{"id":778,"date":"2025-10-06T09:14:44","date_gmt":"2025-10-06T02:14:44","guid":{"rendered":"https:\/\/studiagama.or.id\/?p=778"},"modified":"2025-10-06T11:03:13","modified_gmt":"2025-10-06T04:03:13","slug":"dari-bedah-buku-identitas-arab-itu-ilusi-sampai-praktik-riset-studi-agama-agama-berbasis-media-sosial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/studiagama.or.id\/id_id\/opini\/dari-bedah-buku-identitas-arab-itu-ilusi-sampai-praktik-riset-studi-agama-agama-berbasis-media-sosial\/","title":{"rendered":"Dari Bedah Buku \u201cIdentitas Arab Itu Ilusi\u201d Sampai Praktik Riset Studi Agama-Agama Berbasis Media Sosial"},"content":{"rendered":"<p>Haetami, M.Ag.<br \/>\n(Analis Media Sosial &amp; Aktif di Divisi Riset &amp; Penerbitan ASAI)<\/p>\n<p>Minggu terakhir di bulan September lalu saya mengisi salah satu program Bedah Buku yang diinisiasi Asosiasi Studi Agama Indonesia. Program ini merupakan wadah bagi teman-teman ASAI untuk mengobrolkan hasil bacaan buku, baik itu buku lawas maupun buku terbitan mutaakhirin. Dalam obrolan yang berlangsung selama satu jam penuh tersebut, saya membedah buku \u201cIdentitas Arab Itu Ilusi\u201d karya Musa Kazhim, yang merupakan salah satu buku cukup menarik. Ada dua alasan penting kenapa buku tersebut menarik dibedah dalam konteks Studi Agama-Agama.<br \/>\nPertama, kehadiran buku tersebut sebagai respon dari fenomena kritik kehabiban yang membanjiri media sosial akhir-akhir ini. Tidak hanya di media sosial, kritik juga muncul dalam lingkup yang lebih nyata. Sekat antara pribumi dan golongan Arab diciptakan, bahkan dibenturkan oleh sebagian tokoh agamawan. Tidak cukup di situ, sebagian kelompok terprovokasi dengan membuat front ulama tandingan yang sifatnya pribumi sentris.<img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-779 alignleft\" src=\"https:\/\/studiagama.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/WhatsApp-Image-2025-10-03-at-10.12.55-300x140.jpeg\" alt=\"\" width=\"600\" height=\"280\" srcset=\"https:\/\/studiagama.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/WhatsApp-Image-2025-10-03-at-10.12.55-300x140.jpeg 300w, https:\/\/studiagama.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/WhatsApp-Image-2025-10-03-at-10.12.55-768x358.jpeg 768w, https:\/\/studiagama.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/WhatsApp-Image-2025-10-03-at-10.12.55-18x8.jpeg 18w, https:\/\/studiagama.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/WhatsApp-Image-2025-10-03-at-10.12.55.jpeg 989w\" sizes=\"auto, (max-width: 600px) 100vw, 600px\" \/><br \/>\nBuku \u201cidentitas Arab Itu Ilusi\u201d menyoroti polemik seputar kehabiban di Indonesia yang tidak hanya berhenti pada perdebatan soal silsilah atau garis keturunan, melainkan menyentuh ranah yang lebih dalam: identitas, legitimasi, dan bahkan arah kebudayaan Islam di Nusantara. Buku ini hadir sebagai refleksi ilmiah dan kultural untuk membongkar lapisan-lapisan ilusi yang selama ini menutupi realitas identitas Arab\u2013Habib di Indonesia.<br \/>\nPengalaman personal Musa Kazhim sebagai penulis buku yang lahir di Jember tanpa kampung Arab, lalu tumbuh di Bangil yang kental dengan perkampungan Arab, menjadi pintu masuk untuk memahami betapa cair, rumit, dan sering kali kontradiktifnya identitas &#8220;Arab&#8221;. Sejak kecil Kazhim merasakan langsung bagaimana label &#8220;Arab&#8221; bisa jadi ejekan, kebanggaan, sekaligus bisa jadi alat politik. Identitas ini tidak sederhana, melainkan penuh paradoks, persis seperti ilusi warna kulit yang tampak nyata padahal hanyalah bayangan.<br \/>\nDalam obrolan bedah buku yang cair selama satu jam, penulis menyoroti pandangan Kazhim bahwa fenomena meng-Arabkan dan meng-Habibkan keturunan Yaman merupakan konstruksi baru, yang dalam sejarah tidak dikenal pada masa awal Islamisasi Nusantara. Walisongo, misalnya, datang dari Hadramaut tapi melebur sepenuhnya dalam budaya lokal.<!--more--><br \/>\nMaka, membedah buku ini bukan sekadar mengikuti arus kontroversi. Ia adalah usaha untuk memahami kembali akar identitas, relasi kuasa, dan proses kultural yang membentuk masyarakat Muslim Indonesia umumnya dan kelompok Habib secara khusus.<br \/>\nKedua, selain relevan untuk memahami dinamika identitas, buku ini juga penting jika dilihat dari perspektif metodologis dalam studi agama-agama. Di sinilah peran algoritma media sosial menjadi signifikan. Dalam konteks studi agama-agama, fenomena kehabiban tentu menjadi ladang riset yang melimpah dengan bantuan algoritma yang berperan penting untuk memulai sebuah riset. Dengan demikian, perkembangan media sosial bisa membantu kita dalam menghadirkan ruang baru dalam riset studi agama-agama. Interaksi keagamaan kini tidak hanya berlangsung secara fisik, tetapi juga di ruang digital yang ditopang algoritma.<br \/>\nMedia sosial menyimpan jejak digital berupa traffic isu, pola percakapan, dan narasi keagamaan yang berkembang secara dinamis, sehingga dapat dijadikan data riset dalam memahami bagaimana agama dipraktikkan, diperdebatkan, dan dipersepsikan di ranah publik. Melalui pendekatan berbasis data media sosial, penelitian ini menekankan pentingnya membaca algoritma yang memengaruhi visibilitas konten, sekaligus menganalisis dinamika diskusi antar pengguna yang kerap melibatkan identitas, otoritas, serta otentisitas keagamaan.<\/p>\n<p>Dengan demikian, media sosial bukan sekadar medium komunikasi, melainkan juga arena epistemik yang mereproduksi wacana agama dan memengaruhi persepsi publik. Riset berbasis data media sosial memungkinkan studi agama-agama membaca fenomena ini dengan lebih tajam. Data percakapan, pola interaksi, hingga dinamika diskusi yang terekam di ruang digital dapat diolah menjadi sumber analisis tentang bagaimana agama dipersepsikan, dipraktikkan, dan dinegosiasikan. Dengan pendekatan ini, studi agama-agama tidak hanya terikat pada metode klasik berbasis teks dan observasi lapangan, tetapi juga membuka diri pada metode digital humanities yang mampu menangkap kompleksitas era media sosial.<br \/>\nNamun, penelitian mengenai agama di media sosial tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tantangan pertama adalah sifat algoritma yang tidak sepenuhnya objektif dalam merepresentasikan isu agama, sehingga membutuhkan ketelitian dan kesabaran dalam pengolahannya. Tantangan lainnya adalah dinamika diskusi dan distribusi isu agama yang berlangsung sangat cepat, sehingga peneliti perlu kemampuan khusus untuk memetakan isu sesuai kebutuhan<br \/>\nPada akhirnya, membedah buku \u201cIdentitas Arab Itu Ilusi\u201d sekaligus memanfaatkan media sosial sebagai laboratorium riset agama bukanlah sekadar mengikuti isu sesaat, melainkan membuka jalan baru bagi pegiat studi agama-agama di Indonesia: lebih kritis, kontekstual, dan peka terhadap dinamika zaman digital.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Haetami, M.Ag. (Analis Media Sosial &amp; Aktif di Divisi Riset &amp; Penerbitan ASAI) Minggu terakhir di bulan September lalu saya mengisi salah satu program Bedah Buku yang diinisiasi Asosiasi Studi Agama Indonesia. Program ini merupakan wadah bagi teman-teman ASAI untuk mengobrolkan hasil bacaan buku, baik itu buku lawas maupun buku terbitan mutaakhirin. Dalam obrolan yang &hellip; <a href=\"https:\/\/studiagama.or.id\/id_id\/opini\/dari-bedah-buku-identitas-arab-itu-ilusi-sampai-praktik-riset-studi-agama-agama-berbasis-media-sosial\/\" class=\"more-link\">Continue reading <span class=\"screen-reader-text\">Dari Bedah Buku \u201cIdentitas Arab Itu Ilusi\u201d Sampai Praktik Riset Studi Agama-Agama Berbasis Media Sosial<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[18],"tags":[10,162,17],"class_list":["post-778","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-opini","tag-asai","tag-bedah-buku","tag-studi-agama"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/studiagama.or.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/778","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/studiagama.or.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/studiagama.or.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/studiagama.or.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/studiagama.or.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=778"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/studiagama.or.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/778\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":783,"href":"https:\/\/studiagama.or.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/778\/revisions\/783"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/studiagama.or.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=778"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/studiagama.or.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=778"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/studiagama.or.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=778"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}