{"id":508,"date":"2021-03-08T20:22:20","date_gmt":"2021-03-08T13:22:20","guid":{"rendered":"https:\/\/studiagama.or.id\/?p=508"},"modified":"2021-03-08T20:29:17","modified_gmt":"2021-03-08T13:29:17","slug":"agama-adalah-tradisi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/studiagama.or.id\/id_id\/opini\/agama-adalah-tradisi\/","title":{"rendered":"Agama Adalah Tradisi"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: Prof. Dr. Media Zainul Bahri<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-509 alignleft\" src=\"https:\/\/studiagama.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/WhatsApp-Image-2021-03-08-at-19.13.00-300x300.jpeg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/studiagama.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/WhatsApp-Image-2021-03-08-at-19.13.00-300x300.jpeg 300w, https:\/\/studiagama.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/WhatsApp-Image-2021-03-08-at-19.13.00-1024x1024.jpeg 1024w, https:\/\/studiagama.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/WhatsApp-Image-2021-03-08-at-19.13.00-150x150.jpeg 150w, https:\/\/studiagama.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/WhatsApp-Image-2021-03-08-at-19.13.00-768x768.jpeg 768w, https:\/\/studiagama.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/WhatsApp-Image-2021-03-08-at-19.13.00.jpeg 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/>AGAMA ADALAH TRADISI, dalam arti sesuatu yang diyakini, dipahami dan dipraktikkan oleh manusia. Kita tidak bisa memverifikasi, apakah malaikat atau Tuhan mempraktikkan agama? Kita membaca dari \u201cteks\u201d bahwa malaikat atau jin misalnya melakukan ibadah, tapi hal itu tak pernah terlihat kasat mata dan tidak bisa diamati (<em>unobservable<\/em>). Hanya manusia, dengan segala kompleksitasnya, yang terlihat jelas meyakini, memahami dan mempraktikkan agama, selama berabad-abad, dari generasi ke generasi. Itulah yang kita sebut sebagai \u201ctradisi\u201d, atau \u201ctradisi keagamaan\u201d (<em>religious tradition<\/em>).<\/p>\n<p>Tradisi itu terbentuk, dan semakin lama semakin berkembang secara kompleks, sebagai hasil dari hubungan erat antara teks keagamaan yang dipahami dengan konteks kultural (budaya, ekonomi dan politik) dan relasi sosial di antara orang-orang beragama itu sendiri atau antara orang beragama dengan orang-orang yang tidak beragama.<\/p>\n<p>Jika para ilmuwan Eropa sejak masa modern, terutama di abad 19 Masehi, menyebut agama\u2014bersama-sama dengan institusi pendidikan, birokrasi, negara, pariwisata, ekonomi dan lain-lain&#8211; sebagai \u201cpenemuan manusia\u201d, saya lebih suka menyebut agama sebagai tradisi. Agama-agama yang hidup (<em>living religions<\/em>), yang awal kemunculannya banyak meminjam \u201ctradisi lokal\u201d di tempat agama itu lahir, kini ikut mengembangkan tradisi umat manusia.<!--more--><\/p>\n<p>Kehidupan sosial, politik, ekonomi, sains, dan ilmu pengetahuan saat ini, sedikit atau banyak, telah diperkaya oleh tradisi keagamaan. Tidak sedikit \u2018terminologi agama\u2019 yang kemudian masuk dan diterima oleh aspek-aspek kehidupan manusia yang sebenarnya sekular. Tetapi jangan lupa, apa yang disebut \u201ctradisi agama\u201d\u2014seperti telah disebut di atas\u2014adalah juga hasil \u201chibrida\u201d dari semua pergumulan kebudayaan dan penemuan manusia. Tidak ada tradisi agama yang muncul dari \u201clangit\u201d an sich atau dari \u2018diri agama sendiri\u2019 (<em>internal<\/em>) tanpa bersentuhan dengan faktor eksternal.<\/p>\n<p>Meski demikian, jika Seyyed Hossein Nasr pernah menyebut istilah <em>\u2018scientia sacra\u2019<\/em>alias pengetahuan suci untuk jenis pengetahuan mistik atau pengetahuan esoterik, maka bolehlah kita sebut bahwa dalam tradisi agama juga ada \u201ctradisi suci\u201d, meskipun istilah \u201csuci\u201d\u2014lagi-lagi\u2014adalah hasil pemahaman dan penghayatan manusia.<\/p>\n<p>Mungkin, ada aspek yang sangat duniawi dalam tradisi agama, terutama di era ketika materi dianggap sebagai \u2018prestasi eksistensi manusia\u2019. Misalnya ada istilah \u201ckomodifikasi agama\u201d untuk menunjuk pada kegiatan \u2018mendagangkan agama\u2019 atau mendagangkan material yang lekat simbol-simbol agama. Ada juga \u2018politisasi agama\u2019 yang merujuk kepada serangkaian kegiatan politik praktis demi mendapatkan kekuasaan politik dengan cara membawa atau memanfaatkan simbol-simbol dan sentimen agama.<\/p>\n<p>Tetapi, tidak bisa dinafikan ada \u201ctradisi suci agama\u201d, yakni tidak semata pemahaman dan keyakinan yang bening tentang kesucian agama, yang diyakini sebagai watak dasar agama, melainkan juga <em>pertama<\/em>: praktik-praktik, yang diyakini oleh pengamalnya, sebagai praktik yang sublim, yang sakral, hubungan intim dengan Yang Ilahi, atau bentuk kepasrahan total kepada Yang Maha Kuasa tanpa ada lagi pamrih material-duniawi.<\/p>\n<p><em>Kedua,<\/em>ada benda-benda material yang dianggap suci karena Yang Ilahi bersemayam di situ. Misalnya Al-Qur\u2019an. Meskipun kertas dan proses pencetakannya adalah kreasi manusia, tetapi siapa Muslim yang berani, maaf, menginjak mushaf Al-Qur\u2019an? Bahkan cara meletakannya juga harus ditempat yang tinggi, bersih dan terhormat. Juga dengan Ka\u2019bah atau makam para Wali (orang-orang suci). Meskipun benda materialnya terbuat dari materi yang sama dengan benda-benda yang lain, tetapi siapa Muslim yang berani \u2018melecehkan\u2019 bangunan Ka\u2019bah dan nisan para Wali? Inilah contoh sederhana dari apa yang kita sebut sebagai \u201cbudaya suci\u201d atau \u201ctradisi suci agama\u201d. Ada meaning dalam tradisi itu yang tidak bisa dimaterialisasi atau tidak sebanding dengan kepuasan bentuk fisikal-materi.<\/p>\n<p>Dalam karya terbarunya, <em>Bergesernya Pemahaman Agama, Dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama<\/em>(2021), Denny JA membuat satu bab khusus, yakni pada Bab 2, tentang agama sebagai tradisi kultural hasil pergulatan manusia, terutama tokoh-tokohnya: para nabi, orang-orang suci dan cerdik cendekia. Pada Bab itu Denny JA menyuguhkan satu realitas, katakanlah, realitas ilmu pengetahuan yang saintifik, dengan pergulatan iman agama.<\/p>\n<p>Denny JA, sebagai intelektual Muslim, yang mengenyam Pendidikan Master dan Doktor di Amerika selama tujuh tahun, dan karena itu ia percaya dengan validitas ilmu pengetahuan yang positivistik, sulit menolak temuan para ilmuwan, katakanlah para arkeolog, yang sudah bekerja dengan perangkat metodologis yang amat sangat bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, yang menyimpulkan bahwa tidak ada rute yang dilewati oleh Nabi Musa dan kaumnya \u201cmembelah\u201d laut Merah. Bahkan secara ekstrem, kata Denny JA, para arkeolog juga berkesimpulan bahwa Musa bukanlah figur historis. Ia hanya tokoh yang tercatat dalam kitab suci sebagai kisah untuk pengajaran moral saja. Kisah eksodus Musa tidak pernah terjadi. Data sejarah dan riset arkeologi tidak mendukung keberadaan kisah eksodus dan Nabi Musa (hal. 34).<\/p>\n<p>Tetapi, apakah penemuan ilmiah akan menghancurkan agama? Denny JA menjawab sendiri pertanyaan itu secara \u2018negatif\u2019. Menurutnya, agama memiliki seribu nyawa. Ia tidak bisa dibunuh oleh temuan ilmiah sehebat apa pun. Keyakinan agama bagi pemeluk setianya, kata Denny, tidak dibangun oleh fondasi kebenaran sejarah. Keyakinan agama adalah lompatan iman ke alam metafisika. Ilmu pengetahuan tak pernah sampai ke sana. Alam metafisika tidak dapat difalsifikasi (hal. 37-38).<\/p>\n<p>Di Mekkah dan di depan Ka\u2019bah, nalar intelektual dan kehangatan spiritual Denny JA bergolak: \u201cApakah Safa dan Marwah itu asalnya di Mekkah atau di Petra? Apakah Gua Hira tempat Nabi Muhammad menyepi itu benar-benar di Mekkah atau yang benar adalah di Petra seperti temuan <em>The Revisionist School of Islamic Studies<\/em>? Dalam keagungan kota suci itu, Denny berdzikir <em>La Ilaha Illa Allah<\/em>, air matanya menetes, rasa hening bertahta. \u201cTemuan-temuan ilmiah itu ternyata tak mengganggu keharuan saya\u201d, kata Denny. \u201cMungkin karena saya sudah memisahkan antara pengalaman spiritual dan penemuan ilmiah\u201d, Denny mengakhiri (hal. 66-67).<\/p>\n<p>Pengakuan Denny JA inilah yang telah saya sebut sebagai \u201ctradisi suci agama\u201d, baik dalam pengertiannya yang abstrak sebagai ide, pemahaman dan keyakinan, maupun ia berbentuk benda-benda material yang kemudian \u201cdisakralkan\u201d. Tradisi suci agama ini akan terus bertahan sepanjang umur umat manusia, meskipun ditemukan ilmu pengetahuan dan teknologi yang paling canggih. Bahkan, justru semakin canggih ilmu pengetahuan dan teknologi, biasanya dibarengi dengan konsekwensi yang menyertainya, misalnya model-model penyakit, wabah, atau virus yang mengancam manusia, atau kerusakan akibat teknologi, yang semakin membuat manusia ketakutan dan merasa tidak pasti akan nasibnya dalam hidup ini. Dalam keadaan itulah manusia akan \u201clari\u201d menuju tradisi keagamaan yang mereka anggap bisa menentramkan dan memberi kepastian.<\/p>\n<p>Di bulan-bulan pertama ketika tinggal di Jerman dulu, saya punya teman orang Spanyol. Ketika membicarakan agamanya, ia menjawab dengan penuh percaya diri, \u201cI am Catholic, Media, but I don\u2019t believe in God\u201d. Pada bulan dan tahun berikutnya saya menemukan teman-teman muda Jerman mengatakan yang sama, terutama menjelang Natal. Mereka akan \u201cpulang kampung\u201d ke desa-desa atau kota kecil di Jerman Selatan atau Timur untuk berkumpul dengan keluarga merayakan Natal, meskipun sebagian besar anak-anak muda itu sudah tidak percaya lagi kepada Tuhan dan agama. Saat itu, saya berpikir tidak mungkin hal itu terjadi di Indonesia. Rasanya tidak mungkin kita akan mendengar, \u201cSaya Muslim Indonesia, tapi sudah tidak percaya lagi kepada Tuhan\u201d. Ternyata riset-riset terbaru menunjukkan berbeda dari pikiran saya. Secara diam-diam, sudah banyak anak-anak muda Indonesia terpelajar, terutama yang tinggal di kota-kota besar, sudah tidak percaya lagi kepada agama atau Tuhan. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini yang membutuhkan satu pembahasan khusus.<\/p>\n<p>Denny membuat eksplisit apa yang saya alami di atas. <em>Pertama,<\/em>pada sebagian masyarakat post-modern, kata Denny, mereka merayakan hari-hari besar keagamaan sebagai pengalaman kultural belaka. Mungkin mereka sudah tidak percaya lagi dengan kehangatan agama dan Tuhan. Tapi tradisi-tradisi agama adalah memori kolektif mereka dan praktik yang tidak mungkin mereka lepaskan. Sudah menjadi bagian dari kekayaan tradisi mereka. <em>Kedua,<\/em>kata Denny, mereka tetap memandang pentingnya komunitas, kebersamaan, persahabatan dan perayaan. Indonesia adalah negeri yang sangat subur dengan agama dan keyakinan dan karenanya memiliki ratusan tradisi keagamaan. Kekayaan dan kebhinekaan tradisi kultural keagamaan itu, tidak semata bisa menjadi perekat relasi sosial masyarakat Indonesia, tetapi juga dapat memperkokoh kehidupan demokrasi kita.<\/p>\n<p>Buku Denny JA ini, tidak semata sebuah pengakuan jujur antara pergulatan penemuan ilmu pengetahuan tentang agama dengan \u201ckehangatan iman\u201d, dan tidak semata kaya dengan data-data mutakhir tentang topik itu, tetapi juga mengajak orang-orang beriman (<em>believers<\/em>) untuk menerima kenyataan akan orang-orang terpelajar yang memiliki pandangan yang mungkin benar-benar berbeda dengan mereka, meski tetap punya kesamaan bahwa agama adalah \u201ckekayaan kultural milik bersama\u201d untuk dibagi (<em>shared<\/em>) dan dinikmati. Buku ini wajib dibaca siapa pun!<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Prof. Dr. Media Zainul Bahri,<\/strong>Gurubesar Pemikiran Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Alumni Alexander von Humboldt Stiftung pada Universitas K\u00f6ln, Jerman (2012-2014).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Prof. Dr. Media Zainul Bahri AGAMA ADALAH TRADISI, dalam arti sesuatu yang diyakini, dipahami dan dipraktikkan oleh manusia. Kita tidak bisa memverifikasi, apakah malaikat atau Tuhan mempraktikkan agama? Kita membaca dari \u201cteks\u201d bahwa malaikat atau jin misalnya melakukan ibadah, tapi hal itu tak pernah terlihat kasat mata dan tidak bisa diamati (unobservable). Hanya manusia, &hellip; <a href=\"https:\/\/studiagama.or.id\/id_id\/opini\/agama-adalah-tradisi\/\" class=\"more-link\">Continue reading <span class=\"screen-reader-text\">Agama Adalah Tradisi<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[18],"tags":[59,62,61,60],"class_list":["post-508","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-opini","tag-agama","tag-living-religions","tag-religious-tradition","tag-tradisi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/studiagama.or.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/508","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/studiagama.or.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/studiagama.or.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/studiagama.or.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/studiagama.or.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=508"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/studiagama.or.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/508\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":510,"href":"https:\/\/studiagama.or.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/508\/revisions\/510"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/studiagama.or.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=508"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/studiagama.or.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=508"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/studiagama.or.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=508"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}