Menyerukan Kembali Semangat Memayu Hayuning Bawono di Tengah Pandemi

Muhamad Fauzi Zakaria

fauzi

Memayu Hayuning Bawono adalah filosofi adiluhung masyarakat Jawa yang berarti “Mempercantik dunia yang cantik”. Istilah tersebut telah bersemayam dalam diri masyarakat Jawa sebagai puncak spiritual untuk tetap merawat harmoni antar manusia dengan manusia dan manusia dengan alam semesta.

Dalam arti lebih luas, Memayu Hayuning Bawono berarti sebuah jalan hidup (way of life) yang harus ditapaki oleh manusia untuk memperkuat kesalehan individu, hubungan sosial, dan sebagai wujud ungkapan syukur atas karunia yang diberikan Tuhan lewat penciptaan alam semesta dan seluruh kekayaan yang dikandungnya. Tiga dimensi antara individu, masyarakat, dan alam memiliki ketersinggungan yang saling mempengaruhi satu sama lain.

Manusia hidup di dunia tidak sendiri, ia bersanding dengan manusia lain yang memiliki hak setara untuk hidup dan mencari penghidupan di bumi. Upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan untuk hidup melibatkan tak hanya interaksi sosial antar manusia saja. Ia juga melibatkan alam semesta sebagai sumber penghidupan. Tak jarang aktivitas mempertahankan kehidupan manusia menemui berbagai rintangan mulai dari konflik antar sesama manusia hingga terjadinya bencana alam yang membuat manusia urung memenuhi kebutuhannya secara tuntas.

Dalam konteks Memayu Hayuning Bawono, manusia sebagai subjek yang bertanggung jawab atas gonjang-ganjingnya alam semesta dituntut untuk arif dalam mengelola dirinya sendiri, hubungan sosial dengan orang lain, dan alam. Ini penting sebagai bentuk mempertahankan harmoni jagad raya agar tetap dalam kondisi cantik seperti semula saat ia diciptakan oleh Gusti Kang Murbeng Dumadi.

Jagat raya yang terlahir dalam kondisi ayu tidak hanya harus dijaga, melainkan juga harus terus dipercantik agar terjadi hubungan yang serasi antara jagat raya dengan penghuninya yakni manusia. Hubungan yang serasi dapat tercermin dalam bentuk terciptanya masyarakat yang menjunjung toleransi, semangat gotong royong, dan merawat kelestarian lingkungan.

Masyarakat Jawa mengenal konsep jagad alit dan jagad agung sebagai sebuah realitas yang saling mengisi. Jagad alit dipahami sebagai diri sendiri sedangkan jagad agung berarti masyarakat dan dunia. Jagad alit (pribadi) memperoleh ketenangan batin, kebahagiaan, dan kesejahteraan dari jagad agung (masyarakat dan alam). Jagad agung mencapai perdamaian, keselarasan, dan keamanan dari jagad alit yang berhasil menyingkirkan egoisme, keserakahan, dan ketamakan. Hubungan timbal balik antar jagad alit dan jagad agung menjadi bersifat mutlak dan sebangun. Kesebangunan antara manusia dan alam semesta didasarkan kepada kesamaan jati diri yang bermula dari Gusti Kang Murbeng Dumadi (Tuhan).

Dilihat dalam perspektif sosiologi agama, adanya istilah Memayu Hayuning Bawono membawa peluang besar untuk membentuk masyarakat yang gotong royong dan tepo seliro. Talcott Parson (1902-1972) menjelaskan dalam teori Fungsionalisme Strukturalnya bahwa manusia terintegrasi satu sama lain dalam fungsi-fungsi yang membuahkan suatu keteraturan. Keteraturan yang terjadi disebabkan atas nilai-nilai yang sama antar masyarakat. Kesamaan yang timbul dapat diperoleh melalui kesadaran-kesadaran universal yang sebelumnya telah terbentuk seperti; keyakinan terhadap hak asasi manusia, kesadaran akan sesama makhluk ciptaan Tuhan, ketergantungan dengan alam, dan lain sebagainya.

Memayu Hayuning Bawono sebagai sebuah falsafah hidup bukan hanya milik Jawa saja, tetapi sebuah pitutur luhur berisi nilai-nilai universal yang mendukung solidaritas global tanpa melihat embel-embel identitas dari kelompok masyarakat manapun. Jika seluruh manusia menyadari kedudukannya sebagai manusia yang bergantung kepada alam maka itu sudah cukup untuk membuat Memayu Hayuning Bawono sebagai penghubung sekat-sekat yang sebelumnya terpotong.

Akhir-akhir ini, mencuat kembali rasisme dan xenophobia di barat yang menunjukkan bahwa terkikisnya rasa solidaritas antar umat manusia masih nyata adanya. Diktum superior dan inferior yang sejatinya tidak penting malah dijadikan acuan atas pembenaran perilaku yang dapat menimbulkan konflik yang lebih besar. Padahal jelas saat kondisi serba susah seperti saat ini hanya kekuatan kolektif seluruh masyrakat dunia yang diperlukan.

Memayu Hayuning Bawono menjadi perenungan dan laku sosial yang sesuai, mengingat apalagi dalam kondisi pandemik saat ini sangat membutuhkan ajaran-ajaran mengenai nilai-nilai universal untuk memupuk rasa senasib sepenanggungan antar umat manusia dengan harapan mampu memberikan dampak positif bagi sesama.

Peran-peran kemanusiaan tak boleh hanya dibebankan kepada pemerintah atau otoritas kesehatan saja. Ia merupakan tanggung jawab bersama yang harus disulut dan dinyalakan kembali dengan semangat-semangat kolektif seperti halnya semangat untuk melakukan Memayu Hayuning Bawono.

Tabik

Mahasiswa Prodi Studi Agama-Agama
IAIN Kediri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *