Mengartikulasikan Kembali Riset SAA: Catatan Raker ASAI 2019-2024

Oleh: Muryana

Raker Pengurus ASAI tetap dilaksanakan meskipun masih dalam suasana pandemi Covid-19. Raker dilaksanakan secara online, dibagi dlam beberapa seri pleno, devisi, dan pleno lagi mulai tanggal 5 sampai dengan 25 Agustus 2020. Ada beberapa rumusan tentang Studi Agama-Agama dilahirkan dari acara ini. Riset merupakan salah satu agenda yang terus-menerus dibicarakan dalam setiap diskusi.

Pandemi COVID-19 yang tak kunjung usai merupakan tantangan masyarakat dunia saat ini. Ada banyak dampak yang ditimbulkan. Salah satunya adalah agenda RAKER Pengurus ASAI 2019-2024 yang telah disepakati dan disiapkan untuk tanggal 23-24 Maret 2020, harus diundur dalam waktu yang tak ditentukan. Akhirnya pengurus harian mengusulkan untuk diselenggarakan RAKER secara online, menggunakan platform yang biasa digunakan untuk rapat daring. Usulan itu pun disepakati untuk dilaksanakan oleh seluruh pengurus periode 2019-2024.


RAKER dilaksanakan melalui media zoom. Awalnya RAKER dijadwalkan pada tanggal 5 Agustus 2020 pukul 19:00-22:00. Akan tetapi dengan pertimbangan waktu yang berbeda antara Timur, Tengah dan Barat Indonesia, akhirnya disepakati pelaksanaan RAKER hanya selama 2 jam dari pukul 19:00 WIB. Meskipun senyatanya, RAKER berlangsung hingga pukul 22:00 WIB. RAKER ini menyepakati untuk melaksanakan Rapat Pleno pada tanggal 19 Agustus 2020 berdasarkan hasil rapat per divisi. Rapat per divisi dilakukan dalam waktu antara. Meskipun kemudian, pelaksanaan Rapat Pleno diundur pada tanggal 25 Agustus 2020 untuk memantapkan hasil program kerja per divisi sebelum diplenokan.

Ismatu Ropi, Ph.D., dari SAA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, adalah pembicara dalam RAKER 5 Agustus 2020. “Merawat Studi Agama-Agama sama dengan merawat akal sehat”, tegas beliau. Pernyataan tersebut berangkat dari pemosisian ASAI sebagai lembaga profesi dan Intermediary organization yang akan mengembangkan kurikulum Studi Agama-Agama di Indonesia. Nah, titik berangkat tersebutlah yang melahirkan kembali pertanyaan bagaimanakah Studi Agama-Agama selama ini mengartikulasi hasil risetnya? Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya pun berkembang, seperti bagaimana model studi agama-agama di Indonesia? Bagaimana agar setiap Studi Agama-Agama di Indonesia mempunyai karakteristiknya masing-masing? Bagaimana agar Studi Agama-Agama tidak lagi terlalu historis dalam studinya? Begitu pun pertanyaan yang diajukan oleh Dr. Roro Sri Rejeki Waluyojati, dari SAA UIN Sunan Gunung Djati Bandung, “Bagaimana prototype mahasiswa SAA?” Menanggapi pembicara, Dr. Ustadi Hamzah, dari SAA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, menjelaskan bahwa ada level studi yang berbeda antara S1 dan S2. Kemudian, Samsul Maarif, Ph.D., dari CRCS UGM Yogyakarta, mengusulkan jurnal sebagai simpul pengembangan pengetahuan dalam proses mengajar dan diskusi. Konferensi dan Kajian Tematik tentang Studi Agama-Agama signifikan dilakukan kemudian.

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam RAKER di atas, ditindaklanjuti dalam Rapat masing-masing Departemen ASAI antara tanggal 5-25 Agustus 2020. Berdasarkan program kerja yang dirumuskan dan disampaikan oleh masing-masing Departemen, menunjukkan adanya irisan-irisan. Pada tanggal 25 Agustus 2020 Rapat Pleno ASAI menyepakati untuk merumuskan kembali program-program tersebut menjadi progam kerja pengurus ASAI periode 2019-2020 ini. Program kerja tersebut akan disusun berdasarkan usulan-usulan terkait tentang Branding Studi Agama-Agama, Pembinaan Anggota, Kerjasama Luar Negeri, Perpustakaan Digital (Digital Library) untuk Anggota ASAI, Implementasi Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar dalam Studi Agama-Agama, Pembiayaan Kegiatan ASAI, Riset Kolaboratif dan Nilai-nilai Studi Agama. Usulan-usulan tersebut disampaikan oleh Ahmad Muttaqin, Ph.D. (Ketua Umum ASAI), Dr. Sekar Ayu Aryani (Dewan Pakar ASAI) dan Samsul Maarif, Ph.D. (Koordinator Departeman Advokasi dan Hukum ASAI). Ditambah lagi dengan pertanyaan Prof. Alef Theria Wasyim tentang nilai-nilai studi agama yang belum terwujud: studying to religions atau studying into religions atau studying of religions atau studying from religions, atau studying about religions. Riset pun menjadi agenda yang signifikan dilakukan sebagai pondasi program kerja periode ini. Meskipun, masih ada pertanyaan, apakah riset itu diposisikan secara terpisah dan berarti hanya departemen riset dan pengembangan saja yang dapat melakukannya. Atau, riset itu integratif dan sebagai laku, berarti riset menjadi dasar kerja dari setiap program yang digulirkan.

RAKER dan Rapat Pleno ASAI periode 2019-2024 selesai dan berhasil diikuti oleh 50 persen pengurusnya. Ada 32 orang pengurus yang hadir dan berpartisipasi pada RAKER 5 Agustus 2020. Ada 27 orang pengurus yang secara hikmat menyampaikan dan menyepakati program kerja per divisi yang disampaikan dalam Rapat Pleno 25 Agustus 2020. [MT]

One thought on “Mengartikulasikan Kembali Riset SAA: Catatan Raker ASAI 2019-2024

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *