Dr. Samsul Hidayat : Merekatkan Kerukunan Antar Agama Melalui Diplomasi Kuliner

Toleransi, suatu sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau antarindividu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Sikap toleransi dapat menghindari terjadinya diskriminasi, walaupun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat. Salah satu upaya dapat terbentuknya sikap toleransi bisa dengan Dialog Lintas Agama.
Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kalimantan Barat, dalam hal ini menggelar Dialog Lintas Agama yang dilaksanakan Rabu 04 Maret 2020. Salah seorang narasumber dialog lintas agama di Kalimantan Barat Dr Samsul Hidayat, MA yang merupakan Dekan Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Dosen Prodi Perbandingan Agama IAIN Pontianak sekaligus Ketua Komisi Hubungan Antar Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia Kalimantan Barat, menyampaikan materi mengenai upaya membangun kerukunan antar umat beragama melalui kearifan lokal.
Berdasarkan data statistik penduduk, mayoritas masyarakat Kalimantan Barat menganut agama Islam (55.68%). Di daerah pedalaman yang didiami Suku Dayak mayoritas penduduknya beragama Kristen (Katolik/Protestan) seperti di Kabupaten Bengkayang, Landak, Sanggau, Sintang dan Sekadau. Orang Tionghoa di Kalimantan Barat kebanyakan menganut agama Buddha dan Kristen (Katolik/Protestan). Di wilayah yang banyak terdapat etnis Tionghoa seperti Kota Singkawang dan Pontianak juga terdapat penganut Buddha dalam jumlah cukup besar. Dalam hal ini sikap toleransi perlu ditingkatkan untuk merekatkan hubungan antar agama.

Dr. Samsul Hidayat, MA
Dr. Samsul Hidayat, MA

Menurut Dr Samsul Hidayat, MA, ada salah satu elemen perekat masyarakat dalam hubungannya sebagai perekat hubungan dan toleransi antara umat beragama yakni melalui diplomasi kuliner. Diplomasi kuliner dapat membentuk toleransi dan harmoni dalam pertukaran budaya dan bisnis dan dibentuk secara alamiah dalam kehidupan masyarakat khususnya di Kalimantan Barat.
Samsul Hidayat menegaskan bahwa diplomasi kuliner ini adalah upaya memperkuat dialog terlibat yang melibatkan antar umat beragama berbasis kearifan lokal. Salah satunya adalah melalui industri makanan halal. Salah satu potensi yang dapat dijadikan contoh adalah Kota Singkawang dengan multi etnis dan agama. Sehingga Singkawang dinobatkan sebagai kota Toleransi. Oleh karena itu melalui diplomasi kuliner sebagai penanda masing-masing etnis diharapkan mampu membangun dialog antar etnis dan umat beragama di Kalimantan Barat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *