New Masjid Pasca Pandemik Covid-19

Alma’a Cinthya Hadi

alma

Beragam himbauan dan kebijakan diberlakukan pemerintah untuk merespon pandemik Corona Virus Disease atau yang biasa disebut COVID-19, mulai dari anjuran untuk melakukan social distancing (yang kemudian diubah menjadi physical distancing), work from home (kerja dari rumah), hingga pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Bagi mereka yang terpaksa beraktivitas di luar rumah diharuskan menggunakan masker, cuci tangan dengan sabun, dan rutin membersihkan badan jika sudah pulang ke rumah. Covid-19 telah memaksa orang untuk memulai kehidupan baru yang relatif berbeda dengan biasanya.

Masjid merupakan salah satu tempat yang secara langsung terdampak kebijakan PSBB. Masjid yang secara reguler menjadi tempat berkumpul untuk melaksanakan ibadah rentan menjadi tempat penularan Covid-19. Sifat kerentanan terhadap penularan Covid-19 di kerumunan ini yang kemudian memunculkan himbauan atau pelarangan untuk sementara waktu tidak melakukan salat jumat dan menggantinya dengan salat duhur, serta melaksanakan salat tarawih dan salat Iedul Fitri di rumah, sebagaimana dikeluarkan oleh Kementerian Agama, Muhammadiyah dan NU . Namun demikian, tidak serta merta himbauan yang dikeluarkan oleh Kemenag  RI dan dua ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut dipatuhi oleh semua umat Islam Indonesia, terutama yang berkaitan salat Jumat.

Masjid di Masa Pandemi

Mungkin sebagian besar umat Islam tidak pernah membayangkan jika pada satu waktu mereka tidak boleh berkumpul (beribadah) di masjid. Namun kenyataan itu harus dihadapi saat ini. Musababnya adalah  virus kecil bermahkota yang popular dengan sebutan Corona.Masjid yang merupakan tempat untuk menumbuh-kembangkan nilai-nilai keimanan, tiba-tiba untuk semantara waktu (entah sampai kapan) harus ditinggalkan. Padahal, agama adalah “sitem budaya” yang berisi simbol, tradisi dan kepercayaan yang terus menerus dilestarikan untuk menciptakan perasaan dan motivasi yang kuat dengan melekatkan konsepsi tersebut dalam pancaran faktual sebagai realitas yang unik (Geertz, 1992). Merujuk pendapat Clifford Geertz tersebut, bahwa agama sebagai sistem kebudayaan, maka berhenti sementara untuk tidak ke masjid berarti merupakan pemutusan terhadap nilai-nilai “lama” yang secara terus menerus dilestarikan melalui proses pewarisan.

Betapa beratnya pilihan untuk sementara waktu meninggalkan masjid tersebut dapat dilihat dari fenomena yang terjadi di sebuah desa di Jawa Barat. Ada tiga respon umat terhadap himbauan untuk tidak melaksanakan salat Jumat. Pertama, patuh untuk tidak melaksanakan salat jumat. Mereka patuh terhadap himbauan pemerintah dan ormas keagamaan untuk tidak melaksanakan salat jumat karena hanya bersifat temporer dan bertujuan untuk melindungi umat dari bahaya Covid-19.

Kedua, melaksanakan setiap tiga minggu sekali. Kelompok ini berupaya menegosiasikan antara kepatuhan terhadap pemerintah dan ketaatan untuk tetap menjalankan doktrin keagamaan, yaitu bahwa jika tidak kali tidak melaksanakan salat jumat, maka masuk kategori munafik. Oleh karena itu, mereka melaksanakan salat jumat setiap tiga minggu sekali.

Ketiga, tetap melaksanakan salat Jumat sebagaimana biasanya. Kelompok ini tetap menjalankan salat Jumat sebagaimana biasanya, seolah-olah tidak ada wabah Covid-19. Mereka tidak khawatir dengan kehadiran Covid-19, karena mati-hidup sudah ditentukan oleh Allah. “Takut hanya kepada Allah, bukan kepada Covid,” demikian ungkap mereka. Bahkan mereka mengganggap bahwa kebijakan pemerintah hanya untuk menjauhkan umat dari masjid. Misalnya viral dibeberapa group WA, “mengapa yang ditutup hanya masjid dan yang diliburkan hanya shalat Jumat dan jamaah sementara pasar, mal, dan lain-lain masih jalan terus?”

Mengembalikan Fungsi Masjid sebagai Pusat Perdaban

Jika Covid-19 berlangsung dalam waktu yang lama, masih perlukah masjid bagi umat Islam? Pertanyaan tersebut mengingatkan saya pada sebuah istilah yang sedang hangat di kalangan masyarakat, yaitu new normal. Suatu keadaan pasca wabah yang mengubah segala kebiasaan lama. Kebijakan seperti social distancing yang telah dilaksanakan sedemikian lama hingga menjadi kebiasaan, tentunya secara revolusioner akan menggeser paradigma masyarakat tentang “berkumpul”.

Jauh sebelum wabah beserta seperangkat aturan penanganannya muncul, Kuntowijoyo telah menulis keadaan hilangnya otoritas agama dari pemeluknya dalam buku Muslim Tanpa Masjid. Sebelum corona menyerang saja otoritas pemimpin agama telah banyak digantikan peran dan pengaruhnya dengan ustadz seleb di dunia maya (internet) dan sosial media. Masyarakat mencari informasi keagamaan di Youtube yang tidak dapat diverifikasi kebenarannya. Hal ini merupakan indikasi runtuhnya masjid sebagai sebuah institusi agama. Selanjutnya, jika merujuk Teori John O. Voll tentang Continuity and Changes, umat Islam akan kehilangan geneologi intelektualnya yang selama ini menjadi tolak ukur keabsahan suatu ilmu di kalangan pesantren, instrumen penyebar agama Islam setelah masjid.

Selain itu, simbol kesakralan masjid akan pudar apabila masjid hanya dipahami sebagai wadah rirual kepada yang transenden semata dan menghilangkan konsep ihsan yaitu Tuhan melihat segala apa yang kita kerjakan. Ibadah yang dilakukan di masjid hanya berorientasi pada syariat belaka karena takut dosa ataupun masuk neraka, bukan sebuah kebutuhan rohani. Pemisahkan antara beritual agama dan berohani inilah yang kemudian membawa dampak signifikan bagi keberlangsungan masjid. Masjid yang hanya mengelola kegiatan yang monoton, seperti pengajian dengan narasi yang itu-itu saja, biasanya perihal halal haram, perlahan akan ditinggalkan karena dianggap tidak memenuhi kebutuhan jamaahnya.

Pada sisi yang lain, kondisi di atas merupakan autokritik terhadap para akademisi cum agamawan yang selama ini sibuk mewacanakan pemikiran keagamaan yang melangit, kurang membumi sehingga gagal menyentuh kebutuhan umat di akar rumput. Mungkin ini salah satu akar mengapa corak beragama di Indonesia tidak kunjung dewasa. Narasi keagamaan terlau didominasi syariat halal-haram dan miskin cinta kasih kepada sesama. Terlalu dominan pesan pringatan dan ancaman, sangat minim anjuran untuk mendayagunakan akal melalui pengembangan sains, ekonomi dan peradaban yang menjadi kebutuhan masyarakat. Padahal itulah inti dari beragama, membawa kebahagiaan dan kesejahteraan serta meghilangkan penderitaan. Oleh karena itu, di saat pandemi dan pasca wabah nanti, merupakan waktu yang tepat untuk merumuskan “new masjid” sebagai pusat pengembangan peradaban.

 

Mahasiswa Prodi Studi Agama-Agama
Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

One thought on “New Masjid Pasca Pandemik Covid-19

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *