan baru ASAI. Hasil dari proses tersebut, Prof. Deni Miharja, M.Ag., dari Prodi Studi Agama-Agama UIN Bandung, mendapatkan kepercayaan besar dengan terpilih sebagai Ketua Umum ASAI yang baru. Profesor Deni dikenal sebagai sosok yang memiliki wawasan luas dan dedikasi tinggi terhadap pengembangan kajian agama di Indonesia. Dalam sambutannya, ia mengajak untuk melanjutkan program yang telah berlangsung dan terus meningkatkan kiprah asosiasi agar bermanfaat untuk seluruh Prodi SAA seluruh Indonesia termasuk juga anggota yang ada dalam keanggotaan Asosiasi Studi Agama Indonesia. Continue reading “Prof. Dr. Deni Miharja, M.Ag., Ditetapkan Sebagai Ketua Umum ASAI Periode 2024-2029” →