SOSIOVIROLOGI: Perubahan Sosial-Keagamaan Akibat Pandemi Covid-19

Oleh: Dr. Sholikh Al-Lamongani, M.Phil.I*

Tulisan ini hendak menyatakan bahwa Covid-19 (Coronavirus disease 2019) menjadi salah satu faktor dominan yang dapat merubah tatapola dan bangunan sendi kehidupan masyarakat dunia (global). Sehingga, tulisan ini ingin  menguatkan argumentasi di atas, dengan menggambarkan peta perubahan masyarakat akibat pengaruh Virus. Dan gambaran realitas perubahan tatapola dan bangunan sendi kehidupan masyarakat  karena Covid-19, saya sebut dengan istilah “SosioViruslogi”. Jadi SosioViruslogi adalah sebuah situasi (teori) sosial yang menyatakan bahwa virus (mikroba) dapat menjadi penentu utama dari perubahan sosial di masyarakat.

Memasuki tahun 2020 masyarakat global termasuk Indonesia, dihebohkan dengan sebaran virus corona baru bernama SARS-CoV-2, virus yang menjadi penyebab dari Covid-19. Kasus dan awal penyebaran Covid-19 ini ditengarahi berasal dari Kota Wuhan China di akhir tahun 2019 yang kemudian menyebar secara global.

Walaupun kemudian muncul counter opini melalui berita bahwa asal mula penyeberan Covid-19, berasal dari Amerika Serikat, Eropa bahkan ada yang mengatakan dari Indonesia, namun hal ini tidak terlalu penting, yang jelas realitas hari ini penyebaran Covid-19 sudah hampir ke seluruh negara di bumi ini.

Berdasarkan data yang di reales oleh Worldmeters yang dikutip oleh Kompas.Com (15/4/2020) disebutkan secara global dunia per 15 April 2020 jumlah total kasus Covid-19 sebanyak 1.991.275, yang mati 125.951 orang, yang sembuh 467.079 orang.

Adapun 10 Negara terbesar kasus Covid-19 peringkat pertama adalah Amerika Serikat (AS) dengan 610.6322 kasus, mati 25.856 orang, sembuh 38.562 orang; Spanyol: 172.541 kasus, mati 18.056 sembuh 67.504; Italia: 162.488 kasus, mati 21.067 sembuh 37.130; Perancis 143.303 kasus,  mati 15.729, sembuh 28.800; Jerman: 131.359 kasus,  mati 3.294, sembuh 68.200. Inggris: 93.873 kasus,  mati 12.107, sembuh 344; China: 82.249 kasus, mati3.341, sembuh 77.738. Iran: 74.877 kasus, mati 4.683 sembuh 48.129; Turki: 65.111 kasus,  mati 1.403 sembuh 4.157; Belgia: 31.119 kasus,  mati 4.157 sembuh 6.868. Sementara di Indonesia ada  4.839 kasus,  mati 459 dan sembuh 426. Secara global, data tersebut tren-nya masih terus bertambah.

Data di atas menunjukkan bahwa Covid -19 menjadi hantu “zombie” menakutkan dan mematikan bagi tatanan kehidupan global, karena hampir semua negara di dunia terpapar Covid-19.

Dapat dikatakan Covid-19 sebagai “Tragedi Kemanusian Terbesar” sepanjang abad ini, karena biasanya kasus-kasus terkait virus, semisal flu burung, flu babi, ebola, colera sebarannya mudah terdeteksi dan lokalistik, berbeda dengan Covid-19 yang seberannya sulit terdeteksi dan telah menyebar hampir ke seluruh dunia. Covid-19 berdampak sangat serius terhadap tatapola dan sendi kehidupan masyarakat global di semua negara, mulai dari sosial, ekonomi, kesehatan,  politik, budaya, hukum, dan keagamaan.

Menggunakan kerangka teori perubahan sosial Karl Marx dalam bukunya On Society and Social Change, Marx membagi struktur sosial masyarakat ke dalam dua struktur, struktur dasar (basic structure) berupa cara dan alat produksi (persoalan ekonomi)  dan suprastruktur terdiri dari realitas abstrak yaitu kesadaran dan realitas terinstitusional seperti agama, keluarga, politik, hukum, budaya dll. Menurut Marx perubahan sosial didorong oleh posisi dan situasi basic structure(ekonomi),  sehingga tatanan suprastruktur (agama, budaya, sosial, keluarga, politik, dll) akan sangat ditentukan oleh basic structure(ekonomi) tersebut. Artinya, ekonomi menjadi faktor dominan dan penentu arus perubahan sosial di masyarakat. Namun teori Marx untuk saat ini kurang tepat dijadikan landasan pembacaan faktor utama yang mendorong perubahan sosial masyarakat dewasa ini. Bagi penulis, berdasarkan realitas sosial yang terjadi di masyarakat saat ini, faktor utama (basic structure) pendorong perubahan sosial masyarakat adalah Virus (Covid-19) bukan faktor ekonomi sebagaimana teori Marx. Sebab, munculnya Covid-19 ini mampuh merubah bangunan suprastruktur (ekonomi,budaya, hukum, relasi sosial, kesehatan dan kehidupan keagamaan)  di masyarakat.

Realitas perubahan sosial karena virus dapat teramati secara gamblang di masyarakat. Sehingga, untuk memperkuat argumentasi di atas, penulis akan menggambarkan peta perubahan sosial karena Covid-19 dengan alat baca situasi dan kondisi masyarakat Indonesia.

Sejak sebaran Covid-19 melanda Indonesia sejak empat bulan terakhir (Januari-April 2020) terjadi perubahan luar bisa pada bangunan suprastruktur di masyarakat, mulai dari sendi kehidupan ekonomi, sosial, budaya,  kesehatan,  hukum, politik hingga keagamaan di masyarakat. Dalam rangka mencegah dan melawan sebaran Covid-19 pemerintah Indonesia dan negara-negaradi dunia menerapkan protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh WHO yang secara prinsip sama, namun strategi di lapangan berbeda-beda. Kebijakan yang diambil oleh Pemerintah Indonesia adalah menerapkan strategi psychical distancing(jaga jarak fisik), social distancing(jauhi kerumunan orang), stay at home(berdiam dirumah), anjuran cuci tangan dan penggunaan masker dan Pembatasn Sosial Berskala Besar (PSBB,) atau lockdownterbatas, sementara negara lain langsung menerapkan lokcdown (penutupan akses keluar masuk bagi daerah terdampak Covid-19), seperti Italia,  Perancis,  Inggris, dll.

Kebijakan tersebut tentu sangat berdampak pada aspek sosio-ekonomi, sosial-budaya, sosio-politik dan sosial-keagamaan. Sehingga secara langsung maupun tidak langsung terjadi perubahan tatapola relasi dan struktur sosial di masyarakat.

Dibawah ini akan di gambarkan peta perubahan struktur sosial masyarakat akibat Covid-19.

Pertama, aspek ekonomi. Dampak virus Covid-19 pada sektor ekonomi adalah terjadinya disstabilitas (kegoncangan) struktur ekonomi di masyarakat. Kegoncangan ekonomi dikarenakan adanya pembatasan dan penutupan produksi di sektor Industri (pabrik) dan perusahan jasa karena harus menerapkan physical-social distancing, serta lesuhnya permintaan pasar karena pasar-pasar grosir besar di Indonesia sebagian besar ditutup (seperti PGS Surabaya, Pasar Tanah Abang Jakarta). Penutupan ini untuk menghindari kerumunan manusia dalam rangka mencegah penyebaran Covid-19.

Selain itu Covid-19 berdampak pula pada sektor ekonomi pariwisata. Restaurant, warkop, warteg, mall,  hotel, tempat wisata sebagian besar tutup, sehingga berdampak pula kepada sektor usaha transportasi yang “loyo-lesu”, terutama pada sektor industri pesawat terbang yang mengalami kerugian besar karena adanya kebijakan penutupan akses keluar masuk bagi warga atau wisatawan asing di berbagai negara. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar semakin berdampak pada sektor usaha expor impor dan pelambatan pembangunan infrastruktur berbasis investasi dengan penggunaan pembiayaan mata uang asing.

Situasi di atas berdampak pada pelambatan perputaran uang  dan terjadi kerugian besar para pelaku usaha, sehingga berdampak pada PHK masif buruh-karyawan. Situasi ini akan menambah pengangguran besar-besaran, yang tentu akan berdampak pada terjadinya kemisikinan masal di Indonesia. Situasi masyarakat yang tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan dasarnya dapat memunculkan kerawanan dan konflik sosial.

Kedua, aspek sosial-budaya. Kebijakan physical-social distancingsangat berdampak terhadap relasi sosial-budaya di masyarakat, diantaranya pada sektor pendidikan. Dengan penerapan physical-social distancing mendorong Kemebdikbud membuat peraturan Belajar Di Rumah (BDR) dengan sistem pembelajaran daring (online) hingga dihapusnya Ujian Nasional, dengan harapan dapat mencegah sebaran Covid-19.

Salah satu dampak kebijakan BDR ini terjadi “kegagapan” atau ketidaksiapan di kalangan pelaku pendidikan mulai guru murid dan orang tua. Proses pembelajaran online sangat tergantung pada penguasaan teknologi informasi (internet), sementara mayoritas orang tua (wali murid) dan siswa di Indonesia tinggal di pedesan belum begitu melek teknologi bahkan mungkin belum ada sambungan internet, sehingga proses pembelajaran onlie kurang maksimal. Dihapusnya Ujian Nasional sebagai alat ukur dan evaluasi dalam pembelajaran, dapat berdampak pada ketidakjelasan ukuran dan evaluasi pendidikan nasional. Situasi ini sedikit banyak akan berpengaruh terhadap tatakerja dan kualitas pendidikan Indonesia.

Covid-19 juga berdampak pada munculnya “paranoid sosial” dalam pergaulan sosial budaya di masyarakat. Hal ini nampak pada sikap kecurigaan berlebihan (bahkan juga ketakutan) antar individu, orang lain dicurigai membawa virus corona baru dan dianggap mengancam dan membahayakan keselamatan jiwa dan raganya.

Fakta di lapangan terjadinya paranoid sosial diantaranya tampak pada keenganan atau ketakutan bersalaman dengan orang, bersilaturahim “cangkrukan” dengan saudara, teman atau tetangga, dan membatasi ketemu banyak orang; gang-gang kampung dan perumahan ditutup dan disiapkan timbah cuci tangan. Yang paling menghebohkan dan menggetarkan jiwa kemanusiaan kita dari bentuk paranoid sosial ini adalah adalah ditolaknya mayat Pasien Dalam Pengawasn (PDP) dan Positif Covid-19 di pemakaman kampungnya sendiri oleh warga sekitar. Padahal sebelumnya karakter sosial budaya bangsa Indonesia sangat terbuka, egaliter, guyub, rukun, suka silaturahim, “nguwongne wong” dan gotong royong. Kultur ini seakan hilang dan terkikis ditengah pandemi Covid-19. Situasi ini disebabkan oleh ketakutan berlebih terhadap orang lain yang dianggap dapat menularkan Covid-19.

Ketiga, aspek sosio-politik. Masifnya sebaran Covid-19 juga berdampak pada dunia sosio-politik, yaitu terjadiya “enigma politik”. Enigma politik adalah situasi sosial politik, yang penuh teka-teki atau ketidakjelasan terhadap proses-proses kegiatan politik di masyarakat.

Contoh terjadinya enigma politik adalah ditundanya beberapa hajatan politik Pilkada Gubernur-Wakil Gubernur, Pilkada Bupati/Walikota-Wakilbupati/Wakilwalikota serta ditundanya Pilkades dengan waktu yang belum ditentukan pelaksaananya secara pasti.

Penundaan ini merupakan hasil keputusan bersama Komisi II DPR, Mendagri dan KPU RI. Penundaan proses politik ini akan berimbas pada individu dan keluarga calon sebab semakin membengkak biaya politik dan meningkatkan kegelisahan pikiran dan jiwanya, bahkan stess, karena tidak adanya kepastian.

Penundaan proses politik juga berdampak pada terganggunya tatakerja politik pemerintahan di masyarakat; yang seharusnya sudah tahap pergantian kepemimpinan akhirya diperpanjang atau PLT. Situasi ini tentu dapat berdampak pada kebijakan publik yang menyangkut hajat hidup masyarakat, sehingga berpotensi terjadi kekacauan politik di masyarakat.

Perubahan kebijakan politik lain akibat Covid-19 adalah terkait remisi bagi ribuan narapidana kriminal biasa. Kebijakan ini belum pernah terjadi dan tentu berpotensi memunculkan masalah lainnya di masyarakat, diantaranya bertambahnya penganguran dan meningkatnya kerawanan sosial bahkan kriminalitas.

Keempat, aspek sosial-keagamaan. Kebijakan terhadap pencegahan sebaran Covid-19 berdampak pula terhadap kehidupan sosial-keagamaan yang meminjam istilah Gus Musthofa Bisri, terjadi “suwung” beragama atau privatisasi ritual keagamaan di masyarakat.

Suwung atau sepi beragama maksudnya adalah situasi dimana ritual-ritual suci keagamaan yang biasa dikerjakan secara bersama-sama di ruang publik (Masjid, Gereja, Pura, Wihara,  Klenteng) bergeser dilaksanakan diruang privat (rumah) dan dilakukan bersama keluarga inti. Semisal larangan sholat fardhu, sholat Jumat, sholat tarawih ramadhan dan sholat Idul Fitri secara berjamah di masjid.

Covid-19 juga menjadi dasar Pemerintah Saudi untuk sementara menutup masjidil haram melalui pelarangan Umra. Bahkan kemungkinan juga pelaksanaan ibadah haji tahun ini ditiadakan jika perkembngan Covid-19 belum juga mereda.

Selain itu ada pula pelarangan perayaan hari suci keagamaan bersama-sama diruang publik.

Semisal perayaan Paskah umat Kristiani,  perayaan Nyepi umat Hindu,  Perayaan Waisak umat Budha dan perayaan Hari Raya I’dul Fitri umat Islam. Kegiatan Ramadhan di masjid dan musholla juga dibatasi sehingga tidak ada buka puasa bersama sholat, shalat tarawih berjamaah, gempita tadarus Al-Qur’an.

Bahkan, tradisi mudik lebaran yang sudah menjadi ritual tahunan dan tradisi unik masyarakat muslim Indonesia terancam dilarang, sehingga lebaran umat Islam tahun ini diprediksi sepi suwung. Tidak ada gempita pembelian baju baru, sepinya gema takbiran, sepinya silaturahim sanak keluarga, serta sepinya pemberian angpo yang ditunggu anak-anak. Padahal mudik dan merayakan Idul Fitri bersama sanak keluaga di desa merupakan suatu “cita-cita” yang ditunggu bagi para perantaun untuk pulang ke desa asalnya.

Selain itu terjadi pula perdebatan menyikapi pandemi Covid-19 di kalangan masyarakat terutama Muslim Indonesia. Ada tiga arus penyikapan masyarakat terhadap pandemi ini: Pertama sikap sangat percaya penuh, jika kita mengikuti semua prosedur kesehatan maka kita akan sehat dan selamat dari Covid-19. Sikap dan pemikiran ini dalam ilmu Kalam (teologi)  disebut aliran Qodariyah. Kedua, sikap percaya penuh kepada kehendak Allah, bahwa virus dan kematian semua bagian dan sudah diatur oleh Allah Sang Maha Kuasa,  artinya kalau Allah belum menakdirkan mati pasti akan mati walapun sudah mengikuti anjuran ilmu kesehatan dan sebaliknya, jadi pasrahkan semua pada kehendak Allah,  kita ikuti saja kehendaknya. Sikap dan pemikiran ini dalam ilmu Kalam disebut aliran Jabbariyah. Ketiga, sikap tetap mengikuti anjuran protokal kesehatan dan terus berdoa minta keselamatan dari Allah, sebagai bagian ikhtiar yang harus dilakukan terlebih dahulu oleh manusia secara maksimal,  kemudian pasrahkan semua hasil dari ikhtiar kepada kehendak Allah (tawakal). Sikap dan pemikiran ini dalam ilmu Kalam disebut aliran Asy’ariyah.

Demikian pembacaan penulis terhadap fenomena dan gejala sosial dan keagamaan yang sedang terjadi di masyarakat di tengah Pandemi Covid-19 ini, tentu masih jauh dari sempurna. Semoga menjadi sumbangsih untuk melakukan riset yang lebih dalam. Hanya Allah yang punya ilmu dan kebenaran sejati.

 

*Dosen Prodi Studi Agama-Agama FAI UM Surabaya & Pengurus ASAI

One thought on “SOSIOVIROLOGI: Perubahan Sosial-Keagamaan Akibat Pandemi Covid-19

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *