Islam dalam Keadilan Aristoteles

M. Khusnun Niam

M. Khusnun Niam

Aristoteles merupakan filosof yang lahir pada tahun 384 SM di daerah Macedonia, tepatnya di daerah Stagira. Pada umurnya yang ke 15, ia ditinggalkan ayahnya, kemudian diasuh oleh adik ayahnya yakni Proxenus. Setelah umurnya lebih dari 17 tahun, ia pergi ke Athena untuk mengikuti Akademi Plato. Disana ia menjadi murid Plato selama 20 tahun dan kemudian di angkat menjadi guru di Akademi Plato setelah meninggalnya Plato. Kemudian ia keluar dari Akademi Plato dan melakukan pengembaraannya selama 12 tahun. Dalam pengembaraan ini, Arsitoteles berhasil mendirikan beberapa Akademi. Selain itu, banyak karya yang ia hasilkan sebelum ia meninggal pada tahun 322 SM di Yunani, yakni di wilayah Kalkis.

Karya Aristoteles yang monumental ada 2 topik, yakni terkait politik dan etika. Namun, dalam tulisan ini, hanya akan menyinggung sekilas pemikiran etika yang dikembangkan oleh Aristoteles yang berbau keadilan dan tentunya pandangannya terhadap keadilan serta bagaimana konsep keadilan yang ditawarkan olehnya. Terkait dengan konsep keadilan yang dikembangkan oleh Aristoteles, Islam juga memiliki karakter yang serat dengan keadilan. Sehingga, perlu di dalami terkait Islam dalam keadialan Aristoteles.

Islam merupakan sebuah agama yang di dalamnya mengandung normativitas dan historisitas. Sebagai sebuah ajaran, artinya Islam sebagai agama berisikan keyakinan seseorang. Dalam hal ini, bisa dipahami bahwa Islam sebagai ajaran berkaitan erat dengan perihal peribadatan kepada sang Pencipta. Berbeda dengan hal tersebut, Islam sebagai sebuah Ilmu menekankan adanya suatu hal yang dapat dikaji dan tentunya untuk berbagai kepentingan. Sehingga, dalam memahami Islam tidak bisa terlepas dari 2 pendekatan ini, yakni normativitas dan historisitas yang difungsikan sebagai sudut pandang terhadap keislaman.

Terkait dengan hal di atas, sering kita memahami bahwa Islam itu agama yang bijaksana, artinya kental dengan perkara keadilan di dalamnya. Hal ini dilatar belakangi oleh pandangan atas pemahaman terhadap ilmu tauhid, bahwa Tuhan menciptakan semua manusia itu sama, antara laki-laki dan perempuan, mereka memiliki daya untuk mendekatkan diri kepadannya sebagai hamba, artinya Tuhan tidak mendahulukan laki-laki ataupun perempuan dalam perhitungan kebaikan, melainkan semuanya memiliki kesempatan yang sama untuk menujuNya, tanpa adanya pertimbangan bagiNya mana yang terlebih dahulu. Sehingga, Islam sangat serat dengan keadilan bagi kemanusiaan dalam berkehidupan ketuhanan dan sosial masyarakat.

Pemahaman atas keadilan dalam Islam tidak bisa terlepas dari penalaran atas Islam sebagai rahmat dan analogi dalam mempelajari tauhid, artinya keadilan dalam Islam hanya bisa ditemu dengan memfungsikan antara pedoman yakni berupa teks-teks suci dan proses penalaran manusia sebagai makhluk berakal juga menujuNya. Hal ini merupakan dasar bagi seseorang untuk menemukan keadilan dalam Islam. Sehingga, dari pemahaman atas Islam yang lahir dari pertemuan antara teks-teks suci dan rasionalitas akan melahirkan suatu prinsip bahwa Islam sangat serat dengan keadilan.

Bagi Aristoteles keadilan merupakan jalan menuju kebahagiaan bagi manusia yang beragama. Dalam hal ini, penyelarasan antara teks-teks keagamaan dan rasionalitas akal harus seimbang, artinya difungsikan kedua-duanya dalam mencapai keadilan. Hal tersebut tertera dalam pemikiran Aristoteles yakni berupa keadilan intelektual. Ia memberikan penjelasan bahwa dalam keadilan intelektual berisi rasional dan irasional yang diaplikasikan. Sehingga, bagi Aristoteles manusia yang memiliki kebahagiaan ialah manusia yang mengambil posisi atau jalan tengah dari 2 bagian yang berlawanan, dalam hal ini artinya bahwa sebagai manusia yang berakal dan beragama tidak boleh condong kepada salah satu intelektualitas saja, karena hal itu tidak menuju pada keadilan dan kebahagiaan.

Selain hal itu, Aristoteles juga memandang bahwa keadilan juga berbentuk praktik, artinya seseorang yang ingin mencapai kebahagiaan tidaknya bertempat pada keadilan intelektual saja, melainkan mengaplikasikan hal tersebut dalam berkehidupan. Bagi Aristoteles, aplikasi dari keadilan intelektual merupakan bentuk kebahagiaan. Namun, dalam hal ini Aristoteles menggaris bawahi bahwa aplikasi tersebut tidak hanya berupa pertimbangan semata, melainkan bentuk spontanitas atas kebiasaan dalam keadilan intelektual. Meskipun, terkadang ada beberapa perkara yang butuh akan keadilan intelektual.

Persinggungan antara Islam dan keadilan Aristoteles memiliki kesamaan yakni menuju pada kebahagiaan. Islam sebagai agama dengan karakternya yang khas dan isinya yang tidak bisa terlepas dari ilmu dan ajaran memiliki tujuan kedamaian, keadilan, keselamatan, dan kebahagiaan. Sehingga, ada kesesuaian antara pandangan keadilan Aristoteles dan Islam, yakni sama-sama menuju pada kebahagiaan dengan keadilan.

Selain itu, relasi antara Islam dan pandangan keadilan Aristoteles terdapat dalam perihal intelektualitas dan praktis. Dalam hal ini, Islam memberikan akal kepada manusia untuk berfikir dan tentunya dalam berfikir lazimnya seorang muslim memiliki pedoman berupa teks-teks suci. Dalam hal ini, Aristoteles membaginya dalam keadilan intelektualitas yang isinya berupa 2 kebijaksaan yakni teori dan rasio. Teori sebagai pedoman dan rasio sebagi proses penalaran untuk memahami.

Bukan itu saja, Aristoteles juga berpandangan bahwa seorang yang ingin bahagia harus adil dan oleh karena itu, ia harus mempraktikan apa yang ia peroleh, artinya seseorang yang sudah berada dalam keadilan intelektual dengan pemahaman atas isinya yakni berupa kebijaksaan harus mengaplikasikannya. Batas keadilan disini ialah, sampai manusia itu spontan dalam melakukan hal-hal baik tanpa perlu pertimbangan kembali. Meskipun terkadang terdapat perkara baru yang harus diselesaikan dengan proses nalar dan teori.

Sehingga, dapat dipahami bahwa Islam memiliki konsep yang sama dengan pandangan keadilan Aristoteles, yakni mendudukan akal dan teori sebagai sebuah fitrah untuk keadilan tanpa condong ke salah satunya dan kemudian mengaplikasikan atas apa yang diperoleh dengan pengambilan jalan tengah dari teori dan rasio.

Mahasiswa Pascasarjana Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Konsentrasi Filsafat Islam
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *